Serial Kemerdekaan IV: Generasi Muda di Pusaran Kemerdekaan dan Perekonomian
Hefriday | 16 Agustus 2025, 19:17 WIB

AKURAT.CO Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ia lahir dari perjuangan panjang para pahlawan yang mempertaruhkan nyawa, tenaga, dan pemikiran demi sebuah cita-cita besar, yakni Indonesia merdeka.
Kini, delapan dekade kemudian, tantangan generasi muda tidak lagi melawan penjajah dengan bambu runcing. Kolonialisme baru hadir dalam bentuk ketertinggalan teknologi, krisis lingkungan, hingga kompetisi global yang semakin ketat.
Peran generasi muda dalam menjaga api kemerdekaan menjadi krusial. Mereka adalah kelompok yang berada di garis depan perubahan sosial, budaya, politik, dan ekonomi.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia saat ini mencapai lebih dari 64 juta jiwa atau sekitar 23% dari total penduduk. Artinya, seperempat kekuatan bangsa berada di tangan mereka.
Dari Pejuang Era 1945 ke Globalisasi
Jika pada masa lalu pemuda menjadi motor pergerakan nasional melalui organisasi seperti Budi Utomo, Jong Java, hingga Sumpah Pemuda 1928, maka di era modern mereka bergerak melalui ruang digital. Media sosial menjadi arena baru untuk menyuarakan aspirasi, membangun jejaring, dan menginisiasi perubahan.
Bukan tanpa alasan banyak yang menyebut generasi muda saat ini sebagai digital native. Akses teknologi memberi peluang luas untuk belajar, berinovasi, dan bersaing di level internasional. Inilah relevansi baru dari kemerdekaan: memastikan generasi muda bebas berkreasi tanpa hambatan struktural.
Baca Juga: Serial Kemerdekaan II: Suara Kelas Menengah
Namun, kebebasan itu juga datang dengan tantangan. Globalisasi membawa arus budaya dan informasi yang deras. Tanpa filter nilai kebangsaan yang kuat, generasi muda bisa kehilangan jati diri dan terjebak dalam euforia modernitas.
Krisis identitas menjadi ancaman nyata. Banyak anak muda lebih mengenal budaya luar dibandingkan warisan bangsanya sendiri. Padahal, kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga merdeka secara kultural dan ideologis.
Kemerdekaan Versi Generasi Milenial dan Gen Z
Setiap generasi memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Bagi sebagian, kemerdekaan berarti bebas dari penjajahan dan perbudakan. Bagi yang lain, ia terkait dengan kesejahteraan masyarakat, hingga konsep Financial freedom.
Seperti halnya Ikhsan (27) menyatakan bahwa kemerdekaan hari ini bukan lagi sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan kebebasan untuk berkreasi dan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan serta teknologi.
"Kalau menurut gua ya, merdeka itu ketika anak muda tidak lagi terkendala biaya untuk menuntut ilmu dan bisa bersaing secara global,” ujarnya kepada Akurat.co, Jumat (15/8/2025).
Sementara itu, Eko (29) menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Sebab ia melihat kemerdekaan masa kini erat kaitannya dengan kemampuan generasi muda dalam mencapai financial freedom.
“Kalau dulu orang berjuang merebut kemerdekaan, sekarang perjuangan kita adalah terbebas dari lilitan utang, jadi kaga kena teror lalu memiliki kehidupan yang layak dan tentu kalau gua pribadi ya generasi muda saat ini harus memiliki usaha sendiri minimal satu aja. Kenapa bisa bilang begitu? soalnya kalau kita punya usaha kita sendiri yang ngurusinnya tanpa harus was-was kena PHK, apalagi ya keadaan pekerjaan juga sedang tidak baik-baik saja ya kan," katanya.
Berbeda halnya dengan Nurmala (25), bagi dirinya konsep kemerdekaan yakni terciptanya ruang aman bagi semua orang untuk berekspresi. Sebab menurut dirinya kebebasan berpendapat, toleransi, dan kesetaraan gender menjadi indikator nyata bahwa bangsa ini sudah semakin dewasa dalam memaknai kemerdekaan.
“Perempuan sekarang bisa jadi apa saja, itu salah satu wujud nyata kemerdekaan, kesetaraan gender harus seimbang baru itu yang namanya kemerdekaan,” ungkapnya.
Uniknya, Wahyu (28) melihat kemerdekaan dari sisi digital. Baginya, akses internet yang merata adalah bentuk kemerdekaan baru karena memungkinkan generasi muda membuka peluang kerja, pendidikan, dan relasi tanpa batas ruang. “Kalau internet bisa merata sampai pelosok, itu artinya kita benar-benar merdeka di era digital,” jelas Wahyu.
Desi (26), menyoroti aspek lingkungan. Menurutnya, kemerdekaan yang sejati adalah ketika bangsa mampu menjaga kedaulatan pangan dan energi dengan tetap melestarikan alam. "Kita tidak bisa disebut merdeka kalau masih tergantung pada impor pangan atau energi yang merusak lingkungan,” katanya.
Dan yang terakhir, Irfan (30) menilai kemerdekaan sebagai kemampuan generasi muda untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa. “Merdeka itu kalau kita diberi ruang berkontribusi nyata, bukan hanya jadi penonton. Anak muda harus punya kursi dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.
Beragam pandangan ini menunjukkan bahwa makna kemerdekaan kini berkembang luas, dari kemandirian ekonomi, kebebasan berekspresi, kepedulian lingkungan, hingga partisipasi politik.
Peran Pendidikan sebagai Pilar Kemerdekaan
Kualitas pendidikan tetap menjadi kunci agar generasi muda mampu menjawab tantangan zaman. Di era global, literasi digital, sains, dan teknologi menjadi kebutuhan utama. Namun, pendidikan karakter juga tidak boleh diabaikan.
Banyak pihak menilai, pendidikan saat ini terlalu fokus pada capaian akademik, sementara nilai kebangsaan dan sejarah perjuangan kurang diperhatikan. Padahal, pemahaman sejarah adalah fondasi penting dalam menjaga kemerdekaan.
Tak hanya itu saja, generasi muda juga dapat mampu menjadi penggerak dalam isu sosial, mulai dari lingkungan, kesetaraan gender, hingga demokrasi. Mereka aktif membangun komunitas, menginisiasi gerakan akar rumput, hingga melakukan advokasi kebijakan.
Sejarah mencatat, perubahan besar di Indonesia kerap dimulai dari tangan pemuda. Reformasi 1998 adalah salah satunya. Kini, meski konteks berbeda, semangat kritis itu tetap penting untuk memastikan kemerdekaan dinikmati seluruh rakyat, bukan hanya segelintir elite.
Modal Menuju Indonesia Emas 2045
Peringatan Hari Kemerdekaan memang sering ditandai upacara dan lomba rakyat. Namun, generasi muda perlu memaknainya lebih jauh: sebagai tanggung jawab untuk berkontribusi bagi bangsa.
Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045, tepat 100 tahun kemerdekaan. Visi “Indonesia Emas” tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan generasi muda.
Presiden Prabowo Subianto sering sekali menegaskan bahwa program pembangunan manusia, mulai dari pendidikan hingga makan bergizi gratis, menjadi fondasi mencetak generasi unggul.
Oleh karena itu, saat ini generasi muda memegang kunci keberlanjutan bangsa. Jika dulu kemerdekaan diperjuangkan dengan darah dan air mata, kini ia harus dijaga dengan pengetahuan, kreativitas, solidaritas, dan integritas.
Hanya dengan semangat itulah api kemerdekaan akan tetap menyala, bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan energi untuk masa depan Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










