BRIN Perkuat Kolaborasi ASEAN untuk Ekosistem Antariksa yang Inklusif dan Berkelanjutan

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan ekosistem antariksa yang inklusif dan berkelanjutan di Asia Tenggara. Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan keantariksaan sebagai bagian dari rangkaian Pertemuan ASEAN COSTI ke-87 yang berlangsung di Jakarta.
Sebagai focal point dalam sejumlah organisasi internasional seperti ASEAN Sub Committee on Space Technology and Applications (SCOSA), UNESCAP Intergovernmental Consultative Committee (ICC) on the Regional Space Applications Programme for Sustainable Development for Asia and the Pacific (RESAP), Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF), dan Centre for Space Science and Technology Education in Asia and the Pacific (CSSTEAP), BRIN menyelenggarakan empat side events.
Kegiatan tersebut meliputi:
1. “SCOSA Indonesia Workshop on Building Space Ecosystem in Southeast Asia” pada 17 Juni 2025, bekerja sama dengan SAIAC.
2. “Workshop on Building Institutional Capacity to Use Artificial Intelligence and Spatiotemporal Data for Flood Impact Analysis in Asia and the Pacific” pada 17–19 Juni 2025 bersama UNESCAP ICC on RESAP.
3. “Sentinel Asia Training on SAR Data Analysis for Disaster Mapping and Damage Assessment” yang berlangsung 16–18 Juni 2025 bersama JAXA dan APRSAF.
4. “Special Training Programme on Disaster Mitigation and Management with Special Focus on Flood Hazard and Tropical Cyclones” pada 16–20 Juni 2025 bersama CSSTEAP.
Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan, Anugerah Widiyanto, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk perwakilan negara anggota ASEAN, ESCAP, institusi pemerintah dan daerah, akademisi, serta mitra dari sektor swasta. Ia menekankan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut nyata dari Deklarasi Jakarta 2022.
“Kegiatan ini adalah bentuk nyata dari komitmen Indonesia dalam penguatan penggunaan teknologi antariksa untuk pencapaian SDGs di kawasan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, BRIN turut memperkuat inisiatif pengembangan teknologi berbasis data satelit dan informasi geospasial. Salah satu contohnya adalah SatGPT yang telah diterapkan dalam mendukung ketahanan bencana serta perencanaan pembangunan di kawasan Asia-Pasifik.
Tak hanya itu, BRIN juga menunjukkan perhatian besar terhadap keterlibatan generasi muda lewat pembentukan forum pemuda bidang antariksa. Executive Director of Indonesian Space Agency sekaligus National Contact Point untuk ASEAN SCOSA, Prof. Erna Sri Adiningsih, menyampaikan pentingnya peran ASEAN dalam mengembangkan potensi ekonomi antariksa.
“Dengan meningkatnya aktivitas komersial dan keterlibatan perusahaan rintisan, ASEAN dapat mempercepat tumbuhnya ekosistem antariksa yang inklusif,” katanya.
Ia juga mencatat bahwa banyak negara anggota ASEAN telah mengembangkan satelit untuk berbagai keperluan seperti komunikasi, pertahanan, dan pemantauan lingkungan. Namun, ia mengingatkan akan keterbatasan orbit dan spektrum frekuensi yang memerlukan pendekatan kolektif agar penggunaannya tetap adil di masa depan.
Tantangan besar lainnya adalah belum adanya regulasi kolektif antarnegara ASEAN terkait transfer teknologi dan manufaktur satelit. Oleh karena itu, Prof. Erna mendorong SCOSA untuk tak hanya fokus pada aspek aplikasi, tetapi juga turut membahas kerja sama dalam pengembangan teknologi antariksa.
Dari sisi industri, ia menegaskan bahwa ASEAN bukan hanya pasar potensial, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan infrastruktur satelit, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang belum memiliki jaringan komunikasi berbasis darat.
“Ini adalah peluang investasi dan inovasi, yang dapat mendorong kolaborasi sektor swasta dan pemerintah di seluruh kawasan,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








