Akurat
Pemprov Sumsel

Saham Big Bank Anjlok Usai Pergantian Menkeu, OJK Sebut sebagai Siklus Jangka Pendek

Naufal Lanten | 9 September 2025, 16:58 WIB
Saham Big Bank Anjlok Usai Pergantian Menkeu, OJK Sebut sebagai Siklus Jangka Pendek

AKURAT.CO Perdagangan saham pada Selasa, 9 September 2025, dibuka dengan guncangan di sektor perbankan, khususnya yang masuk kategori big bank seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Saham-saham dengan kapitalisasi besar kompak melemah setelah sehari sebelumnya Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai arah pasar ke depan, terutama karena sektor finansial menjadi salah satu penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Saham Perbankan Terkoreksi Serentak

Berdasarkan data perdagangan Selasa, 9 September 2025, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,27% ke level Rp7.525 per saham. Sepanjang sesi pertama, BBCA mencatat volume transaksi mencapai 384,47 juta saham dengan nilai Rp2,92 triliun. Aktivitas jual beli tercatat 127.437 kali, dengan aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) sebesar Rp1,25 triliun. Sepanjang 2025, net foreign sell BBCA bahkan sudah mencapai Rp24,55 triliun.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga melemah 2,45% ke posisi Rp4.380 per saham, dengan volume transaksi 289,33 juta dan nilai Rp1,28 triliun. Hingga tengah hari, saham BMRI diperdagangkan 61.639 kali. Investor asing mencatat aksi jual bersih Rp347,21 miliar pada sesi ini, menambah akumulasi net foreign sell sepanjang 2025 yang sudah tembus Rp13,41 triliun.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tak luput dari tekanan. Sahamnya turun 2,87% ke Rp4.060 per saham, dengan volume transaksi 58,39 juta lembar senilai Rp239,34 miliar. Meski pada perdagangan hari ini tercatat net foreign buy Rp33,57 miliar, secara keseluruhan sepanjang 2025 BBNI masih mengalami net foreign sell Rp2,44 triliun.

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 2,05% ke Rp3.820 per saham. Transaksi mencapai 224,91 juta lembar dengan nilai Rp857,74 miliar. Pada sesi pertama, BBRI mencatat net foreign buy Rp73,55 miliar, namun sepanjang tahun masih menanggung net foreign sell Rp629,96 miliar.

Secara sektoral, finansial menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 2,48% pada perdagangan kemarin, dan tren pelemahan masih berlanjut pada hari ini.

OJK: Fundamental Bank Indonesia Masih Sehat

Di tengah gejolak pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kondisi perbankan nasional tetap kokoh. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut fluktuasi saham bank lebih dipengaruhi persepsi jangka pendek investor ketimbang masalah fundamental.

“Kalau saya melihat itu sebagai suatu siklus. Ada beberapa faktor yang berpengaruh, selain faktor global, juga masalah persepsi yang mungkin belum pas dari investor terkait kondisi, misalnya soal sosial politik,” ujar Dian di JW Marriot Hotel seusai beliau menghadiri Digital Banking Awards yang diselenggarakan oleh Investortrust.id, Selasa, 9 September 2025.

Ia menegaskan, baik bank pemerintah maupun swasta berada dalam kondisi sehat dengan pengawasan ketat. “Pasar modal itu sangat tergantung persepsi, tapi secara fundamental bank-bank pemerintah maupun swasta kuat,” tambahnya.

Dian mengingatkan agar investor tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya dari pergerakan harian. “Investor sebaiknya tidak melihat jangka pendek, tapi jangka menengah dan panjang. Kalau dipahami bahwa otoritas mengawasi perbankan dengan baik dan tidak ada masalah fundamental, mestinya kondisi ini akan pulih dalam waktu tidak terlalu lama,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya stabilitas politik dan sosial sebagai prasyarat agar pemulihan berjalan lancar. “Itu penting. Tapi yang paling utama, sebagai pengawas saya ingin menegaskan kepada investor bahwa bank kita secara fundamental kuat. Jadi investor tidak perlu khawatir,” tegas Dian.

Peran OJK dalam Menjaga Kepercayaan Publik

Dian mengingatkan kembali bahwa OJK adalah lembaga independen yang mengawasi seluruh sektor keuangan, termasuk perbankan, dan menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat ekonomi nasional. Menurutnya, sektor perbankan merupakan sektor paling ketat aturannya karena berlandaskan prinsip kehati-hatian (prudency regulation), dan seluruh regulasi tersebut telah dipenuhi oleh bank di Indonesia.

“Jadi tidak usah khawatir, apapun yang terjadi bank tetap dalam kontrol kami. Intinya, lihatlah fundamental. Jangan hanya jangka pendek. Fluktuasi persepsi bisa berubah setiap saat. Jadi lebih baik investor melihat perbankan dalam perspektif menengah-panjang,” ungkapnya.

Penutup

Gejolak harga saham bank besar setelah pergantian Menteri Keuangan menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap sentimen dan persepsi. Namun, OJK menegaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena fundamental perbankan Indonesia tetap kuat.

Bagi investor, pesan pentingnya jelas: jangan terjebak pada kepanikan jangka pendek, tapi perhatikan prospek jangka menengah dan panjang. Stabilitas politik dan sosial menjadi kunci, sementara pengawasan sektor keuangan tetap berjalan ketat.


Baca Juga: Jangan Ketinggalan! Ini Cara Cek dan Prediksi Saham IPO Paling Panas September 2025

Baca Juga: Daftar Saham Incaran Miliarder Saat Ini, Peluang Investasi dari Para Investor

FAQ

1. Kenapa saham perbankan turun setelah pergantian Menteri Keuangan?
Saham perbankan turun karena sentimen pasar yang dipicu oleh pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa. Investor cenderung bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan fiskal dan kondisi politik, meskipun fundamental perbankan masih sehat.

2. Apakah pelemahan saham bank ini menandakan masalah serius di sektor perbankan?
Tidak. OJK menegaskan bahwa fundamental bank pemerintah maupun swasta tetap kuat. Pelemahan harga saham lebih dipengaruhi faktor psikologis dan sentimen jangka pendek, bukan masalah struktural.

3. Bagaimana kinerja saham-saham bank besar pada 9 September 2025?

  • BBCA turun 2,27% ke Rp7.525 per saham dengan net foreign sell Rp1,25 triliun.

  • BMRI melemah 2,45% ke Rp4.380 per saham dengan net foreign sell Rp347,21 miliar.

  • BBNI terkoreksi 2,87% ke Rp4.060 per saham meski ada net foreign buy Rp33,57 miliar.

  • BBRI turun 2,05% ke Rp3.820 per saham dengan net foreign buy Rp73,55 miliar.

4. Apa pesan OJK untuk investor saham bank?
OJK meminta investor tidak melihat hanya jangka pendek. Fluktuasi saham bisa terjadi karena persepsi, tetapi dalam jangka menengah-panjang prospek perbankan tetap solid.

5. Apa peran OJK dalam menjaga stabilitas perbankan?
OJK adalah lembaga independen yang mengawasi sektor keuangan, termasuk perbankan. OJK memastikan bank mengikuti aturan prudensi (prudency regulation) dan tetap dalam pengawasan ketat untuk menjaga kepercayaan publik.

6. Apakah kondisi politik berpengaruh pada saham perbankan?
Ya. Stabilitas politik dan sosial sangat berpengaruh pada persepsi investor. OJK menekankan pentingnya kondisi ini agar pemulihan pasar berjalan lebih cepat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.