Sebab Pemogokan Pekerja Amazon dan Starbucks di AS

AKURAT.CO Pekerja Amazon dan Starbucks melakukan aksi mogok di beberapa kota besar di Amerika Serikat (AS) pada Kamis (19/12/2024).
Aksi ini dilakukan sebagai upaya menekan perusahaan untuk mengakui serikat pekerja dan memenuhi tuntutan kontrak kerja mereka.
Pemogokan ini terjadi di tengah meningkatnya upaya tenaga kerja terorganisir untuk mendapatkan pengakuan dan hak mereka.
Selama pandemi COVID-19, perhatian publik tertuju pada ketimpangan ekonomi yang dialami pekerja garis depan, mendorong gerakan pengorganisasian di berbagai perusahaan seperti Apple, REI dan Trader Joe's.
Namun, negosiasi kontrak pertama dengan perusahaan besar seperti Amazon dan Starbucks masih menemui jalan buntu.
Dikutip dari Apnews.com, Rabu (25/12/2024), berikut tuntutan para pekerja:
- Amazon
Para pekerja yang tergabung dalam Teamsters menuntut upah lebih tinggi, tunjangan yang lebih baik dan kondisi kerja yang lebih aman.
Mereka juga mendesak Amazon untuk mengakui pengemudi pengiriman sebagai karyawan resmi.
Amazon menolak, mengklaim para pengemudi adalah pekerja kontrak, meski memakai atribut perusahaan.
- Starbucks
Serikat pekerja Starbucks Workers United meminta kenaikan gaji dan penyelesaian ratusan keluhan praktik tenaga kerja tidak adil.
Namun, Starbucks hanya menawarkan kenaikan gaji kecil dan menolak memenuhi tuntutan lainnya.
Pemogokan ini juga dipengaruhi oleh politik. Para pekerja ingin mempercepat negosiasi sebelum Donald Trump, yang diharapkan kurang mendukung serikat pekerja, resmi menjabat kembali.
Namun, Trump baru-baru ini menunjukkan dukungan terhadap tenaga kerja dengan memilih Lori Chavez-DeRemer, seorang Republikan yang memiliki hubungan baik dengan serikat pekerja, untuk memimpin Departemen Tenaga Kerja.
Pemogokan meluas ke berbagai wilayah, termasuk Chicago, Los Angeles dan Seattle. Di Amazon, aksi mogok memengaruhi stasiun pengiriman di beberapa kota besar.
Sementara di Starbucks, pemogokan diperkirakan akan meluas hingga Malam Natal, memengaruhi ratusan toko.
Meski perusahaan seperti Amazon dan Starbucks menyebut aksi ini sebagai langkah tidak produktif, serikat pekerja berharap tekanan publik dapat mempercepat tercapainya kesepakatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








