Popularitas Anjlok, Trump Percepat Agenda Pajak di Tengah Tekanan Ekonomi

AKURAT.CO Ketidakpuasan publik terhadap pengelolaan ekonomi Amerika Serikat oleh Presiden Donald Trump semakin memperburuk posisi Partai Republik di Kongres menjelang 100 hari masa jabatan keduanya.
Dikutip dari hasil jajak pendapat terbaru oleh NBC, CNN, New York Times/Siena, ABC News, dan Fox News kompak menunjukkan bahwa hanya 39% pemilih yang mendukung cara Trump mengelola perekonomian.
Kebijakan tarif yang diterapkan secara tergesa-gesa pada awal April 2025 dinilai sebagai penyebab ketidakstabilan pasar global. Situasi ini meningkatkan tekanan kepada anggota Kongres dari Partai Republik untuk segera meloloskan rencana pemotongan pajak yang diusulkan Trump guna memperbaiki citra partai menjelang Pemilu Paruh Waktu 2026.
Meski demikian, tantangan internal mengemuka. Partai Republik berencana menggunakan prosedur khusus agar pengesahan RUU pajak tidak memerlukan dukungan Demokrat. Namun, dengan angka popularitas Trump yang merosot, menjaga soliditas partai menjadi kian sulit.
Baca Juga: Tarif Tinggi Trump Ancam Ekonomi AS, Potensi Resesi Membayangi
Menurut Ahli Strategi Partai Republik, Chris Wilson, pelunakan Trump terhadap beberapa kebijakannya tidak akan menggoyahkan posisinya di dalam partai, namun efek jangka panjang terhadap elektabilitas legislatif patut diwaspadai.
Ekonomi AS diproyeksikan tumbuh lebih lambat, yakni hanya 1,4% pada 2025, memperkuat kekhawatiran akan resesi. Para ahli memperkirakan resesi dapat memperburuk peluang Partai Republik mempertahankan kekuasaan di Kongres.
Dalam upaya meredakan kegelisahan pasar, Trump menangguhkan penerapan tarif selama 90 hari sambil merundingkan kesepakatan perdagangan bilateral. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan pemilih yang kian goyah.
Trump sendiri menunjukkan frustrasi melalui unggahan di Truth Social, mengkritik hasil jajak pendapat Fox News yang menempatkannya di angka 38% dalam hal ekonomi dan 33% dalam isu inflasi.
Sementara itu, Trump berencana menggelar sejumlah acara publik, termasuk rapat umum di Michigan dan pidato wisuda di Universitas Alabama, untuk menggalang kembali dukungan dan memperkuat narasi keberhasilan ekonominya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








