Pentingnya Edukasi, Pembatasan dan Dukungan Psikologis untuk Cegah Histeria Kognitif Media Sosial

AKURAT.CO Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan di tengah derasnya arus informasi digital, fenomena histeria kognitif media sosial kian mencuat sebagai ancaman baru terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia.
"Fenomena ini mencerminkan kondisi di mana persebaran informasi yang cepat, dramatis, dan sering kali tidak akurat menyebabkan kecemasan kolektif yang tidak proporsional," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menghadapi masalah ini, menurutnya beberapa pendekatan strategis perlu segera diterapkan.
Pertama, edukasi literasi media perlu diperkuat. Masyarakat harus dibekali keterampilan untuk membedakan informasi yang valid dari yang bersifat hoaks atau provokatif.
Sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan memiliki peran penting dalam menanamkan kemampuan berpikir kritis terhadap arus informasi.
Kedua, perlu adanya kesadaran akan pentingnya pembatasan penggunaan media sosial.
Menetapkan waktu harian, mempraktikkan digital detox, serta membiasakan diri kembali dengan kegiatan sosial di dunia nyata adalah cara sederhana yang efektif.
"Dengan menetapkan batasan waktu, orang dapat lebih fokus pada interaksi langsung dengan keluarga dan teman-teman, serta kegiatan yang lebih produktif seperti olahraga atau hobi."
Ketiga, penguatan layanan kesehatan mental menjadi kunci. Kampanye untuk menghapus stigma terhadap isu psikologis harus didorong, sehingga masyarakat lebih nyaman untuk mencari pertolongan profesional ketika dibutuhkan.
"Program-program dukungan, baik di tingkat komunitas maupun melalui platform online, dapat memberikan ruang bagi individu untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan."
Selain itu, Ardi menegaskan kolaborasi lintas sektor pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan platform teknologi sangat penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat.
Pemerintah, lanjut Ardi, bisa mengambil langkah konkret dengan memberlakukan regulasi terhadap penyebaran berita palsu dan algoritma yang memprioritaskan konten provokatif.
Di sisi lain, keluarga dan komunitas perlu terlibat dalam mendampingi generasi muda untuk membentuk kebiasaan digital yang sehat.
"Orang tua dan anggota keluarga lainnya dapat membantu mengawasi dan mengarahkan anak-anak mereka dalam menggunakan media sosial dengan bijak, serta memberikan dukungan emosional ketika mereka menghadapi tekanan atau kecemasan," terang Ardi.
"Histeria kognitif media sosial tidak boleh menjadi penghalang bagi kesehatan mental kita; sebaliknya, kita harus belajar untuk mengelolanya dengan bijak demi masa depan yang lebih baik," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








