Microsoft Hentikan Penggunaan Insinyur Tiongkok untuk Dukung Sistem Militer AS

AKURAT.CO Microsoft resmi menghentikan penggunaan insinyur berbasis di Tiongkok dalam mendukung operasional teknis sistem militer Amerika Serikat. Upaya ini diambil setelah muncul laporan terkait potensi kebocoran data sensitif.
Investigasi ProPublica mengungkap bahwa insinyur Tiongkok sebelumnya terlibat dalam pemeliharaan sistem komputer Departemen Pertahanan AS. Mereka disebut bekerja dengan pengawasan minimal dari personel Amerika.
Keputusan baru Microsoft bertujuan memperkuat pertahanan siber dan keamanan nasional AS. Semua dukungan teknis kini akan dialihkan hanya kepada tim berbasis Amerika.
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari respon Microsoft atas meningkatnya kekhawatiran pemerintah AS. Khususnya terkait risiko melibatkan tenaga asing dalam proyek-proyek sensitif negara.
Penelitian internal perusahaan menemukan adanya aktivitas peretasan yang diduga dilakukan oleh aktor negara Tiongkok. Serangan tersebut mengeksploitasi celah keamanan di platform SharePoint milik Microsoft.
Ratusan lembaga pemerintah AS dilaporkan terkena dampaknya. Bahkan Badan Keamanan Nuklir Nasional termasuk dalam daftar korban kebocoran data, sebagaimana dikutip dari Tech Wire Asia, Minggu (3/8/2025).
Microsoft belum secara resmi menyatakan bahwa insiden peretasan menjadi alasan utama penangguhan insinyur Tiongkok. Kendati demikian, keputusan ini jelas menunjukkan peningkatan langkah proteksi.
Chief Communications Officer Microsoft Frank Shaw menegaskan dukungan teknis kini hanya dilakukan oleh tim berkewarganegaraan AS. Ia memastikan seluruh sistem cloud Departemen Pertahanan berada di bawah kendali personel bersertifikasi keamanan.
Selama bertahun-tahun, insinyur Tiongkok disebut bekerja dengan pengawasan dari pengawal digital. Namun petugas pendamping tersebut disebut memiliki kemampuan teknis lebih rendah dibandingkan insinyur yang diawasi.
Sebagian besar pejabat pertahanan AS bahkan mengaku tidak menyadari adanya pengaturan tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait pengawasan internal operasional Microsoft.
Microsoft memiliki kehadiran besar di Tiongkok dengan pusat manufaktur dan riset AI di beberapa kota. Ekspansi ini awalnya bertujuan memenuhi permintaan global akan teknologi cloud.
Namun ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok membuat model alih daya tersebut menjadi sorotan. Pengawasan terhadap rantai pasokan dan tenaga kerja asing diprediksi akan semakin diperketat.
Microsoft dinilai bisa menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lain yang memiliki kontrak pertahanan. Pemerintah AS diperkirakan akan meningkatkan evaluasi terhadap keterlibatan staf asing dalam proyek-proyek sensitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








