Tarif Impor Trump Diprediksi Picu Kenaikan Harga Elektronik

AKURAT.CO Produk elektronik seperti robot penyedot debu hingga konsol game berpotensi mengalami lonjakan harga akibat rencana tarif impor dari pemerintahan Trump.
Kebijakan ekonomi ini bertujuan untuk membiayai pemotongan pajak dan mengurangi impor. Namun analis memprediksi dampak besar pada harga barang elektronik buatan luar negeri, terutama dari China.
Asosiasi Teknologi Konsumen (CTA) memperkirakan, tarif tersebut dapat memengaruhi daya beli masyarakat Amerika Serikat (AS) hingga $143 miliar (sekitar Rp2,32 triliun) dalam setahun.
Barang-barang seperti laptop, televisi dan baterai lithium-ion non-mobil termasuk dalam daftar produk yang terancam kenaikan harga.
Pada ajang Consumer Electronics Show (CES) 2025 di Las Vegas, para pelaku industri menyoroti dampak potensial tarif ini.
Sekitar 25 persen peserta CES berasal dari perusahaan teknologi China, yang turut meramaikan pameran dengan inovasi seperti penyedot debu robot hingga laptop rollable.
CTA melaporkan bahwa tarif baru ini dapat menaikkan harga laptop dan tablet hingga 47 persen, sementara harga konsol game bisa naik rata-rata $250 (sekitar Rp4 jutaan).
Bahkan, penjualan laptop dan konsol diprediksi menurun hingga 68 persen dan 58 persen pada 2025 akibat lonjakan harga.
Dikutip dari Mashable.com, Jumat (10/1/2025), selain itu, pasar TV pintar juga akan terdampak dengan perkiraan kenaikan harga 9 persen.
Produk seperti Samsung Neo QLED dan LG OLED, yang dilengkapi teknologi AI terbaru, berpotensi mengalami penurunan permintaan.
Beberapa produsen seperti Acer telah mengambil langkah strategis untuk mengurangi dampak tarif, termasuk mendekatkan rantai pasokan ke pasar lokal.
Sementara itu, perusahaan besar seperti Apple terus berusaha mengurangi ketergantungan pada manufaktur di China.
Namun, tidak semua perusahaan mengambil sikap tegas terkait isu ini. Banyak produsen memilih menunggu perkembangan kebijakan sebelum menentukan langkah lebih lanjut.
Tak hanya elektronik, tarif baru ini juga dapat menaikkan harga kendaraan, termasuk yang diproduksi di Amerika Serikat.
Kendaraan buatan Kanada, Meksiko dan China diprediksi paling terpengaruh, dengan kenaikan harga mulai dari $600 (sekitar Rp9,7 jutaan) hingga $2.500 (sekitar Rp40,5 jutaan) per unit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








