Akurat
Pemprov Sumsel

Indonesia Negara Rawan Bencana: Allianz Dorong Pentingnya Asuransi Properti

Naufal Lanten | 2 Oktober 2025, 19:44 WIB
Indonesia Negara Rawan Bencana: Allianz Dorong Pentingnya Asuransi Properti

 

AKURAT.CO Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Menurut World Risk Report 2023, posisi Indonesia berada di peringkat kedua dari 193 negara paling rawan bencana, hanya kalah dari Filipina.

Letak geografis yang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama—Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina—menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, hingga cuaca ekstrem.

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir semakin menegaskan kerentanan ini. Misalnya:

  • Banjir bandang di Bali pada September 2025 yang merusak infrastruktur dan melumpuhkan sektor pariwisata.

  • Banjir besar di Jabodetabek pada Maret 2025 yang merendam ribuan rumah serta fasilitas publik.

  • Gempa bumi M4,7 di Bekasi pada Agustus 2025 yang getarannya dirasakan hingga Jakarta, Depok, dan Sukabumi.

Rangkaian kejadian tersebut membuktikan bahwa bencana bisa datang kapan saja, membawa dampak serius tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga dunia usaha, dari skala kecil hingga korporasi besar.


Risiko Tinggi, Proteksi Aset Masih Rendah

Meski kesadaran masyarakat terhadap literasi keuangan meningkat, kesadaran akan proteksi asuransi masih tertinggal. Data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh OJK mencatat indeks literasi keuangan nasional sudah mencapai 66,46% dengan tingkat inklusi 80,51%.

Namun, khusus di sektor asuransi, angkanya masih jauh tertinggal:

  • Literasi asuransi: 45,45%

  • Inklusi asuransi: 28,50%

Kesenjangan ini tercermin dari rendahnya kepemilikan asuransi properti. Menurut data MAIPARK tahun 2023, hanya sekitar 0,1% atau 36 ribu rumah dari total 64 juta rumah tinggal yang memiliki perlindungan asuransi.

Padahal, kerugian ekonomi akibat bencana sangat besar. BPS mencatat banjir menjadi bencana paling sering terjadi sepanjang 2024 dengan lebih dari 1.400 kasus dan potensi kerugian lebih dari Rp500 triliun. Cuaca ekstrem dan kebakaran hutan bahkan diperkirakan menimbulkan kerugian antara Rp700–800 triliun.

“Masih banyak masyarakat dan pelaku bisnis yang memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tetapi belum menjadikan asuransi sebagai bagian dari strategi perlindungan aset. Padahal, tanpa proteksi, kerugian akibat bencana bisa berlipat ganda dan menghentikan aktivitas usaha secara tiba-tiba yang tentunya akan mengganggu kesinambungan usaha dan pada ujungnya berdampak pada ekonomi,” ungkap Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia dalam webinar yang diselenggarakan Kamis, 2 Oktober 2025.


Proyeksi Risiko Bencana: Ancaman Nyata di Masa Depan

Kerugian akibat bencana tidak hanya dirasakan secara langsung, tetapi juga menimbulkan dampak tidak langsung pada perekonomian. Studi BPS menunjukkan setiap satu kejadian bencana dapat menurunkan PDB per kapita sebesar Rp2.386, atau setara dengan potensi penurunan Rp7,43 juta per kapita dalam setahun.

Sektor perdagangan dan manufaktur menjadi yang paling terpukul. Kerugian tidak langsung di sektor perdagangan diperkirakan mencapai Rp23,96 triliun per tahun, sementara manufaktur mencapai Rp19,51 triliun per tahun.

Dari sisi geologi, risiko gempa di Indonesia juga sangat besar. Peta Sumber Gempa Nasional 2017 mencatat ada 295 sesar aktif di seluruh wilayah Indonesia. Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam lima tahun terakhir beberapa gempa signifikan berasal dari patahan yang belum terpetakan (unmapped faults). Fakta ini menunjukkan bahwa kemungkinan adanya tambahan sumber gempa akan masuk dalam pembaruan Peta Sumber Gempa Nasional 2025, termasuk potensi megathrust yang bisa memicu gempa besar dan tsunami.

“Kerentanan Indonesia terhadap bencana sudah terbukti. Tanpa langkah mitigasi yang kuat, termasuk perlindungan finansial melalui asuransi, kerugian yang ditimbulkan bisa sangat luas, tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga sektor ekonomi secara keseluruhan,” tegas Ruben Damanik, Strategic Planning & Risk Management Group Head MAIPARK Indonesia.


Allianz Hadir dengan Solusi Proteksi Menyeluruh

Melihat kondisi tersebut, Allianz Utama Indonesia menghadirkan solusi perlindungan menyeluruh melalui produk Property All Risk. Perlindungan ini mencakup berbagai aset bisnis, mulai dari kantor, pabrik, gudang, hingga bangunan komersial lainnya.

Cakupan perlindungan juga diperluas untuk risiko banjir, gempa bumi, dan pencurian. Bahkan, polis ini melindungi potensi kehilangan pendapatan akibat terhentinya operasional bisnis pasca bencana.

Selain itu, Allianz memperkuat layanan dengan:

  • Proses klaim yang transparan dan cepat, termasuk jalur khusus jika terjadi bencana berskala besar.

  • Dukungan finansial dan teknis dari Allianz Group, yang memastikan klaim dibayarkan tepat waktu sesuai ketentuan polis.

“Allianz percaya bahwa proteksi asuransi bukan sekadar menjaga aset fisik, tetapi juga menjaga kesinambungan bisnis dan stabilitas ekonomi. Kami berkomitmen untuk meningkatkan literasi asuransi agar semakin banyak pelaku usaha menyadari pentingnya perlindungan ini,” tutup Ignatius Hendrawan.


Kesimpulan

Indonesia memang tidak bisa lepas dari ancaman bencana alam, mulai dari banjir, gempa, hingga cuaca ekstrem. Namun, risiko besar tersebut bisa diminimalisir jika ada langkah mitigasi yang tepat, salah satunya melalui asuransi properti.

Dengan proteksi yang tepat, pelaku usaha dan masyarakat tidak hanya menjaga aset fisik, tetapi juga memastikan kelangsungan aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun bencana datang tiba-tiba.

Baca Juga: RI Rawan Gempa hingga Tsunami, Saatnya Punya Asuransi Properti

Baca Juga: 7 Perusahaan Asuransi Berpotensi Rugi di Tahun 2025, Apa Penyebabnya?

FAQ

1. Kenapa Indonesia termasuk negara dengan risiko bencana tinggi?

Karena Indonesia berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama: Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Kondisi ini membuat Indonesia rawan gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir, serta cuaca ekstrem.

2. Apa bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), banjir menjadi bencana paling sering terjadi di Indonesia dengan lebih dari 1.400 kasus sepanjang 2024, diikuti cuaca ekstrem, kebakaran hutan, dan gempa bumi.

3. Seberapa besar potensi kerugian ekonomi akibat bencana di Indonesia?

Banjir diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari Rp500 triliun per tahun. Sementara cuaca ekstrem dan kebakaran hutan diperkirakan menimbulkan risiko kerugian hingga Rp700–800 triliun.

4. Mengapa kesadaran masyarakat terhadap asuransi properti masih rendah?

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan literasi asuransi baru mencapai 45,45% dan inklusi hanya 28,50%. Hal ini membuat kepemilikan asuransi properti masih minim, hanya sekitar 0,1% dari total rumah tinggal di Indonesia.

5. Apa dampak ekonomi jika bisnis tidak memiliki perlindungan asuransi saat bencana terjadi?

Tanpa proteksi, kerugian akibat bencana bisa melipatgandakan kerugian finansial. Bahkan, banyak usaha bisa berhenti beroperasi secara tiba-tiba, yang berpotensi mengganggu kelangsungan bisnis dan stabilitas ekonomi nasional.

6. Apa itu asuransi Property All Risk dari Allianz?

Property All Risk adalah produk asuransi dari Allianz Utama Indonesia yang melindungi aset bisnis seperti kantor, gudang, pabrik, hingga bangunan komersial. Cakupannya termasuk risiko banjir, gempa bumi, pencurian, dan perlindungan terhadap kehilangan pendapatan akibat berhentinya operasional pasca bencana.

7. Bagaimana proses klaim asuransi properti dari Allianz?

Allianz menyediakan proses klaim yang transparan dan cepat, bahkan menyiapkan jalur khusus untuk bencana berskala besar. Dukungan finansial dari Allianz Group memastikan pembayaran klaim dilakukan tepat waktu sesuai polis.

8. Apa langkah mitigasi yang bisa dilakukan masyarakat dan pelaku usaha menghadapi bencana?

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain: meningkatkan literasi keuangan, membuat rencana evakuasi, memperkuat infrastruktur bangunan, serta melengkapi proteksi aset melalui asuransi properti.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.