Konsumerisme Masyarakat Indonesia dan Gaya Hidup Kakeibo Warga Jepang
Demi Ermansyah | 14 Agustus 2024, 19:14 WIB

AKURAT.CO Konsumerisme sampai saat ini menjadi fenomena yang semakin menonjol di masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, urbanisasi, dan kemudahan akses terhadap teknologi digital, masyarakat Indonesia kini memiliki daya beli yang lebih besar dan gaya hidup yang lebih konsumtif.
Di mana hal ini terlihat dari meningkatnya angka belanja konsumen, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun barang-barang mewah. Pergeseran ini juga didorong oleh budaya konsumerisme yang semakin mengakar, di mana barang-barang bermerek dan gaya hidup mewah sering kali dianggap sebagai simbol status sosial.
Ditambah pula dengan media sosial yang memainkan peran penting dalam memperkuat perilaku konsumtif ini, dengan berbagai promosi, influencer, dan iklan yang mendorong individu untuk terus membeli dan mengikuti tren terbaru.
Namun, di tengah euforia konsumsi, muncul tantangan serius terkait pengelolaan keuangan pribadi. Banyak orang yang terjebak dalam siklus pengeluaran yang tidak terkendali, kurangnya tabungan, dan meningkatnya utang. Disinilah relevansi Kakeibo salah satu metode pengelolaan keuangan dari Jepang, menjadi penting.
Menurut Head Consumer Funding & Wealth Business Danamon, Ivan Jaya, hadirnya gaya hidup Kakeibo menjadi salah satu gaya menabung yang harus diterapkan oleh masyarakat Indonesia.
"Di mana metode ini berfokus pada pencatatan dan perencanaan keuangan dengan tujuan utama mengendalikan pengeluaran dan meningkatkan tabungan. Sebab kakeibo mengajak setiap orang untuk secara rutin merenungkan pengeluaran mereka, menanyakan pada diri sendiri apakah setiap pembelian benar-benar diperlukan atau hanya didorong oleh keinginan impulsif," ucapnya pada saat Journalist Class di Jakarta, Rabu (14/8/2024).
Dalam konteks konsumerisme di Indonesia, lanjutnya, kakeibo menawarkan alternatif yang sangat relevan untuk mengelola keuangan secara bijak yakni memberikan kesadaran lebih terhadap sektor Finansial. "Kakeibo membantu individu menjadi lebih sadar akan pengeluaran mereka. Dengan mencatat setiap transaksi, seseorang bisa melihat secara jelas ke mana uang mereka pergi, yang sering kali tidak disadari dalam budaya konsumtif," paparnya.
Kemudian, tambahnya, melalui kakeibo masyarakat Indonesia mampu mengendalikan pengeluaran. "Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu tantangan terbesar dalam masyarakat konsumtif adalah pengeluaran yang tidak terkendali, terutama untuk hal-hal yang sifatnya impulsif atau hanya mengikuti tren. Kakeibo membantu individu menahan godaan untuk belanja berlebihan dengan mendorong mereka berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu," katanya.
Lalu, melalui gaya hidup tersebut kakeibo tidak hanya soal mencatat, tetapi juga tentang merenungkan pola pengeluaran. Dengan rutin melakukan refleksi, seseorang dapat menilai kebiasaan belanja mereka dan mencari cara untuk lebih efisien dalam menggunakan uang.
"Dengan disiplin mencatat pengeluaran dan mengurangi belanja yang tidak perlu, Kakeibo secara efektif membantu individu meningkatkan tabungan mereka. Ini sangat penting di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, di mana memiliki cadangan dana yang cukup bisa memberikan rasa aman," ucapnya.
Oleh karena itu, untuk menerapkan Kakeibo, tegas Ivan, masyarakat Indonesia tidak memerlukan teknologi canggih atau perangkat khusus. Melainkan hanya butuh buku catatan, pena, dan komitmen untuk secara rutin mencatat setiap pengeluaran serta melakukan refleksi bulanan.
"Memang proses ini terlihat sederhana namun efeknya bisa sangat signifikan dalam mengubah cara seseorang mengelola keuangan mereka. Oleh karena itu, masyarakat bisa memulai dengan menetapkan anggaran bulanan, mengkategorikan pengeluaran serta menargetkan jumlah tabungan yang ingin dicapai setiap bulan. Setiap akhir bulan, mereka bisa mengevaluasi apakah target tersebut tercapai dan apa yang bisa diperbaiki di bulan berikutnya," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










