Sri Mulyani Hadapi Dilema Antara Keseimbangan Pajak dan Investasi

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah menghadapi tantangan berat dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan penerimaan pajak dan penciptaan iklim investasi yang kondusif.
Dua hal tersebut, menurutnya, kerap berada di posisi yang saling berlawanan, tetapi sama-sama penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Memang dalam hal ini tugas kami berat di dua sisi yang sangat ekstrem. Di satu sisi menaikkan penerimaan pajak, di sisi lain mendukung iklim investasi untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Sri Mulyani: Rp223,6 Triliun Anggaran Pendidikan Dialokasikan untuk MBG
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp2.357,7 triliun, naik 13,5% dari proyeksi tahun ini Rp2.076,9 triliun.
"Jika ditambah kepabeanan dan cukai yang dipatok Rp334,3 triliun, maka total penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp2.692 triliun, atau tumbuh 12,8 persen," paparnya.
Sri Mulyani menegaskan instrumen perpajakan akan diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi. Rasio pajak tahun depan ditargetkan mencapai 10,47% dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari proyeksi tahun ini sebesar 10,03%.
Namun, kenaikan penerimaan negara harus tetap memperhatikan daya saing investasi. Pemerintah berkomitmen memperkuat iklim investasi dengan melibatkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara serta sektor swasta, termasuk melalui insentif fiskal dan pengembangan kawasan ekonomi.
Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Video Sri Mulyani soal Guru Beban Negara Adalah Hoaks
“Ini (pajak dan investasi) akan kami jaga secara hati-hati, seimbang di antara dua tujuan yang sama sekali berbeda,” kata Sri Mulyani.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2026 ditargetkan sebesar 5,4%, sebagai langkah menuju target Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan 8%.
Dengan keseimbangan kebijakan fiskal dan investasi, pemerintah berharap mampu mewujudkan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








