Dari 'Ratu Stabilitas' ke 'Cowboy Economy', Menelaah Kontras Gaya Komunikasi Sri Mulyani dan Purbaya

AKURAT.CO Transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa bukan sekadar pergantian personel, melainkan pergeseran drastis dalam gaya dan filosofi kebijakan ekonomi.
Jika Sri Mulyani dikenal sebagai 'ratu stabilitas' yang konservatif, Purbaya hadir membawa semangat 'harapan baru' (new hope) dengan komunikasi terbuka dan populis, menjadikannya sorotan tajam di tengah kelesuan ekonomi.
Perbedaan mendasar inilah, pada akhirnya membuka ruang diskusi antara ekonom, politisi hingga kepada kepala daerah hingga sampai kepada pertanyaan besar yakni, model kebijakan apa dan manakah yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini?
Merespon hal tersebut, Ekonom Yanwar Rizki menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan di bawah Sri Mulyani lebih berfokus kepada kebijakan penjagaan stabilitas fiskal dan kredibilitas di mata pasar global.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Siapkan Strategi Gaet Investor Asing Berbagi Teknologi
"Sri Mulyani itu pro stabilitas, orang bilang selalu meng-entertain IMF, Bank Dunia, dan itu benar sehingga pasar juga selalu happy dengan Srimul," ujarnya dalam diskusi 'DARI SRI MULYANI KE PURBAYA. KEMANA ARAH EKONOMI KITA?' melalui kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored.
Model ini, lanjut Yanwar, meski berhasil menjaga neraca fiskal namun memiliki konsekuensi pada komunikasi.
Senada dengan Yanwar, Gubernur Kalimantan Timur, Rudi Mas'ud menyoroti bahwa gaya Sri Mulyani yang irit, hati-hati, dan cenderung mengontrol informasi membuat ruang partisipasi publik terasa tertutup.
Kerapatannya dengan kebijakan moneter juga membuat rupiah sempat melemah meskipun US Dollar Index (DXY) global sedang turun, menunjukkan adanya sentimen negatif pasar terhadap isu fundamental di era tersebut.
Berbeda halnya dengan Menkeu saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa yang datang dengan narasi kontras. Dimana dirinya langsung menyentuh isu-isu publik, mulai dari janji menunda kenaikan pajak hingga suntikan dana besar ke perbankan.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Ekonomi Kita Masih Kuat di Tengah Bayang Risiko Global
Melihat gaya komunikasi Purbaya tersebut, Pengamat Politik, Henry Satrio menilai Purbaya hadir di tengah krisis daya beli masyarakat.
"Purbaya hadir dengan kata-kata 'Mari kita kaya bareng-bareng' gitu itu kan sangat membuat optimisme tinggi," tuturnya.
Gaya Purbaya yang 'ceplos-ceplos' dan terbuka memang menciptakan ruang percakapan publik yang lebih luas. Namun, optimisme ini menghadapi risiko besar.
"Rakyat makin lama makin pintar. Ada dua window [jendela waktu] yang harus hati-hati dari sisi Pak Purbaya dalam menyajikan substansi yang enak. Pertama adalah akhir tahun (Desember) di mana biasanya terdapat peningkatan belanja pemerintah atau pencairan anggaran yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi, dan yang kedua adalah THR," ucap Yanwar.
Menariknya Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakun, menegaskan bahwa Purbaya harus dilihat sebagai 'pembantunya presiden' yang bertugas mewujudkan visi, termasuk target pertumbuhan 8%.
Oleh karena itu dirinya mengingatkan Purbaya agar tidak terbawa arus politik dan fokus menyelesaikan masalah struktural, seperti tingginya bunga utang SBN (Surat Berharga Negara) Indonesia yang mencapai 6,97% saat negara tetangga jauh di bawah 4%.
Publik diharapkan untuk tidak lagi salah tafsiran terhadap gaya kominikasi Purbaya. Sebab menurut Misbakhun Purbaya merupakan pembantu presiden yang harus sejalan dengan visi dan target pemerintah.
“Silakan bangun harapan, tapi jangan melebihi presiden. Menteri keuangan harus tetap bekerja dalam koridor visi presiden,” tegas Misbakun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










