Akurat
Pemprov Sumsel

Meta Diduga Raup Miliaran Dolar dari Iklan Penipuan, Dokumen Internal Bocor Ungkap Fakta Mengejutkan

Petrus C. Vianney | 15 November 2025, 19:50 WIB
Meta Diduga Raup Miliaran Dolar dari Iklan Penipuan, Dokumen Internal Bocor Ungkap Fakta Mengejutkan

 

AKURAT.CO Laporan internal Reuters mengungkap bahwa Meta, induk Facebook, Instagram dan WhatsApp, diduga meraup 10 persen pendapatannya pada 2024 dari iklan penipuan dan aktivitas ilegal. Nilainya mencapai sekitar $16 miliar (sekitar Rp267 triliun).

Dokumen tersebut mengungkap bahwa setiap hari Meta menayangkan sekitar 15 miliar iklan berisiko tinggi. Iklan itu menipu pengguna dengan skema investasi palsu, kasino ilegal dan penjualan obat terlarang.

Sistem internal Meta sebenarnya bisa mendeteksi pengiklan mencurigakan. Namun, perusahaan hanya memblokir akun jika sistem 95 persen yakin itu penipuan, sementara yang lain justru dikenai biaya iklan lebih tinggi.

Laporan itu menyebut pengguna yang berinteraksi dengan iklan palsu akan lebih sering melihat iklan serupa karena sistem personalisasi Meta. Pola ini membuat pengguna semakin rentan terhadap penipuan.

Meta sadar bahwa upaya tegas terhadap iklan penipuan bisa menekan pendapatan perusahaan. Meski begitu, mereka menargetkan penurunan pendapatan ilegal dari 10,1 persen pada 2024 menjadi 7,3 persen pada akhir 2025.

Juru bicara Meta, Andy Stone, membantah temuan Reuters yang disebutnya sebagai pandangan selektif dan menyesatkan. Ia menilai perkiraan pendapatan dari iklan penipuan terlalu dilebih-lebihkan karena turut mencakup iklan sah.

"Kami secara agresif melawan penipuan dan penipuan karena orang-orang di platform kami tidak menginginkan konten ini, pengiklan yang sah tidak menginginkannya dan kami juga tidak menginginkannya," ujar Stone, dikutip dari Reuters, Jumat (14/11/2025).

Stone menegaskan bahwa Meta terus memperkuat upaya pemberantasan penipuan. Pada 2025, perusahaan telah menghapus lebih dari 134 juta iklan palsu dan menurunkan laporan pengguna terkait penipuan hingga 58 persen.

Namun, dokumen lain mengungkap bahwa Meta terlibat dalam sepertiga kasus penipuan online di Amerika Serikat. Di Inggris, regulator menemukan produk Meta berkontribusi pada lebih dari separuh kerugian akibat penipuan pembayaran pada 2023.

Di tengah tekanan global untuk memberantas penipuan online, Meta masih mengandalkan sistem otomatis dan kebijakan 'tawaran penalti'. Kebijakan ini membuat pengiklan mencurigakan dikenai tarif lebih tinggi alih-alih langsung diblokir.

Strategi tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Meta dinilai memberi ruang bagi pelaku penipuan untuk terus beroperasi sambil tetap menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

Meski Meta mengklaim telah memperkuat keamanan dan menambah staf untuk menangani iklan bermasalah, dokumen internal menunjukkan kebijakannya masih longgar. Fokus perusahaan dinilai lebih pada menjaga pendapatan daripada melindungi pengguna.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.