Meski Terkoreksi 6 Persen dalam Sepekan, Ini Alasan Investasi Bitcoin Tetap Diminati
AKURAT.CO Bitcoin terkoreksi 6,17% dalam sepekan ke level USD66.133 atau sekitar Rp1 miliaran, berdasarkan pantauan di CoinMarketCap, Rabu, 3 April 2024 pukul 12.33 WIB.
Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan koreksi Bitcoin di periode ini didorong oleh aliran dana (netflow) ETF Bitcoin Spot pada tanggal 1 April lalu minus USD85,7 juta, yang mana menjadi netflow negatif pertama sejak netflow positif pada 25 Maret.
Fahmi mengatakan koreksi yang terjadi tidak lantas membuat Bitcoin menjadi kurang menarik atau dapat disimpulkan sebagai perubahan arah tren. Sebab Bitcoin masih menarik sebagai instrumen investasi, khususnya dengan dinamika ekonomi dunia yang masih berkutat dengan inflasi dan tantangan pertumbuhan.
Baca Juga: 4 Token Prospektif Jelang Halving Bitcoin
"Kondisi perekonomian internasional dan nasional masih dibayang-bayangi keberhasilan
upaya menurunkan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang turut berpengaruh pada
iklim investasi. Pasalnya, suku bunga tinggi 5 persen lebih The Fed yang telah berlangsung sejak akhir Maret 2023 atau telah menginjak periode satu tahun saat ini, masih belum mampu menurunkan inflasi ke target yang dicanangkan," ujar Fahmi dikutip Rabu (3/4/2024).
Di tingkat domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengumumkan inflasi Ramadan tahun ini naik lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu, yakni 0,52%, menggambarkan kondisi ekonomi global dan nasional masih belum sepenuhnya lepas dari permasalahan inflasi.
Situasi yang terjadi menggarisbawahi pentingnya diversifikasi investasi ke kelas aset global
yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kondisi ekonomi tradisional. Bitcoin menjadi
instrumen yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Oleh sebab itu saat ini banyak investor
institusi di Amerika yang mulai mengadopsi Bitcoin dan menyarankan kliennya untuk
mengalokasikan setidaknya 1% dari portofolio investasinya di Bitcoin.
Usai pandemi Covid-19, lanjut Fahmi, likuiditas mulai menurun imbas peningkatan suku bunga juga menyoroti tantangan yang dihadapi para pelaku usaha.
"Ketika pandemi, uang fiat disirkulasikan dengan optimal untuk mendorong daya beli. Namun pasca periode new normal, likuiditas mulai berkurang dan berdampak pada kekuatan konsumsi domestik, selain juga karena inflasi yang terjadi. Hal ini memberikan tantangan lebih bagi para pelaku bisnis untuk menjaga pertumbuhan laba. Membuat investasi di sektor tradisional menjadi lebih menantang," imbuhnya.
Bitcoin menurutnya merupakan aset yang unik karena memiliki potensi sebagai instrumen yang dapat melindungi investor dari risiko inflasi/ tantangan pertumbuhan ekonomi itu. Bitcoin tak terhubung dengan sektor perekonomian tertentu, negara tertentu, atau institusi tertentu dan diperdagangkan selama 24 jam non-stop di seluruh dunia.
Selain itu, sejumlah perusahaan global pun juga telah mengumumkan kepemilikan Bitcoinnya seperti Tesla, Microsoft, Paypal, dan beberapa lainnya. Terlebih, halving Bitcoin sebagai momentum empat tahunan juga berpotensi mengerek nilai kelangkaan Bitcoin karena tingkat inflasi Bitcoin dipotong setengahnya.
"Secara historis, halving Bitcoin biasanya menjadi momentum yang mengawali pertumbuhan
nilai Bitcoin yang cukup signifikan," ujar Fahmi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










