Teknologi Baru NASA Bisa Pangkas Konsumsi Bahan Bakar Pesawat hingga 100 Persen

AKURAT.CO Dalam perkembangan riset aeronautika yang berpotensi mengubah masa depan sektor penerbangan, NASA berhasil menyelesaikan uji coba desain sayap baru yang dapat meningkatkan efisiensi pesawat komersial.
Mengutip Tech Xplore pada Kamis, (22/01/2026), para peneliti NASA memamerkan uji coba CATNLF (Crossflow Attenuated Natural Laminar Flow), sebuah desain yang bertujuan mengurangi hambatan udara (drag) pada sayap pesawat.
Ini membawa potensi penghematan bahan bakar yang signifikan serta mengurangi emisi karbon.
Teknologi ini diuji melalui model skala kecil (sekitar 3 kaki/±1 meter) yang dipasang pada pesawat uji F-15B di NASA Armstrong Flight Research Center, California.
Tes high-speed taxi yang dilakukan berhasil mencapai kecepatan sekitar 144 mil per jam, menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam memaksimalkan aliran laminar di sayap, kondisi aliran udara yang lebih halus dan mengurangi gesekan serta hambatan.
Menurut pihak NASA, jika teknologi ini diterapkan pada pesawat besar seperti Boeing 777, penurunan hambatan bisa mencapai sekitar 10%, yang dalam praktik akan menentukan penghematan bahan bakar tahunan bagi maskapai penerbangan.
Masa Depan Aerodinamika dan Efisiensi Energi
Mike Frederick selaku Principal Investigator untuk proyek CATNLF di Armstrong Flight Research Center, sedikit peningkatan efisiensi dapat memberikan penurunan signifikan pada konsumsi bahan bakar dan emisi bagi maskapai komersial.
Ia menekankan bahwa penekanan pada laminar flow adalah kunci untuk mengurangi gesekan pada sayap kapal terbang, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar hambatan aerodinamis.
Pendekatan laminar flow yang dilakukan NASA diharapkan menjadi bagian dari solusi inovatif untuk menjawab kebutuhan industri penerbangan yang semakin menekan efisiensi dan keberlanjutan.
Dalam konteks ekonomi energi serta upaya global untuk menurunkan jejak karbon sektor transportasi udara, teknologi seperti CATNLF pun menjadi sorotan penting tidak hanya di kalangan ilmuwan dan insinyur aeronautika, tetapi juga bagi maskapai dan pembuat kebijakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal



