Kredit Macet Fintech Lending Naik Jelang Lebaran, Seberapa Aman Industri Saat Ini?

AKURAT.CO Lonjakan permintaan pinjaman menjelang Lebaran hampir selalu diikuti peningkatan risiko kredit. Tahun ini, TWP90 fintech kembali menjadi sorotan setelah angkanya tercatat naik akibat kontribusi dua platform bermasalah. Publik pun mulai bertanya: apakah ini sinyal krisis di industri fintech pendanaan?
Di tengah kekhawatiran soal gagal bayar dan fraud pembiayaan, pelaku industri menegaskan bahwa kondisi secara agregat masih dalam batas aman. Namun, tantangan 2026 disebut tidak ringan, terutama jika tekanan ekonomi global ikut merembet ke domestik.
Apa Itu TWP90 dan Berapa Angka Terbarunya?
TWP90 (Tingkat Wanprestasi 90 hari) adalah rasio keterlambatan pembayaran pinjaman yang sudah melewati 90 hari sejak jatuh tempo dalam industri fintech pendanaan.
Berikut gambaran angkanya:
Posisi industri saat ini: di bawah 3 persen
Jika dua platform bermasalah dikeluarkan: 2,7–2,8 persen
Sempat melonjak ke 4,7–4,8 persen akibat satu kasus fraud besar sebelumnya
Batas toleransi regulator: maksimal 5 persen
Artinya, meski terjadi kenaikan TWP90 fintech, secara umum industri masih berada dalam zona aman menurut standar pengawasan.
Mengapa Kenaikan TWP90 Fintech Terjadi Jelang Lebaran?
Menurut Entjik S. Djafar, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), periode menjelang Lebaran memang identik dengan kenaikan dispersi risiko.
Permintaan pembiayaan bisa melonjak hingga dua kali lipat dibanding bulan normal. Jika analisis kelayakan kredit tidak diperketat, risiko gagal bayar fintech otomatis meningkat.
“Biasanya menjelang periode Lebaran memang terjadi peningkatan dispersi risiko,” ujarnya dalam acara Paparan Riset Industri Pindar dan Buka Bersama Media yang diselenggarakan AFPI di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Artinya, kenaikan TWP bukan fenomena anomali, melainkan pola musiman yang harus dikelola melalui manajemen risiko kredit yang lebih konservatif.
Peran Dua Platform Bermasalah dalam Lonjakan Angka Industri
Kenaikan TWP90 fintech kali ini dipengaruhi signifikan oleh dua anggota AFPI, yakni Dana Syariah dan Crowde.
Keduanya tercatat memberi kontribusi besar terhadap kenaikan rasio gagal bayar industri. Sebelumnya, lonjakan ekstrem hingga 4,7–4,8 persen juga dipicu satu platform besar dengan nilai pembiayaan triliunan rupiah yang tersandung kasus fraud pembiayaan.
“Secara garis besar industri, posisi kita sebenarnya masih aman,” kata Entjik.
Ini menunjukkan satu platform besar saja bisa mengerek rasio agregat industri secara signifikan. Namun, hal tersebut tidak selalu mencerminkan krisis sistemik.
Strategi AFPI Menekan Risiko Kredit di 2026
Menghadapi tantangan 2026 yang diproyeksikan lebih berat, AFPI meminta seluruh anggota bersikap lebih konservatif.
Fokus utamanya:
Penguatan credit control
Optimalisasi credit scoring fintech
Analisis kelayakan kredit lebih selektif
Pengetatan manajemen risiko berbasis data
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil menjadi faktor utama. Jika ekonomi domestik melemah, risiko kredit fintech bisa ikut terdampak.
AFPI juga terus mengoptimalkan Fintech Data Center (FDC) dan pelaporan ke SLIK guna menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat.
Ilustrasi Risiko: Ketika Permintaan Naik Dua Kali Lipat
Bayangkan seorang pengguna mengajukan pinjaman multiguna menjelang Lebaran untuk kebutuhan konsumsi dan modal usaha kecil.
Jika:
Permintaan naik drastis
Platform ingin mengejar pertumbuhan
Credit scoring dilonggarkan
Maka risiko gagal bayar 90 hari bisa meningkat tajam.
Namun jika:
Analisis kredit diperketat
Data historis dianalisis lebih dalam
Sistem scoring diperbarui
Kualitas pembiayaan tetap terjaga meski volume naik signifikan.
Di sinilah keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian diuji.
Dampak Inflasi Global dan Kondisi Ekonomi 2026
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengingatkan Lembaga Jasa Keuangan untuk mencermati kondisi pasar, termasuk potensi inflasi akibat konflik global seperti perang Israel–Iran.
Menurut Entjik, dampaknya terhadap industri fintech pendanaan kemungkinan tidak langsung signifikan. Faktor paling menentukan tetap stabilitas ekonomi nasional.
Jika konsumsi domestik kuat dan daya beli terjaga, maka rasio gagal bayar fintech relatif terkendali.
Apakah Pengguna dan Investor Perlu Khawatir?
Bagi investor ritel dan lender, kenaikan TWP90 fintech perlu dipantau, tetapi belum menunjukkan tanda krisis sistemik.
Bagi pengguna:
Platform legal tetap diawasi regulator
Rasio masih di bawah ambang batas 5 persen
Sistem manajemen risiko terus diperkuat
Bagi UMKM, pembiayaan fintech tetap menjadi alternatif cepat saat akses perbankan terbatas. Namun disiplin pembayaran tetap kunci menjaga ekosistem sehat.
Angka Bisa Naik, tapi Tata Kelola yang Menentukan
Kenaikan tingkat wanprestasi fintech tidak selalu berarti industri dalam kondisi darurat. Rasio agregat bisa terdampak oleh satu atau dua platform besar.
Yang lebih penting adalah:
Transparansi
Penguatan credit scoring
Pengawasan regulator
Disiplin tata kelola
Tantangan 2026 bukan hanya soal gagal bayar, tetapi perlambatan ekonomi yang berpotensi menekan daya bayar masyarakat.
Jika manajemen risiko dijalankan disiplin dan kolaborasi industri terjaga, sektor fintech pendanaan masih memiliki fondasi yang kuat.
Pantau terus perkembangan TWP dan kebijakan industri untuk memahami arah sektor fintech ke depan.
Baca Juga: Rasio Kredit Stagnan, AFTECH Dorong Sinergi Bank dan Pindar
Baca Juga: Cara Hadapi Lonjakan Pesanan Belanja Online saat Lebaran: Tips dari Lion Parcel untuk UMKM
FAQ: Seputar TWP 90 Fintech dan Risiko Gagal Bayar
1. Apa itu TWP90 fintech dan mengapa penting?
TWP90 fintech adalah rasio tingkat wanprestasi atau keterlambatan pembayaran pinjaman lebih dari 90 hari dalam industri fintech pendanaan. Angka ini penting karena menjadi indikator utama kualitas pembiayaan dan manajemen risiko kredit sebuah platform. Semakin tinggi TWP 90, semakin besar risiko gagal bayar fintech yang harus ditanggung industri dan pemberi dana.
2. Mengapa TWP90 fintech bisa naik menjelang Lebaran?
Kenaikan TWP90 fintech biasanya dipicu lonjakan permintaan pinjaman menjelang periode konsumtif seperti Lebaran. Saat volume pembiayaan meningkat hingga dua kali lipat, risiko kredit fintech ikut melebar, terutama jika analisis kelayakan dan credit scoring tidak diperketat. Faktor musiman ini membuat rasio gagal bayar cenderung bergerak naik dalam jangka pendek.
3. Apakah kenaikan TWP90 berarti industri fintech sedang krisis?
Tidak selalu. Kenaikan tingkat wanprestasi fintech bisa saja disebabkan oleh satu atau dua platform bermasalah yang memengaruhi angka agregat industri. Selama rasio masih berada di bawah batas toleransi regulator dan manajemen risiko kredit diperkuat, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis sistemik.
4. Berapa batas aman rasio gagal bayar fintech menurut regulator?
Batas toleransi TWP90 yang ditetapkan regulator berada di kisaran maksimal 5 persen. Jika rasio gagal bayar fintech masih di bawah ambang tersebut, industri fintech pendanaan dinilai masih dalam kondisi relatif stabil. Namun, angka ini tetap harus dipantau karena tren kenaikan berkelanjutan bisa memengaruhi kepercayaan investor dan pengguna.
5. Bagaimana cara industri menjaga kualitas pembiayaan saat risiko meningkat?
Pelaku industri memperkuat credit control, memperketat analisis kelayakan, serta mengoptimalkan sistem credit scoring berbasis data. Selain itu, pemanfaatan pusat data fintech dan pelaporan ke sistem informasi keuangan membantu meminimalkan fraud pembiayaan dan mencegah penyaluran kredit ke peminjam berisiko tinggi.
6. Apakah pengguna fintech perlu khawatir dengan kenaikan TWP90?
Pengguna tidak perlu panik selama menggunakan platform legal dan berizin. Kenaikan TWP90 fintech lebih mencerminkan kondisi agregat industri, bukan berarti semua platform bermasalah. Yang terpenting adalah memastikan kemampuan bayar sebelum mengajukan pinjaman agar tidak ikut menyumbang kenaikan rasio gagal bayar.
7. Apa dampak kenaikan TWP90 bagi investor ritel dan UMKM?
Bagi investor ritel, kenaikan rasio gagal bayar fintech bisa memengaruhi tingkat imbal hasil jika risiko tidak terkelola baik. Sementara bagi UMKM, pengetatan manajemen risiko kredit dapat membuat proses seleksi lebih ketat, tetapi justru membantu menjaga stabilitas industri fintech pendanaan agar tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









