Sejarah Awal Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di Nusantara

AKURAT.CO Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw telah menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan masyarakat Muslim di Nusantara.
Setiap kali bulan Rabiulawal tiba, berbagai daerah di Indonesia merayakannya dengan cara khas: mulai dari pembacaan shalawat, pengajian, arak-arakan, hingga penyajian makanan tradisional. Namun, pertanyaannya, sejak kapan perayaan Maulid Nabi dikenal di bumi Nusantara?
Sejarah mencatat bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali masuk ke wilayah kepulauan Nusantara pada masa awal kedatangan Islam.
Tradisi ini diyakini dibawa oleh para ulama dan dai dari Timur Tengah, khususnya para ulama keturunan Hadramaut, Yaman, serta para pedagang Muslim yang datang ke pesisir Jawa, Sumatra, dan Maluku sejak abad ke-13.
Perayaan Maulid pada mulanya merupakan sarana dakwah yang efektif, sebab masyarakat pribumi tertarik dengan syair, doa, dan tradisi berkumpul dalam suasana meriah.
Baca Juga: Akidah Islam: Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Islam
Salah satu tokoh penting yang mengembangkan tradisi Maulid di Jawa adalah Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo.
Beliau menjadikan peringatan Maulid sebagai media dakwah kultural, yakni menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam seni dan budaya masyarakat lokal.
Misalnya, acara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta berawal dari tradisi perayaan Maulid Nabi yang kemudian dibungkus dengan nuansa budaya Jawa. Dengan cara ini, ajaran Islam bisa diterima secara lebih damai dan harmonis.
Selain di Jawa, tradisi Maulid juga berkembang di daerah lain. Di Banten dan Cirebon, perayaan Maulid menjadi momentum berkumpulnya masyarakat sekaligus ajang silaturahmi.
Di Aceh, tradisi ini dikenal dengan nama Khanduri Maulid, yakni kenduri atau jamuan besar yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Sementara di Bugis-Makassar, perayaan Maulid diwarnai dengan pembacaan syair Barzanji dan makanan khas seperti songkolo atau nasi ketan.
Fungsi sosial perayaan Maulid di Nusantara bukan hanya sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ikatan sosial.
Gotong royong dalam mempersiapkan acara, jamuan makanan, hingga doa bersama menjadi media persatuan yang mempererat hubungan antarwarga.
Dari sisi sejarah, tradisi ini menunjukkan betapa Islam di Nusantara berkembang melalui jalur budaya. Para ulama tidak serta-merta memaksakan doktrin, tetapi membaurkannya dengan kearifan lokal.
Maka, perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di Nusantara adalah bukti nyata akulturasi antara Islam dengan budaya lokal yang memperkaya khazanah keislaman bangsa Indonesia.
Baca Juga: Begini Tradisi Orang Arab Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Hingga kini, perayaan Maulid terus bertahan, bahkan menjadi salah satu identitas keislaman yang khas di Indonesia.
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, Maulid di Nusantara adalah simbol cinta kepada Rasulullah Saw sekaligus bukti bahwa Islam mampu tumbuh dalam suasana damai, ramah, dan penuh kebersamaan.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









