KH Imam Jazuli: NU Bisa Jadi Corong Zionisme jika Rais Aam Tak Mundur

AKURAT.CO Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., MA, menilai Nahdlatul Ulama (NU) tengah menghadapi ancaman serius akibat rangkap jabatan dan kedekatan sejumlah pengurus dengan lembaga internasional Center for Shared Civilizational Values (CSCV). Menurutnya, situasi ini berpotensi menyeret NU pada kepentingan zionisme.
“CSCV menjadi pintu masuk ideologi zionisme ke tubuh NU. Kehadiran tokoh asing seperti Dr. Peter Berkowitz di Akademi Kepemimpinan Nasional NU seharusnya sudah cukup menjadi alarm,” ujar Imam Jazuli, Senin (8/9/2025) dalam pernyataan yang diunggah Hariandisway.
Ia menyoroti peran ganda Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, yang juga menjabat Presiden CSCV. “Membuat nota kesepahaman antara PBNU dan CSCV semudah membalik telapak tangan. Ini yang membahayakan,” katanya.
Baca Juga: Soal Kecerobohan PBNU Undang Tokoh Yahudi Peter Berkowicz, Netizen: Ceroboh Kok Rutin Sejak 2017!
Lebih lanjut, Imam Jazuli menyebut kelemahan terbesar justru berada di posisi Rais Aam, KH Miftachul Akhyar. Menurutnya, Rais Aam terlalu membiarkan manuver politik pragmatis di tubuh NU hingga muncul kritik publik.
“Kalau bukan karena desakan publik, mungkin restu Rais Aam akan terus berlanjut. NU akan terus dicemari oleh CSCV,” tegasnya.
Imam Jazuli menyebut langkah penghentian sementara kerja sama PBNU dengan CSCV hanya solusi jangka pendek. Solusi jangka panjang, kata dia, adalah menutup total pintu kerjasama dengan CSCV sekaligus meminta dua figur besar, Yahya Staquf dan Miftachul Akhyar, mundur dari kepemimpinan.
“Selama dua tokoh ini masih memegang simpul kuasa, citra NU sulit dipulihkan. Bahkan potensi masuknya zionisme sulit dibendung,” ujarnya.
Baca Juga: Perang Iran-Israel: PBNU tak Tegaskan Iran untuk Terus Perangi Israel, Kenapa?
Ia menambahkan, pengunduran diri Rais Aam memang belum pernah terjadi dalam sejarah NU. Namun, menurutnya, itu lebih ringan ketimbang membiarkan NU menjadi corong kepentingan asing.
“Dalam kaidah fikih ada prinsip, kalau bertemu dua keburukan maka pilihlah yang paling ringan mudharatnya. Lebih baik Rais Aam mundur daripada NU kehilangan marwahnya,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







