Akurat
Pemprov Sumsel

5 Fakta tentang Fenomena Gerhana Matahari Menurut Sumber Islam Nusantara

Fajar Rizky Ramadhan | 22 September 2025, 07:00 WIB
5 Fakta tentang Fenomena Gerhana Matahari Menurut Sumber Islam Nusantara

AKURAT.CO Gerhana matahari selalu menjadi fenomena yang memancing rasa takjub sekaligus cemas dalam kehidupan masyarakat. Secara ilmiah, gerhana terjadi ketika bulan berada di antara bumi dan matahari sehingga cahaya matahari terhalang.

Akan tetapi, dalam tradisi keislaman—termasuk di Nusantara—gerhana tidak hanya dipandang sebagai peristiwa astronomi, melainkan juga sebagai tanda kebesaran Allah SWT yang mendorong manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Tradisi Islam Nusantara, dengan karakter khasnya yang memadukan teks normatif Islam (al-Qur’an, hadis, fikih klasik) dengan kearifan lokal, menghadirkan pemahaman yang kaya tentang fenomena ini. Berikut adalah lima fakta tentang gerhana matahari menurut sumber Islam Nusantara:

1. Gerhana Dipandang sebagai Āyātullāh (Tanda Kekuasaan Allah)

Dalam al-Qur’an, matahari dan bulan disebut sebagai bagian dari sistem kosmik yang tunduk kepada hukum Allah (QS. Yāsīn [36]: 38–40). Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam hadis sahih:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Baca Juga: 5 Mitos Terkait dengan Fenomena Gerhana Matahari, Nomor 3 Banyak Orang Percaya!

Di Nusantara, tafsir ulama pesantren—seperti yang termaktub dalam karya-karya tafsir lokal berbahasa Jawa dan Melayu—menekankan bahwa gerhana adalah tadzkiroh (peringatan) agar manusia mengingat Allah.

2. Tradisi Salat Gerhana Sudah Mengakar di Pesantren dan Masjid

Sejak Islam berkembang di Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan, salat gerhana (ṣalāt al-kusūf) selalu menjadi amalan kolektif. Naskah-naskah kuno berbahasa Arab-Pegon dan Jawi mencatat tata cara salat gerhana lengkap dengan doa yang dianjurkan.

Dalam praktiknya, masyarakat berkumpul di masjid, mushalla, atau lapangan untuk menunaikan ibadah ini secara berjamaah, dipimpin kiai atau imam kampung.

3. Doa Khusus Dibaca Saat Gerhana

Selain salat, Islam Nusantara menekankan pembacaan doa-doa tertentu. Salah satunya adalah doa yang tercatat dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah yang diajarkan di pesantren:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ سَلامَةً وَإيمَانًا، وَسَلامَةً وَإسْلامًا، وَعَائِذًا بِكَ مِنَ الْعُدْوَانِ وَذَوِي الطُّغْيَانِ وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah (gerhana ini) sebagai keselamatan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta perlindungan dari permusuhan, dari orang-orang yang zalim, dan dari kejahatan setan.”

Doa ini lazim diajarkan oleh para kiai Jawa-Madura dalam tradisi pengajian gerhana.

4. Gerhana dalam Folklor Keagamaan Lokal

Masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali Muslim memiliki narasi kultural tentang gerhana, misalnya istilah “ketaman gerhana” yang diyakini berdampak buruk pada bayi jika tidak disertai ritual doa.

Islam Nusantara hadir dengan pendekatan dakwah persuasif: mitos tidak dibenturkan secara frontal, melainkan diislamisasi. Misalnya, larangan keluar rumah bagi ibu hamil saat gerhana diubah menjadi anjuran memperbanyak doa dan bersedekah untuk keselamatan.

Baca Juga: Doa Saat Melihat Fenomena Gerhana Matahari

5. Gerhana Sebagai Momentum Refleksi Sosial-Spiritual

Ulama Nusantara tidak hanya menekankan aspek kosmologis, tetapi juga sosial. KH Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah menekankan bahwa ibadah kolektif saat gerhana harus menumbuhkan solidaritas sosial, seperti memperbanyak sedekah untuk fakir miskin.

Dengan demikian, gerhana menjadi momentum memperkuat spiritualitas sekaligus kepedulian sosial, ciri khas ajaran Islam Nusantara yang menyeimbangkan dimensi langit dan bumi.

Fenomena gerhana matahari dalam sumber Islam Nusantara dipahami tidak semata-mata sebagai peristiwa astronomi, tetapi sebagai tanda kekuasaan Allah, ruang ibadah kolektif, kesempatan berdzikir, sarana pelestarian tradisi doa, sekaligus momentum sosial.

Pandangan ini menunjukkan kekayaan khazanah Islam Nusantara: teks normatif dipadukan dengan konteks lokal, sehingga melahirkan kearifan yang relevan bagi masyarakat Muslim Indonesia hingga hari ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.