Sektor Keuangan Stabil, OJK Waspadai Era Higher for Longer

AKURAT.CO Kinerja ekonomi Indonesia kembali mencatat sinyal positif. Di tengah tekanan global mulai dari tensi geopolitik hingga kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 bahkan menembus 5,39% secara year on year (yoy), mendorong pertumbuhan tahunan 2025 ke level 5,3%.
Angka ini menjadi indikator penting bagi investor, pelaku pasar, dan generasi muda yang memantau prospek ekonomi 2026, terutama terkait stabilitas pasar modal, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga global.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan fondasi ekonomi domestik yang tetap kuat meskipun volatilitas global meningkat.
“Perekonomian Indonesia di kuartal IV-2025 mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 5,39 persen year on year sehingga secara keseluruhan tumbuh 5,3 persen sepanjang tahun 2025,” ujar Friderica dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 yang dilakukan secara daring, Selasa (3/3/2026).
OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih dalam kondisi terkontrol. Aktivitas ekonomi domestik bergerak positif dengan dukungan konsumsi rumah tangga dan kinerja sektor manufaktur yang tetap berada dalam fase ekspansif.
Dari sisi domestik, inflasi utama (headline inflation) tercatat meningkat. Namun, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh efek basis rendah pada tahun sebelumnya. OJK mencatat, daya beli masyarakat masih relatif terjaga.
“Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis meskipun menunjukkan adanya reaksi terhadap dinamika global. Aktivitas manufaktur juga tetap dalam fase ekspansif pada awal 2026,” kata Friderica yang akrab disapa Kiky.
Bagi pasar, indikator ini penting karena mencerminkan ketahanan konsumsi—komponen terbesar dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
AS Tumbuh 4 Persen, Suku Bunga Berpotensi Bertahan Tinggi
Di sisi eksternal, OJK mencermati ekonomi global masih menunjukkan kinerja relatif baik. Penguatan sektor manufaktur global serta tren pemulihan inflasi menjadi faktor penopang utama.
Namun, risiko tetap membayangi. Ekonomi Amerika Serikat pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh 4%, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi kembali meningkat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai berkurang.
“Ekspektasi pasar mengarah pada kebijakan suku bunga yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer,” jelas Friderica.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan volatilitas arus modal global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Asia dan China Masih Hadapi Tantangan Permintaan
Di kawasan Asia, ekonomi China masih menghadapi tekanan dari sisi permintaan domestik. Krisis sektor properti yang berlanjut menjadi salah satu faktor penahan pertumbuhan, meskipun kinerja eksternal masih mencatat surplus perdagangan.
Menurut OJK, dinamika ini tetap perlu diwaspadai karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Pelemahan permintaan dapat berdampak pada ekspor komoditas dan manufaktur nasional.
OJK juga menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta fragmentasi geo-ekonomi global. Dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat turut menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan dunia.
“Peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah serta fragmentasi geo-ekonomi dan dinamika kebijakan perdagangan AS menjadi risiko penurunan yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global,” ujar Kiky.
Bagi investor ritel dan generasi muda yang aktif di pasar saham maupun reksa dana, faktor eksternal ini penting untuk dicermati dalam strategi alokasi aset 2026.
OJK Percepat Reformasi Integritas Pasar Modal
Sebagai respons terhadap tantangan global dan domestik, OJK bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, serta Self Regulatory Organization (SRO) memperkuat inisiatif percepatan reformasi integritas pasar modal.
OJK tengah mematangkan pembentukan Satgas Reform Integritas Pasar Modal melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas lembaga.
“SKB ini bertujuan mengoptimalkan dukungan dalam aspek kebijakan, penyesuaian regulasi, penguatan pengawasan, pendalaman pasar, koordinasi serta sinergi lintas lembaga sesuai kewenangan masing-masing,” tutup Friderica
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











