Tradisi Gotong Royong Santri Mencor Bangunan Pesantren Sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW

AKURAT.CO Di berbagai pesantren di Indonesia, pemandangan santri ikut mencor bangunan, memanggul pasir, menata batu bata, dan mencampur semen sudah menjadi tradisi yang lumrah.
Bagi sebagian orang luar, mungkin hal itu tampak seperti pekerjaan kasar yang semestinya dikerjakan tukang bangunan profesional.
Namun bagi para santri, aktivitas semacam itu bukan sekadar kerja fisik, melainkan bagian dari pendidikan ruhani: belajar tentang kebersamaan, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial.
Tradisi gotong royong membangun pesantren sesungguhnya bersumber dari nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda:
وَالْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini secara metaforis menggambarkan pentingnya solidaritas di antara kaum beriman. Namun para ulama juga memahami maknanya secara konkret: sebagaimana bangunan tidak bisa berdiri kokoh tanpa saling menopang, masyarakat beriman pun tidak dapat kuat tanpa gotong royong dan kerja sama.
Baca Juga: Santri Al-Khoziny yang Wafat dalam Tragedi Robohnya Mushala Pesantren Layak Disebut Syahid
Dalam konteks pesantren, makna hadis ini menemukan bentuk paling nyata. Ketika para santri bersama-sama mencor lantai, menegakkan tiang, atau membangun asrama, mereka sesungguhnya sedang membangun “bangunan iman” mereka sendiri.
Aktivitas fisik itu melatih kesabaran, melatih rendah hati, dan menumbuhkan kesadaran bahwa menuntut ilmu bukan hanya soal duduk di kelas, tetapi juga berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan ilmu itu sendiri.
Gotong royong juga mengandung nilai ukhuwah (persaudaraan) yang kuat. Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika santri bekerja bersama, saling membantu dan menyemangati, mereka sedang meneladani semangat ukhuwah yang diajarkan Nabi. Tangan yang kotor oleh semen menjadi saksi bahwa ilmu dan amal tidak pernah terpisah dalam kehidupan pesantren.
Selain itu, gotong royong adalah wujud nyata dari ajaran ta’awun ‘ala al-birr wa al-taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Semangat ayat ini menjadi fondasi moral bagi gotong royong santri. Membangun pesantren berarti membangun rumah ilmu, rumah ibadah, dan rumah akhlak. Maka setiap tetes keringat yang keluar dalam proses itu bernilai ibadah.
Dalam banyak kasus, para kiai justru sengaja melibatkan santri agar mereka memahami makna pengorbanan dalam membangun lembaga dakwah.
Tradisi seperti ini telah berlangsung sejak masa pesantren klasik abad ke-19. Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng, misalnya, dikenal sering mengajak santrinya membangun pondok secara bersama.
Para santri tidak dibayar; yang mereka dapat hanyalah keberkahan dari kerja kolektif untuk ilmu. Kiai Kholil Bangkalan juga menanamkan nilai serupa: bahwa gotong royong adalah madrasah moral yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap pesantren.
Dalam perspektif pendidikan Islam, kerja sama seperti ini sejalan dengan konsep tarbiyah al-jama’iyyah—pendidikan kolektif yang membentuk kepribadian santri bukan hanya lewat teori, tapi lewat pengalaman sosial yang nyata.
Di sinilah letak keistimewaan pesantren: mereka tidak sekadar mencetak intelektual, tetapi juga manusia yang siap hidup bersama masyarakat dengan semangat tolong-menolong.
Tragedi robohnya mushala Pesantren Al-Khoziny sempat membuka perdebatan tentang standar bangunan pesantren. Namun di balik itu, perlu diingat bahwa semangat membangun dengan tangan sendiri bukanlah bentuk ketidakmampuan, melainkan bentuk cinta.
Santri yang ikut mencor lantai, membantu mengangkat genteng, atau mengaduk semen tidak sedang bekerja untuk upah, melainkan beramal untuk masa depan ilmu.
Dalam pandangan Islam, kerja seperti itu bahkan bisa menjadi amal jariyah. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Baca Juga: Kisah Rafi, Santri yang Wafat dalam Sujud di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny
Membangun pesantren adalah bentuk sedekah jariyah; ilmu yang kelak diajarkan di dalamnya akan terus mengalirkan pahala kepada setiap tangan yang ikut menegakkan bangunannya. Maka gotong royong para santri bukanlah kerja fisik belaka, melainkan ibadah yang hidup, amal yang terus berdenyut dalam bata dan semen yang mereka pasang dengan ikhlas.
Gotong royong santri mencerminkan wajah Islam yang sejati—agama yang memuliakan kerja, menghargai kebersamaan, dan menanamkan semangat cinta terhadap ilmu.
Di dunia yang makin individualistik, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat Islam tidak terletak pada harta atau teknologi, tetapi pada ruh jama’ah yang saling meneguhkan, sebagaimana bangunan yang kokoh karena setiap bagiannya saling menopang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










