Pembangunan 3 Juta Rumah: Tantangan Tata Ruang dan Urbanisasi Berkelanjutan

AKURAT.CO Target ambisius Indonesia membangun 3 juta rumah per tahun bukan hanya tentang mencetak bangunan, tetapi juga akan sangat menentukan wajah kota-kota Indonesia di masa depan.
Menurut Senior Urban Development Specialist World Bank, Luis Triveno, pembangunan skala besar ini harus dibarengi perencanaan tata ruang yang cermat agar tidak memicu urbanisasi tak terkendali dan bencana sosial-ekologis.
“Jika setiap rumah dibangun secara horizontal, Indonesia akan butuh lebih dari 100.000 hektare lahan baru, hampir dua kali ukuran Jakarta,” kata Triveno dalam pertemuan yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Baca Juga: Soal Program Tiga Juta Rumah, Ekonom: OJK Perlu Dorong Inovasi Pembiayaan Perumahan
Menurutnya, pembangunan vertikal di kota yang dirancang padat, terintegrasi, dan efisien dapat mengurangi kebutuhan lahan hingga 90%. Hal ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ruang hidup dan menghindari tekanan berlebih terhadap infrastruktur kota.
Triveno juga menyoroti bagaimana urbanisasi saat ini justru memaksa keluarga berpenghasilan rendah tinggal semakin jauh dari pusat kota karena harga yang tinggi. Padahal, pusat-pusat kota menyimpan potensi besar berupa lahan milik publik dan infrastruktur yang sudah tersedia, yang bisa dioptimalkan untuk pengembangan permukiman vertikal terjangkau.
“Kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta, termasuk BUMN dan BUMD, sangat penting untuk menghubungkan ambisi nasional dengan aksi lokal,” tegasnya.
Selain aspek spasial, ketahanan bencana juga menjadi perhatian utama. Indonesia sebagai negara rawan bencana harus membangun rumah-rumah tahan gempa, banjir, dan perubahan iklim.
“Jangan tunggu jembatan runtuh baru pasang ambulans. Bangun jembatan sebelum jatuh,” katanya.
Baca Juga: Pikirkan Juga Aspek Lingkungan dan Sosial dalam Pembangunan Tiga Juta Rumah
Setiap dolar yang diinvestasikan pada perumahan tahan bencana, menurut studi World Bank, bisa menghemat hingga USD10 dari biaya rekonstruksi pasca-bencana.
Triveno menegaskan bahwa suksesnya program 3 juta rumah per tahun bergantung pada tiga hal utama yakni ambisi investasi, reformasi tata kelola, dan membangun kepercayaan.
“Ini bukan sekadar angka dalam spreadsheet. Ini soal masa depan pekerja, keluarga, dan anak-anak Indonesia yang ingin menyebut tempat itu rumah,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









