PBNU Dinilai Lumpuh Total, Kritik Nadirsyah Hosen Menampar Keras Kepemimpinan Gus Yahya

AKURAT.CO Suasana internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memanas setelah beredarnya surat hasil rapat Syuriah PBNU yang diketuai oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar. Surat tersebut berkesimpulan meminta agar Yahya Cholil Staquf Mundur dari kursi Ketua Umum PBNU.
Akademisi dan tokoh Nahdliyin, Nadirsyah Hosen, melontarkan kritik tajam terhadap kepengurusan di bawah Ketua Umum Yahya Cholil Staquf hari ini. Melalui akun resmi Facebooknya pada Minggu (23/11/2025), ia menyebut roda organisasi PBNU tengah mengalami kelumpuhan serius.
Dalam unggahannya, Nadirsyah menilai struktur dan tata kelola PBNU berada dalam kondisi saling bertentangan hingga membuat kinerja organisasi terhenti.
“Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum)," katanya.
Baca Juga: Menolak untuk Mundur oleh Rais Aam, Gus Yahya Pernah Bilang: Harus Hormat pada Maqam Rais Aam!
Nadirsyah menampakkan bahwa perpecahan itu berdampak langsung terhadap legalitas administrasi organisasi. Menurutnya, surat resmi Syuriyah dan Tanfidziyah kini hanya ditandatangani sebagian pihak.
“Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak lagi sekadar persoalan stagnasi, melainkan kerusakan struktural yang dibiarkan berlarut-larut.
“Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati.”
Menurut Nadirsyah, jam’iyyah terbesar di Indonesia itu kini mengalami degradasi marwah dan arah perjuangan. Ia menulis, “Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati.”
Lebih jauh, ia mengkritik keras berbagai slogan dan kebijakan yang sebelumnya digaungkan PBNU.
Dalam tulisannya ia menyebut, “Tagline ingin ‘menghidupkan kembali Gus Dur’, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin ‘governing NU’, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.”
Baca Juga: Pasca Didesak Mundur oleh Rais Aam, Gus Yahya Kumpulkan Ketua PWNU se-Indonesia
Nadirsyah juga menilai satu abad perjalanan NU bukan ditandai kejayaan, melainkan situasi memprihatinkan. Ia menulis, “Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.”
Unggahan tersebut ditutup dengan seruan reflektif, “Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….” Ia kemudian mengirimkan doa, “Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya.”
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PBNU maupun Ketua Umum Yahya Cholil Staquf atas kritik keras tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









