Rupiah Turun 35 Poin Ke Rp15.325 Jelang Simposium Jackson Hole

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp15.325 pada penutupan perdagangan Senin, 21 Agustus 2023 menyusul sentimen atas kemungkinan kenaikan suku bunga AS karena data inflasi dan data pasar tenaga kerja yang kuat menopang dolar dalam beberapa pekan terakhir.
Pengamat pasar uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, Federal Reserve baru-baru ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan mendukung suku bunga yang lebih tinggi, dengan analis memperkirakan penurunan suku bunga hanya tahun depan.
Imbal hasil sepuluh tahun juga naik 14 basis poin pada pekan ini dan menyentuh level tertinggi 10 bulan di 4,328%, sedikit lebih tinggi dari level tertinggi 15 tahun. Hasil tiga puluh tahun naik hampir 11 bps ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
"Pasar sekarang menunggu isyarat lebih lanjut tentang ekonomi AS dari Simposium Jackson Hole akhir pekan ini, di mana Ketua Fed Jerome Powell juga diperkirakan akan berbicara," kata Ibrahim dikutip Senin (21/8/2023).
Sebelumnya, sentimen eksternal rupiah adalah PBoC memangkas LPR satu tahun sebesar 10 basis poin (bps) menjadi 3,45%, sedangkan LPR lima tahun, yang digunakan untuk menentukan tingkat hipotek, dibiarkan tidak berubah di 4,20%. Analis memperkirakan pemotongan 15 bps pada setiap penghitungan.
Mengingat kurangnya dukungan moneter, investor saat ini meminta pemerintah untuk meluncurkan langkah-langkah fiskal yang lebih terarah. Tetapi analis memperkirakan Beijing akan menunda langkah-langkah tersebut, dengan alasan tingginya tingkat utang pemerintah.
Faktor Internal Rupiah
Dari sisi internal, sentimen rupiah datang dari pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak bosan-bosannya mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih pemimpin, khususnya pada Pilpres 2024 mendatang. Sebab dalam tahun tersebut RI memiliki peluang untuk terus meningkatkan perekonomian hingga masuk 5 besar ekonomi terkuat di dunia. Pemimpin ke depan sangat menentukan negara ini bisa melompat maju atau tidak.
Oleh karena itu, pemilihan presiden nanti menjadi sangat menentukan arah kebijakan RI ke depannya. Jokowi mencontohkan jangan sampai seperti negara-negara Amerika Latin yang gagal 'naik kelas' dan bertahan jadi negara berkembang karena gagal memanfaatkan potensi negara.
Untuk itu Presiden Jokowi kembali menegaskan kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih pemimpin, khususnya pada Pilpres tahun depan. Sebab menurutnya pada masa inilah Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang jadi negara maju.
"Pernyataan presiden tersebut membuat kontestasi pilpres 2024 semakin memanas. Apalagi partai-partai besar lebih condong berkoalisi kearah capres Prabowo Subianto yang dianggap memenuhi syarat untuk melanjutkan estapet kepemimpinan saat ini," imbuh Ibrahim.
Bahkan para aktivis maupun relawan berbondong-bondong mendeklarasikan dukungan ke kubu Prabowo Subianto, termasuk Budiman Sudjatmiko yang merupakan kader dari PDI Perjuangan. PDIP pun merespon keras Langkah politik yang dilakukan Budiman Sujatmiko, bahkan bisa berujung pemecatan.
Ini semua akibat pernyataan presiden agar pemimpim kedepan harus bisa melanjutkan program Pembangunan berkelanjutan yang saat ini sudah berjalan dan memiliki pemimpin yang siap bekerja untuk kemakmuran rakyat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





