GPS Jamming Makin Sering Dipakai dalam Konflik, Navigasi Kapal dan Pesawat Terancam

AKURAT.CO Gangguan sinyal GPS atau GPS jamming semakin sering digunakan dalam konflik modern. Teknologi yang awalnya menjadi bagian dari strategi militer kini ikut memengaruhi navigasi transportasi sipil.
Fenomena ini terlihat setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sejumlah kapal di kawasan Teluk mengalami gangguan sistem navigasi.
Beberapa kapal bahkan menunjukkan lokasi yang tidak masuk akal di sistem pelacakan. Posisi mereka muncul di bandara, pembangkit listrik tenaga nuklir, hingga wilayah daratan Iran.
Baca Juga: Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Pasokan Pangan Indonesia
Gangguan tersebut terjadi akibat manipulasi sinyal dari sistem navigasi satelit global atau GNSS. Teknologi ini mencakup GPS yang digunakan secara luas di kapal, pesawat dan perangkat navigasi modern.
Dalam konflik militer, manipulasi sinyal dilakukan melalui dua metode utama yaitu jamming dan spoofing. Keduanya sama-sama bertujuan mengacaukan sistem navigasi berbasis satelit.
Jamming dilakukan dengan memancarkan sinyal radio kuat pada frekuensi yang sama dengan GPS. Hal ini membuat perangkat navigasi tidak mampu menerima sinyal satelit yang sebenarnya.
Sementara itu spoofing membuat sistem navigasi menerima koordinat palsu. Akibatnya perangkat akan menampilkan lokasi yang berbeda dari posisi sebenarnya.
Dikutip dari Windward, Kamis (12/3/2026), gangguan ini berdampak luas. Lebih dari 1.100 kapal komersial di perairan Uni Emirat Arab, Qatar, Oman dan Iran terkena interferensi sinyal.
Gangguan tersebut juga memperlambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia.
Baca Juga: Apakah BBM Indonesia Akan Langka Akibat Konflik Timur Tengah? Ini Penjelasan Pakar Energi
Dikutip dari CNN, sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global melewati kawasan tersebut. Navigasi yang presisi sangat dibutuhkan agar kapal dapat melintas dengan aman.
"Apa yang kita lihat di Teluk Timur Tengah saat ini sangat berbahaya bagi navigasi maritim," ujar Michelle Wiese Bockmann selaku Analis maritim senior Windward.
Dia menjelaskan, beberapa kapal bahkan terpaksa mematikan sistem identifikasi otomatis atau AIS. Sistem tersebut biasanya menyiarkan informasi penting seperti posisi dan kecepatan kapal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026




