Akurat Logo

Timwas Haji DPR Soroti Istitha'ah Kesehatan, Minta Skrining Jemaah Tidak Asal

Lufaefi | 4 Juni 2026, 07:30 WIB
Timwas Haji DPR Soroti Istitha'ah Kesehatan, Minta Skrining Jemaah Tidak Asal
Jemaah haji Indonesia di tanah suci (akurat.co)

AKURAT.CO Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menyoroti pentingnya penerapan istitha'ah kesehatan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Evaluasi terhadap aspek kesehatan jemaah dinilai perlu diperkuat guna meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan jemaah pada musim haji mendatang.

Anggota Timwas Haji DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengatakan bahwa pemahaman mengenai istitha'ah haji selama ini masih sering dipersempit pada aspek kemampuan finansial. Padahal, kemampuan kesehatan merupakan syarat penting yang harus dipenuhi calon jemaah sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.

"Istitha’ah Haji itu bahwa jemaah haji yang akan berangkat dinyatakan memiliki kemampuan. Bukan hanya kemampuan membayar biaya atau terkait ongkos naik Haji saja, tapi juga Istitha’ah dalam aspek kesehatan," kata Netty dalam keterangannya, Selasa (2/6).

Baca Juga: Dadan Hindayana Dicurigai Pergi Haji dengan Uang Negara Badan Gizi Nasional

Menurut Netty, hasil pengawasan langsung yang dilakukan Timwas Haji DPR di Arab Saudi menunjukkan masih adanya jemaah Indonesia yang berangkat dengan kondisi kesehatan yang rentan. Sebagian besar merupakan kelompok lanjut usia yang memiliki penyakit penyerta, seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga gagal ginjal.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian serius adalah adanya jemaah yang menderita kanker stadium akhir namun tetap diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji.

"Salah satu yang juga sangat miris, ada jemaah Haji yang menderita kanker stadium akhir. Di Tanah Suci, setiap hari beliau merasa kesakitan. Seharusnya yang seperti ini tidak diperbolehkan berangkat," ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap mekanisme penetapan istitha'ah kesehatan sebelum keberangkatan jemaah.

Netty menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi jemaah di Arab Saudi tidak hanya berkaitan dengan suhu udara yang tinggi. Padatnya aktivitas ibadah, mobilitas yang tinggi, serta konsentrasi jutaan jemaah dari berbagai negara membutuhkan kondisi fisik yang prima, terutama saat pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

"Pada saat wuquf, jemaah Haji berdiam di Arafah, bermunajat, berdzikir, dan sejumlah aktivitas ibadah lainnya sejak zuhur hingga Magrib," tuturnya.

Menurutnya, masih banyak jemaah yang memerlukan pendampingan kesehatan khusus selama menjalankan rangkaian ibadah. Sebagian bahkan harus menggunakan ambulans untuk mobilisasi dan mendapatkan pengawasan medis secara intensif.

Karena itu, Timwas Haji DPR mendorong agar sistem skrining kesehatan calon jemaah diperketat sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Selain pemeriksaan kesehatan, pembinaan berkelanjutan juga perlu dilakukan melalui program rujuk balik, edukasi keluarga, pemeriksaan kesehatan berkala, kepatuhan konsumsi obat, hingga pemenuhan kebutuhan gizi calon jemaah.

Baca Juga: Dadan Hindayana Disuruh Pulang Haji Lebih Awal, Kemudian Dicopot dari Jabatan Kepala BGN

Netty juga menekankan pentingnya sinergi antara Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, puskesmas, serta rumah sakit dalam memastikan kesiapan kesehatan jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Selain itu, kebutuhan tenaga kesehatan selama operasional haji juga menjadi perhatian. Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah sektor dan kelompok terbang (kloter), jumlah petugas kesehatan dinilai masih perlu ditingkatkan.

"Penambahan jumlah petugas di setiap kloter nampaknya menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan untuk penyelenggaraan haji tahun yang akan datang," ucapnya.

Timwas Haji DPR RI menilai penguatan istitha'ah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan persyaratan administrasi keberangkatan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan jemaah dan memastikan ibadah haji dapat dilaksanakan secara aman, nyaman, dan sesuai kemampuan yang dipersyaratkan dalam syariat Islam.

Evaluasi terhadap aspek kesehatan tersebut akan menjadi salah satu catatan penting dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026 dan bahan perbaikan untuk musim haji tahun-tahun berikutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi