Tak Gentar Ditantang DeepSeek, Microsoft dan Meta Masih Gencar Investasi di AI

AKURAT.CO Microsoft dan Meta tetap berkomitmen menggelontorkan dana besar untuk kecerdasan buatan (AI), meskipun startup asal China, DeepSeek, menunjukkan bahwa teknologi AI dapat dikembangkan dengan biaya lebih rendah.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan bahwa investasi besar dalam infrastruktur AI akan menjadi keuntungan strategis jangka panjang.
"Berinvestasi sangat banyak dalam pengeluaran modal dan infrastruktur akan menjadi keuntungan strategis dari waktu ke waktu," ujarnya, dikutip dari Reuters, Minggu (2/2/2025).
Hal senada disampaikan CEO Microsoft, Satya Nadella, yang menilai bahwa pengeluaran besar diperlukan untuk mengatasi kendala kapasitas dalam pengembangan AI.
"Ketika AI menjadi lebih efisien dan mudah diakses, kita akan melihat permintaan yang lebih banyak secara eksponensial," tambah Satya.
Microsoft telah mengalokasikan dana hingga $80 miliar (sekitar Rp1.292 triliun) untuk AI di tahun fiskal ini, sementara Meta berencana menginvestasikan hingga $65 miliar (sekitar Rp1.049 triliun).
Angka ini jauh lebih besar dibandingkan DeepSeek yang hanya menghabiskan sekitar $6 juta (sekitar Rp96 miliar) untuk mengembangkan model AI mereka.
Namun, investor mulai mempertanyakan efektivitas pengeluaran besar ini.
Saham Microsoft turun 6 persen setelah perusahaan memprediksi pertumbuhan bisnis cloud Azure akan meleset dari target.
Sementara itu, Meta mengalami kenaikan saham lebih dari 4 persen setelah melaporkan kinerja kuartal keempat yang kuat, meski proyeksi penjualan kuartal pertama tampak kurang optimis.
CFO Microsoft, Amy Hood, menyatakan bahwa pengeluaran modal di kuartal ketiga dan keempat akan tetap di angka $22,6 miliar (sekitar Rp364,15 triliun), dengan pertumbuhan investasi yang lebih moderat pada tahun fiskal 2026.
"Pada tahun fiskal 2026, kami berharap untuk terus berinvestasi melawan sinyal permintaan yang kuat. Namun, tingkat pertumbuhan akan lebih rendah dari fiskal 2025 (yang berakhir pada bulan Juni)," katanya.
Analis menilai bahwa perusahaan-perusahaan besar AI perlu mulai menunjukkan model monetisasi yang jelas untuk investasi besar yang telah dilakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








