Akurat
Pemprov Sumsel

Wall Street Terseret Aksi Jual di Tengah Ketidakpastian Global

Hefriday | 22 Februari 2025, 19:28 WIB
Wall Street Terseret Aksi Jual di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Indeks-indeks utama di Wall Street mengalami tekanan berat pada Jumat (21/2/2025), di mana aksi jual besar-besaran terjadi usai rilis data ekonomi terbaru memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang tinggi.

Kondisi ini membuat para investor beralih mencari aset yang lebih aman sebagai upaya mengurangi risiko.

Menurut laporan dari CNBC internasional, Sabtu (22/2/2025), Dow Jones Industrial Average (DJIA) terperosok hingga 748,63 poin atau setara penurunan 1,69%, mencapai level 43.428,02. Penurunan ini merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2025, dengan kerugian akumulasi selama dua hari mendekati angka 1.200 poin.
 
Tidak hanya DJIA, indeks S&P 500 juga mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan bahwa indeks ini turun sebesar 1,71%, sehingga tertutup pada angka 6.013,13. Sementara itu, Nasdaq Composite mengalami penurunan lebih tajam sebesar 2,2% ke level 19.524,01.
 
Kekhawatiran para investor semakin meningkat ketika beberapa data ekonomi menunjukkan adanya tanda-tanda perlambatan. Angka-angka tersebut membuat pasar global semakin waspada terhadap potensi dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
 
 
Indeks sentimen konsumen yang dirilis oleh University of Michigan pun menunjukkan penurunan drastis, tercatat hanya 64,7 pada bulan Februari. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, sehingga menambah ketidakpastian di kalangan pelaku pasar.
 
Isu inflasi juga menjadi sorotan utama. Rencana tarif baru yang diajukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran akan adanya lonjakan inflasi. Proyeksi inflasi lima tahun kini naik ke 3,5%, level tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 1995.
 
Di sektor properti, situasi pun tidak menunjukkan perbaikan. Penjualan rumah di Amerika Serikat melambat dan tercatat hanya mencapai 4,08 juta unit pada Januari, lebih rendah dari ekspektasi. Sementara itu, indeks manajer pembelian (PMI) untuk sektor jasa jatuh ke zona kontraksi, mengindikasikan adanya tekanan pada sektor non-manufaktur.
 
Dampak dari kekhawatiran ekonomi juga terlihat pada pergerakan saham individu. Saham Walmart anjlok sekitar 2,5% setelah perusahaan memberikan proyeksi keuangan yang lemah, menambah daftar kekhawatiran terkait daya beli konsumen dan kondisi ekonomi secara umum.
 
Meski begitu, tidak semua sektor mengalami tekanan. Beberapa saham defensif menunjukkan performa yang lebih baik. Saham Procter & Gamble mencatat kenaikan sebesar 1,8%, sementara General Mills dan Kraft Heinz masing-masing menguat lebih dari 3%, mencerminkan pergeseran minat investor ke sektor yang dianggap lebih tahan banting di tengah gejolak pasar.
 
Secara mingguan, indeks S&P 500 mengalami pelemahan sekitar 1,7%, sedangkan Dow Jones dan Nasdaq masing-masing turun hingga 2,5%. Tren ini menegaskan bahwa kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi telah merambah ke seluruh pasar keuangan global.
 
Analis dan Pendiri Blue Chip Daily Trend Report, Larry Tentarelli, mengungkapkan bahwa dari 20 saham terbaik di S&P 500 pada hari tersebut, mayoritas berasal dari sektor-sektor defensif seperti barang konsumsi, utilitas, dan layanan kesehatan. Menurutnya, pergeseran ini merupakan respons alami para investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
 
Situasi pasar yang bergejolak ini menjadi sinyal bagi para pelaku investasi untuk lebih berhati-hati dan mengevaluasi kembali portofolio mereka. Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu, peralihan ke aset defensif diyakini menjadi strategi kunci untuk mengantisipasi risiko perlambatan dan tekanan inflasi ke depan.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa