Penghimpunan Dana Pasar Modal Tembus Rp12,3 Triliun per Januari 2025, 18 Perusahaan Antre IPO
Hefriday | 2 Februari 2025, 22:49 WIB

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa sepanjang Januari 2025, total dana yang berhasil dihimpun dari pasar modal telah mencapai Rp12,3 triliun. Penggalangan dana ini berasal dari Initial Public Offering (IPO) dan penerbitan Efek Bersifat Utang (EBUS).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan bahwa hingga 31 Januari 2025, terdapat 8 perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di bursa melalui IPO. Dari aksi korporasi ini, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp3,7 triliun.
Sementara itu, pasar obligasi dan sukuk juga mencatat penerbitan yang cukup besar. Hingga akhir Januari, telah diterbitkan 8 emisi obligasi dari tujuh penerbit EBUS, dengan total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp8,6 triliun.
Meskipun aktivitas IPO dan penerbitan obligasi cukup tinggi, Nyoman mengungkapkan bahwa hingga 31 Januari 2025, belum ada perusahaan yang melaksanakan rights issue di pasar modal Indonesia.
Namun, ia menegaskan bahwa pipeline penggalangan dana masih cukup padat, dengan sejumlah perusahaan yang bersiap melakukan aksi korporasi di bulan-bulan mendatang.
BEI juga mencatat bahwa potensi penghimpunan dana di pasar modal masih akan berlanjut, dengan 18 perusahaan yang sudah masuk dalam pipeline IPO hingga 24 Januari 2025.
Dari jumlah tersebut, 17 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, yang mengindikasikan minat tinggi dari perusahaan berskala besar untuk melantai di bursa.
Dari sisi sektor industri, mayoritas perusahaan dalam pipeline IPO berasal dari sektor:
- Barang Konsumen Primer (6 perusahaan)
- Industri (3 perusahaan)
- Energi (2 perusahaan)
- Kesehatan (2 perusahaan)
- Barang Baku (2 perusahaan)
- Barang Konsumen Non-Primer (1 perusahaan)
- Keuangan (1 perusahaan)
- Transportasi & Logistik (1 perusahaan)
Keberagaman sektor ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap menarik bagi berbagai industri untuk mencari pendanaan publik.
Selain perusahaan yang bersiap melantai di bursa melalui IPO, BEI juga mencatat bahwa terdapat 7 perusahaan yang masuk dalam antrean untuk melakukan rights issue.
Rencana ini mencakup berbagai sektor, dengan komposisi barang baku 3 perusahaan, energi 2 perusahaan dan kesehatan 2 perusahaan
Rights issue menjadi strategi bagi perusahaan untuk memperoleh tambahan modal dengan menawarkan saham baru kepada pemegang saham lama.
Selain aksi korporasi di sektor ekuitas, penerbitan Efek Bersifat Utang (EBUS) juga masih menjadi alternatif pendanaan yang diminati perusahaan. Hingga Januari 2025, masih terdapat 18 emisi dari 14 penerbit yang masuk dalam pipeline untuk menerbitkan obligasi dan sukuk.
Penerbitan obligasi ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap instrumen pendapatan tetap, terutama di tengah ketidakpastian pasar saham.
Menurut Nyoman, minat tinggi dari korporasi untuk mencari pendanaan di pasar modal dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Di antaranya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif, stabilitas pasar keuangan dan regulasi yang kondusif serta minat investor yang tinggi terhadap aset pasar modal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










