OJK: Likuiditas dan Permodalan Perbankan Kuat, NPL Rendah

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa sistem perbankan nasional tetap dalam kondisi stabil dan sehat. Rasio kecukupan modal dan likuiditas berada jauh di atas ambang batas aman, dengan profil risiko yang masih terkendali.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengungkapkan, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Juni 2025 berada di level tinggi yakni 25,79%, mengindikasikan kekuatan modal yang memadai dalam mengantisipasi risiko.
"Rasio CAR kita sangat baik, menunjukkan bahwa ketahanan perbankan terhadap tekanan eksternal masih sangat kuat," kata Mahendra pada saat konferensi pers KSSK bersama media di Jakarta, Senin (28/7/2025).
Baca Juga: OJK Dorong Skema Pembiayaan Inklusif untuk Koperasi Desa Merah Putih
Selain itu, indikator likuiditas juga menunjukkan ruang manuver yang luas bagi industri. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di level 27,05%, dan Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) di angka 118,78%, jauh di atas batas minimum masing-masing yakni 10% dan 50%.
"Ini memberi keyakinan bahwa sistem perbankan kita siap menopang kebutuhan likuiditas dan mendukung intermediasi," tambah Mahendra.
Sementara itu, kualitas aset perbankan tetap terjaga dengan baik. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,22%, dan NPL net hanya 0,84%, menunjukkan tingkat risiko kredit yang manageable.
Dari sisi pembiayaan, total kredit perbankan mencapai Rp8.059,79 triliun atau tumbuh 7,77% yoy. Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi (12,53% yoy), diikuti kredit konsumsi (8,49% yoy), dan kredit modal kerja (4,45% yoy).
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi Rp9.329 triliun, atau tumbuh 6,96% yoy. Komponen giro mencatat pertumbuhan tertinggi yakni 10,35% yoy, disusul tabungan 6,84% yoy dan deposito 4,19% yoy.
"Perbankan nasional terus menunjukkan ketahanan dan fungsi intermediasi yang positif," ujar Mahendra.
Baca Juga: Rapat KSSK, Bos OJK Update Tarif Trump hingga Keuangan Syariah
Dalam konteks yang lebih luas, Mahendra menyampaikan bahwa sektor jasa keuangan secara keseluruhan stabil di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik dan tensi perdagangan.
Kinerja pasar modal turut menunjukkan pemulihan pada triwulan II 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 6,41% secara kuartalan ke level 6.927,68, meski masih mencatat pelemahan 2,15% secara tahunan (year to date).
Selain itu, sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun mencatat pertumbuhan aset sebesar 3,27% yoy menjadi Rp1.163,11 triliun, dan pembiayaan perusahaan juga tumbuh sebesar 1,96% yoy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








