Konservasionis Manfaatkan AI untuk Lindungi Tupai Merah dari Ancaman Punah

AKURAT.CO Para konservasionis kini mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melindungi populasi tupai merah yang terancam oleh dominasi tupai abu-abu.
Salah satu alat inovatif yang dikembangkan adalah Squirrel Agent, sistem AI dengan akurasi 97 persen dalam membedakan tupai merah dan abu-abu. Sistem ini bekerja dengan mengontrol akses ke pengumpan makanan.
Tupai merah diberi akses ke makanan tambahan, sementara tupai abu-abu diarahkan ke pengumpan yang mengandung pasta kontrasepsi guna mengendalikan populasinya.
"Ini adalah pameran nyata dari apa yang dapat dilakukan AI," ujar Emma McClenaghan, pendiri Genysys Engine, perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut, dikutip dari Bbc.com, Minggu (24/11/2024).
Saat ini, Squirrel Agent sedang diuji di berbagai lokasi di Inggris bersama lima organisasi konservasi satwa liar. Diharapkan, teknologi ini juga bisa diterapkan untuk spesies lain di masa depan.
Ancaman Tupai Abu-Abu
Tupai abu-abu, yang diperkenalkan ke Inggris sekitar 200 tahun lalu, menjadi salah satu penyebab utama penurunan populasi tupai merah.
Selain jumlahnya yang lebih besar, tupai abu-abu membawa virus yang tidak mematikan bagi mereka, tetapi fatal bagi tupai merah.
Meski tupai merah masih bertahan di Skotlandia, Irlandia dan beberapa pulau seperti Anglesey dan Isle of Wight, populasinya di Inggris daratan dan Wales berada di ambang kepunahan.
"Tetapi daratan Inggris dan Wales berada dalam kesulitan yang mengerikan, dan mereka akan punah jika kita tidak dapat membalikkan tren ini," ungkap Ian Glendinning dari Northern Red Squirrels.
Peran AI dalam Identifikasi
Salah satu tantangan dalam melestarikan tupai merah adalah variasi warna tubuh mereka yang tidak selalu merah. Identifikasi manual berdasarkan ciri seperti ukuran, berat dan bentuk telinga membutuhkan waktu yang lama.
Dengan bantuan AI, semua ciri ini dapat dianalisis secara cepat dan akurat, membuat tindakan yang lebih efektif.
Selain itu, Genysys Engine sedang mengembangkan teknologi untuk mengidentifikasi tupai secara individu dengan menganalisis kumis mereka, yang memiliki pola unik seperti sidik jari manusia.
"Seiring waktu data ini akan bertambah, memungkinkan para ilmuwan dan peneliti untuk mulai melacak garis keluarga," tambah McClenaghan.
Contoh lain pemanfaatan AI dalam konservasi adalah teknologi yang digunakan World Wildlife Fund (WWF) untuk menganalisis foto area terdampak kebakaran hutan di Australia, guna menemukan hewan yang masih bertahan hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








