Ekonomi NTT Tumbuh 5,44 Persen, OJK Ajak Perbankan Perluas Pembiayaan

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat peran sektor jasa keuangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan, terutama di kawasan timur Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam pertemuan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Provinsi NTT, dan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) NTT di Kantor OJK NTT.
Dian menjelaskan, sektor perbankan masih memiliki peluang besar untuk berkembang di wilayah NTT. Hal ini didukung oleh meningkatnya kinerja ekonomi dan potensi sektor unggulan daerah yang terus menunjukkan tren positif.
Baca Juga: OJK Beberkan 10 Modus Penipuan Paling Marak, dari Investasi Bodong hingga Jual Beli Online
“NTT memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan terus menunjukkan tren positif. Ini menjadi momentum bagi industri perbankan untuk lebih aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif yang berdaya saing,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Secara kinerja, industri perbankan di NTT menunjukkan perkembangan stabil dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Hingga Agustus 2025, aset perbankan tumbuh 4,04%, penyaluran kredit naik 1,52%, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,96%.
Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) mencapai 120,37%, menunjukkan tingginya kebutuhan pembiayaan untuk mendorong aktivitas ekonomi daerah.
Meski begitu, OJK tetap menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pembiayaan dan manajemen risiko, mengingat rasio kredit bermasalah (NPL) di NTT berada di angka 4,10%. Menurut Dian, kondisi ini masih dalam batas aman dan bisa diperbaiki melalui penguatan tata kelola serta peningkatan pendampingan bagi pelaku usaha penerima pembiayaan.
Sektor pariwisata menjadi salah satu potensi terbesar yang diandalkan NTT untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Data menunjukkan, sepanjang tahun 2024, jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara masing-masing tumbuh 57,64% dan 53,78%.
Baca Juga: OJK Dorong Inklusi Keuangan di Banyumas
Dengan 1.637 daya tarik wisata di 22 kabupaten/kota, peluang pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar destinasi wisata terbuka lebar bagi industri perbankan.
Pada Triwulan II 2025, ekonomi NTT tumbuh 5,44% dan menempati posisi kesembilan secara nasional. Pertumbuhan ini terutama disumbang oleh sektor pertanian sebesar 1,99%, perdagangan 1,62%, dan administrasi pemerintahan 0,71%. Namun, penyaluran kredit ke sektor pertanian masih relatif kecil, hanya 4,66% dari total portofolio, dengan pertumbuhan tahunan 1,05%.
Indikator kesejahteraan masyarakat NTT juga menunjukkan perbaikan. Upah Minimum Provinsi (UMP) 2024 naik menjadi Rp2.186.826 atau meningkat 2,96%, sementara Gini Rasio turun menjadi 0,315 pada Maret 2025, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 0,375. Menurut OJK, hal ini menjadi peluang untuk memperluas akses perbankan dan meningkatkan pembiayaan konsumtif secara sehat.
Selain pertanian dan pariwisata, potensi ekonomi kelautan di NTT juga sangat besar. Provinsi ini merupakan penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia setelah Sulawesi Selatan, dengan kontribusi 15,20% terhadap total produksi nasional.
“Dengan optimalisasi peran intermediasi dan inovasi layanan keuangan, perbankan dapat menjadi motor penggerak utama dalam memajukan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT,” kata Dian.
Selama kunjungan kerjanya, Dian juga melakukan pertemuan dengan Gubernur NTT Emanuel Melki Laka Lena di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Rabu (15/10/2025). Dalam pertemuan itu, OJK dan Pemerintah Provinsi NTT membahas strategi memperluas akses dan literasi keuangan masyarakat, terutama di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal.
Fokus pembahasan diarahkan pada peningkatan pembiayaan sektor produktif seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.
Tak hanya berfokus pada industri keuangan, Dian juga memberikan kuliah umum di Universitas Nusa Cendana pada Kamis (16/10/2025) melalui program OJK Mengajar.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional. Literasi keuangan, digitalisasi perbankan, dan etika keuangan, menurutnya, menjadi fondasi utama bagi ekonomi masa depan yang kuat.
OJK berkomitmen melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, dan dunia pendidikan untuk membangun sistem keuangan yang inklusif di seluruh Indonesia.
“Kolaborasi antara otoritas, sektor keuangan, dan masyarakat adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia,” tutup Dian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










