Akurat Logo

Jelang Muktamar NU, Dinamika Internal PBNU Jadi Sorotan: Warga Dorong Rekonsiliasi dan Konsolidasi Organisasi

Lufaefi | 28 Juni 2026, 11:00 WIB
Jelang Muktamar NU, Dinamika Internal PBNU Jadi Sorotan: Warga Dorong Rekonsiliasi dan Konsolidasi Organisasi
Logo Nahdlatul Ulama (Instagram @nuonline)

AKURAT.CO Dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kembali menjadi perhatian publik menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Sejumlah pandangan dari kalangan warga Nahdliyin mulai bermunculan, termasuk dorongan agar momentum muktamar diarahkan untuk memperkuat konsolidasi dan menjaga stabilitas organisasi.

Salah satu pandangan tersebut disampaikan oleh Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal sebagai Gus Lilur. Dalam keterangannya, ia menilai dinamika yang berkembang saat ini tidak semata dipahami sebagai perbedaan personal, tetapi berkaitan dengan pola relasi dan pengelolaan organisasi di tingkat elite.

Menurutnya, sejumlah perbedaan pandangan di lingkungan PBNU belakangan menjadi perhatian warga di akar rumput karena melibatkan figur-figur yang menempati posisi strategis dalam struktur organisasi.

Baca Juga: Pengurus LTN PBNU Soroti Pembatalan Penetapan Lirboyo sebagai Lokasi Muktamar NU oleh Rais Aam, Pertanyakan Dasar Prosedural

Ia menggambarkan adanya dua poros yang kerap dipersepsikan publik memiliki pendekatan berbeda dalam melihat arah organisasi. Kelompok pertama dikaitkan dengan lingkar Miftachul Akhyar, Saifullah Yusuf, dan Gudfan Arif Ghofur.

Sementara kelompok lainnya disebut berada di sekitar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Ahmad Said Asrori, serta Wakil Ketua Umum Amin Said Husni.

“Ironi besar muncul karena konflik ini melibatkan para pemegang jabatan strategis yang secara organisatoris seharusnya saling bersinergi,” kata Gus Lilur dikutip Minggu (28/6/2026).

Ia menilai idealnya relasi antarlembaga di dalam struktur NU tetap berjalan sesuai fungsi masing-masing agar dinamika organisasi tidak berkembang menjadi ketegangan terbuka.

Dalam keterangannya, Gus Lilur juga menyinggung bahwa perbedaan pandangan semacam ini bukan fenomena baru dalam sejarah organisasi. Ia menyoroti perjalanan kepemimpinan Miftachul Akhyar sejak berada di tingkat cabang hingga wilayah sebagai bagian dari dinamika panjang NU.

Menurutnya, saat memimpin di tingkat PCNU Surabaya pada periode awal 2000-an, Miftachul Akhyar pernah bekerja bersama Asep Saifuddin Chalim yang saat itu memimpin unsur tanfidziyah.

Perbedaan pendekatan dalam pengelolaan organisasi disebut menjadi bagian dari dinamika yang kemudian berlanjut saat Miftachul Akhyar melanjutkan peran di tingkat PWNU Jawa Timur bersama Mutawakkil Alallah.

Baca Juga: 137 Santri Lolos Seleksi Berkas Beasiswa PBNU–Al-Azhar Mesir 2026, Bersiap Hadapi Tahap Wawancara

Meski demikian, perhatian utama menjelang Muktamar NU ke-35 saat ini bukan semata pada peta relasi elite, melainkan bagaimana forum tertinggi organisasi tersebut dapat menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat persatuan, menjaga marwah jam’iyah, dan memastikan arah kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan organisasi ke depan.

Sejumlah tokoh NU sebelumnya juga telah mengingatkan agar perbedaan pandangan tetap ditempatkan dalam koridor musyawarah serta tidak berkembang menjadi polarisasi yang mengganggu soliditas warga Nahdliyin.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi