Akurat
Pemprov Sumsel

Mencekam! Cerita Santri Al-Khoziny Detik-detik Robohnya Bangunan Mushola Pesantren

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Oktober 2025, 08:57 WIB
Mencekam! Cerita Santri Al-Khoziny Detik-detik Robohnya Bangunan Mushola Pesantren

AKURAT.CO Suara lantunan salat Asar masih bergema di musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Senin (29/9/2025) sore itu. Ratusan santri sedang rukuk dan sujud dalam kekhusyukan yang tenang. Tak ada yang menyangka, dalam hitungan detik, ketenangan itu berubah menjadi jerit ketakutan dan perjuangan antara hidup dan mati.

Salah satu saksi hidup peristiwa itu adalah Nanang Saifur Rizal, santri asal Kedungkandang, Kota Malang. Ia masih mengingat jelas momen ketika lantai atas musala tiba-tiba bergetar hebat dan suara keras seperti bambu patah terdengar di atas kepala mereka.

“Awalnya seperti ada sesuatu jatuh, lalu terasa seperti gempa. Seketika, bangunan langsung ambruk,” kisah Rizal saat ditemui wartawan di rumahnya, Sabtu (4/10/2025).

Rizal yang berada di saf tengah langsung terhimpit puing-puing bangunan. Dalam sekejap, ruangan yang tadinya penuh doa berubah menjadi lautan debu, reruntuhan, dan teriakan santri yang berusaha menyelamatkan diri. Ia sempat mencoba bangkit, namun kepalanya tertimpa material dari atas.

Baca Juga: Kisah Haru Firman Noor, Santri Al-Khoziny yang Memilih Bantu Teman saat Bangunan Pondok Ambruk

“Semua teriak. Saat lari, kepala saya kena besi cor. Gelap semua,” kenangnya pelan.

Di tengah kepanikan, Rizal mendengar rintihan teman di sebelahnya. Seorang santri bernama Mamat, tubuhnya kejang-kejang di bawah puing. Dalam kondisi terluka dan ketakutan, Rizal memutuskan untuk menolongnya. Dengan tenaga tersisa, ia menyeret tubuh Mamat menuju celah sempit di antara reruntuhan.

“Saya bantu duduk, terus saya tarik keluar lewat lubang kecil. Alhamdulillah bisa selamat,” ujarnya.

Rizal mengaku terjebak hampir tiga puluh menit di bawah puing bangunan. Udara semakin tipis, debu menyesakkan dada, dan suara tangisan teman-temannya membuat suasana makin mencekam. “Saya sempat berpikir enggak bakal keluar,” katanya lirih.

Ketika tim penyelamat tiba dan mulai memecah beton satu per satu, Rizal merasakan harapan kembali hidup. Ia berhasil dievakuasi, sementara banyak rekannya tidak seberuntung itu. Beberapa tertimbun di lokasi yang lebih dalam dan sulit dijangkau.

“Banyak teman yang enggak bisa keluar. Mereka masih di dalam waktu saya ditarik keluar,” ucapnya, menunduk.

Usai dievakuasi, Rizal hanya mengalami luka di kepala dan tangan. Ia sempat dirawat singkat di lokasi sebelum dijemput orang tuanya untuk pulang ke Malang. Meski trauma, Rizal bertekad untuk kembali ke pesantren setelah kondisinya pulih.

“Masih takut kalau dengar suara keras, tapi saya enggak mau berhenti mondok. Saya ingin terus belajar,” tuturnya penuh keyakinan.

Baca Juga: Kisah Nur Ahmad, Santri yang Kehilangan Lengan di Tragedi Al-Khoziny

Tragedi robohnya musala Al-Khoziny menyisakan luka mendalam. Berdasarkan data Badan SAR Nasional, puluhan santri menjadi korban jiwa, sementara lebih dari seratus lainnya selamat dengan luka-luka.

Dugaan awal menunjukkan konstruksi bangunan yang sedang diperbaiki di lantai atas menjadi salah satu pemicu utama ambruknya struktur.

Namun bagi Rizal, tragedi itu bukan sekadar bencana fisik, tapi juga ujian batin. “Kalau saya bisa selamat, berarti Allah masih kasih kesempatan buat berbuat baik,” katanya.

Di antara puing-puing yang kini telah dibersihkan, hanya doa yang tersisa. Doa bagi teman-teman yang tak sempat keluar, dan bagi mereka yang selamat agar tetap tegar melanjutkan hidup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.