Mengapa Kita Belanja Saat Stres? Ini Penjelasan Lengkap dari Psikolog Klinis

AKURAT.CO Belanja impulsif saat stres ternyata bukan sekadar kebiasaan buruk—fenomena ini memiliki penjelasan psikologis yang kuat. Dalam sebuah diskusi di Jakarta bersama Kredivo pada awal Desember, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Olphi Disya Arinda, M.Psi., Psikolog, mengulas secara mendalam hubungan antara emosi, kesehatan mental, dan pengambilan keputusan finansial. Ia memaparkan bagaimana otak bekerja saat seseorang tertekan serta strategi praktis untuk menghentikan perilaku impulsif, termasuk teknik S-T-O-P dan “jeda 24 jam”.
Artikel ini membahas secara lengkap mengapa banyak orang mudah tergoda berbelanja ketika sedang stres, bagaimana mekanisme emosinya bekerja, dan langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Apa yang Membuat Kita Belanja Saat Stres?
Fenomena “emotional spending” bukan hal baru, namun sering tidak disadari. Disya menjelaskan bahwa uang sering diposisikan sebagai alat tukar emosi, bukan sekadar alat tukar barang. Saat seseorang sedang sedih, kesepian, jenuh, atau merasa tidak berdaya, tindakan mengeluarkan uang dapat memicu sensasi kontrol dan “kekuatan palsu”.
“Banyak orang yang menggunakan financial coping. Jadi, uang itu bukan cuman alat tukar, bukan alat tukar antarbarang aja, tapi juga alat tukar emosi, yang tadinya sedih biar bisa jadi senang lagi,” jelasnya.
Pada kondisi emosi tertentu, keputusan finansial bisa berubah menjadi respons otomatis untuk meredakan ketidaknyamanan. Belanja terasa seolah solusi cepat, meski efeknya hanya sesaat dan sering berujung penyesalan.
Bagaimana Otak Bekerja Saat Kita Impulsif?
Keputusan finansial yang buruk sering berakar dari reaksi otak terhadap stres. Disya menerangkan bahwa saat seseorang terpicu emosi kuat, amigdala, bagian otak yang berperan dalam memproses emosi dan ancaman, menjadi lebih aktif.
Di saat yang bersamaan, prefrontal cortex—bagian otak yang mengatur logika, pengambilan keputusan, perencanaan, dan pemecahan masalah—bekerja lebih lambat. Kondisi ini menciptakan “kebuntuan rasional”.
“Otak logis kita tuh jadi kayak redup, jadi kita enggak bisa melakukan perencanaan atau pengambilan keputusan yang bijak,” ujar Disya.
Respons amigdala tersebut memicu peningkatan hormon kortisol sehingga seseorang lebih mudah mengambil keputusan ekstrem: terlalu berani mengambil risiko tinggi atau malah menghindari keputusan penting seperti menabung, membayar utang, atau merencanakan investasi.
Emotional Spending dan Emotional Debt: Bahayanya Nyata
Menurut Disya, penggunaan uang yang tidak tepat sasaran dapat menciptakan pola emotional spending hingga menjadi emotional debt. Kebiasaan membeli barang untuk memuaskan emosi jangka pendek membuat seseorang merasa lebih baik sesaat, namun merusak kestabilan finansial dalam jangka panjang.
Emotional debt bukan hanya soal utang finansial, tetapi keterikatan pada kebiasaan belanja yang didorong emosi. Siklusnya berulang:
-
Stres atau emosi kuat
-
Belanja untuk meredakan
-
Timbul penyesalan
-
Emosi negatif muncul kembali
-
Belanja lagi untuk “menormalkan” perasaan
Polanya sangat mirip dengan coping mekanisme yang tidak sehat.
Pentingnya Kesehatan Mental dalam Keputusan Finansial
Disya menekankan bahwa kemampuan mengambil keputusan finansial yang matang sangat dipengaruhi oleh kondisi mental seseorang. Ketika pikiran stabil—ditandai dengan tidur cukup, stres terkendali, dan emosi seimbang—manusia lebih mampu:
-
menahan dorongan mengambil keputusan cepat,
-
mengevaluasi risiko jangka panjang,
-
berpikir strategis,
-
membuat rencana keuangan yang adaptif.
Sebaliknya, stres berkepanjangan dapat membuat seseorang bergantung pada “jalan pintas emosional”.
Penelitian pun menunjukkan bahwa situasi penuh tekanan mendorong seseorang mencari rasa senang instan, meski bersifat ilusi.
“Dalam kondisi stres pengen cepat keluar dari situasi itu, perlu sesuatu yang bikin merasa bahagia. Padahal bisa jadi itu adalah ilusi,” kata Disya.
Hasilnya? Keputusan finansial sering melenceng: foya-foya, belanja barang yang tidak dibutuhkan, sampai menghindari kewajiban finansial.
Teknik S-T-O-P: Cara Praktis Menghentikan Belanja Impulsif
Untuk membantu individu mengendalikan diri, Disya memperkenalkan teknik S-T-O-P, yang berasal dari metode Dialectical Behavior Therapy (DBT). Teknik ini dirancang untuk meredakan impuls emosional sebelum seseorang mengambil aksi yang disesali.
Berikut penjelasan lengkapnya:
S – Stop (Berhenti)
Ambil jeda sesaat ketika muncul keinginan kuat untuk berbelanja.
Misalnya, hentikan proses scroll, tutup aplikasi e-commerce, atau letakkan ponsel menghadap ke bawah.
“Misalkan, hentikan proses scroll atau langkah menuju pembayaran... handphone-nya diletakkan dulu secara terbalik.”
T – Take a Breath (Tarik Napas)
Atur napas 3–5 kali secara perlahan.
Tujuannya: menurunkan intensitas impuls emosional.
O – Observe (Amati)
Perhatikan apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?
Atau hanya efek ikut-ikutan dan dorongan sesaat?
P – Proceed (Lanjutkan)
Ambil keputusan rasional: beli hanya jika memang kebutuhan.
“Tapi at least kita jadi tahu dulu mana sih yang sebenarnya kita butuhkan dan mana yang mungkin cuman keinginan sesaat atau emosi.”
Teknik sederhana ini membantu memisahkan emosi dari keputusan finansial.
“Jeda 24 Jam”: Strategi Anti-Impulsif yang Terbukti Efektif
Selain teknik S-T-O-P, Disya juga merekomendasikan metode jeda 24 jam, terutama untuk pembelian di luar kebutuhan dasar.
Caranya mudah:
Tunda pembelian selama satu hari penuh.
Jika setelah 24 jam barang itu masih terasa penting, barulah evaluasi kembali.
Strategi ini memutus siklus emosi → belanja → menyesal dan memberi ruang bagi logika untuk bekerja.
“Strategi ini juga sangat efektif sebenarnya untuk menekan impulsive spending karena ini dalam rangka memutus siklus emosi, belanja, nyesel.”
Mengelola Uang Dengan Lebih Sehat Dimulai dari Mental yang Sehat
Disya menegaskan bahwa memiliki banyak uang bukan jaminan kebahagiaan. Tanpa mental yang stabil, uang bisa dihabiskan untuk hal-hal yang tidak memberikan nilai jangka panjang dan justru menambah masalah finansial.
Kesehatan mental yang terjaga membuat seseorang lebih konsisten dalam:
-
menabung,
-
menyelesaikan kewajiban finansial,
-
membuat keputusan yang tidak didorong emosi,
-
mengelola risiko secara matang.
Memprioritaskan kesehatan mental, menurutnya, adalah bentuk proteksi jangka panjang terhadap kerugian finansial.
Kesimpulan: Mengapa Kita Belanja Saat Stres?
Jawabannya kompleks namun jelas: emosi memengaruhi kerja otak, dan stres memicu mekanisme coping yang sering tidak sehat—salah satunya belanja impulsif. Amigdala yang aktif membuat kita ingin meredakan stres secepat mungkin, sementara kemampuan berpikir logis menurun. Uang pun menjadi medium untuk mengatur emosi.
Dengan memahami mekanisme ini, kita bisa mulai mengendalikan diri melalui strategi seperti teknik S-T-O-P dan jeda 24 jam. Pada akhirnya, keputusan finansial yang bijak hanya bisa tercapai jika kesehatan mental ikut terjaga.
Kalau kamu ingin mengikuti lebih banyak pembahasan seputar kesehatan mental dan pengelolaan finansial, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO.
Baca Juga: Tips Efektif Mengatur Keuangan Digital dengan Aplikasi Finansial
Baca Juga: Mengenal Teknik STOP untuk Cegah Impulsive Spending: Penjelasan Lengkap dari Psikolog Klinis
FAQ
1. Kenapa seseorang mudah impulsif saat mengambil keputusan finansial?
Karena ketika stres atau emosinya meningkat, amigdala—bagian otak yang mengatur respons emosi—menjadi lebih aktif. Di saat yang sama, prefrontal cortex yang berfungsi untuk berpikir logis justru melemah sehingga keputusan yang diambil sering bersifat spontan.
2. Apa itu emotional spending?
Emotional spending adalah kebiasaan menggunakan uang untuk meredakan emosi, seperti stres, sedih, cemas, kesepian, atau bahkan terlalu bersemangat. Belanja dijadikan cara instan untuk merasa lebih baik.
3. Mengapa belanja bisa membuat seseorang merasa senang sesaat?
Belanja memicu respons "reward" di otak yang membuat seseorang merasa memiliki kontrol dan kekuatan sementara. Efek ini membuat belanja terasa seperti solusi cepat mengatasi ketidaknyamanan emosi.
4. Apa yang dimaksud dengan teknik S-T-O-P dalam mengendalikan impuls belanja?
Teknik S-T-O-P adalah metode sederhana untuk menghentikan respon impulsif:
-
Stop: berhenti dari aktivitas yang memicu belanja, misalnya menghentikan scroll.
-
Take a breath: atur napas 3–5 kali untuk menurunkan emosi.
-
Observe: amati emosi dan alasan di balik keinginan belanja.
-
Proceed: lanjutkan keputusan hanya jika benar-benar berdasarkan kebutuhan.
5. Apakah “jeda 24 jam” benar-benar efektif untuk menahan belanja impulsif?
Ya. Menunggu 24 jam sebelum membeli barang di luar kebutuhan dasar memberi waktu untuk menenangkan emosi, menilai ulang urgensinya, dan memutus siklus “emosi–belanja–penyesalan”.
6. Apa hubungan kesehatan mental dengan keputusan finansial?
Kesehatan mental yang stabil mendukung kemampuan membuat rencana, berpikir strategis, mengelola risiko, dan menahan dorongan impulsif. Saat kondisi mental terganggu, keputusan finansial mudah jadi ekstrem atau tidak rasional.
7. Kenapa stres membuat seseorang lebih berani mengambil keputusan berisiko atau justru menghindari keputusan penting?
Stres mengubah persepsi terhadap risiko. Ada yang jadi terlalu berani (high risk decision) untuk mencari kesenangan cepat, ada juga yang menghindar dan menunda keputusan penting seperti menabung atau membayar utang.
8. Bagaimana cara mengenali tanda-tanda bahwa kita sedang mengalami emotional spending?
Beberapa tanda yang sering muncul:
-
Belanja untuk menghibur diri
-
Merasa bersalah setelah membeli sesuatu
-
Menggunakan uang untuk menutupi stres atau rasa tidak berdaya
-
Menghindari mengecek saldo atau catatan keuangan
9. Apa langkah pertama jika seseorang ingin keluar dari kebiasaan belanja impulsif?
Mulai dengan meningkatkan kesadaran emosi, menerapkan teknik S-T-O-P, membuat kategori kebutuhan, dan memprioritaskan kesehatan mental sebagai bagian dari manajemen keuangan jangka panjang.
10. Bisakah kesehatan mental yang baik membantu pola keuangan lebih konsisten?
Sangat bisa. Kondisi mental yang stabil menciptakan pola pengelolaan uang yang lebih terstruktur, adaptif, dan realistis, sehingga seseorang dapat menabung, mengatur anggaran, hingga mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









