Akurat Logo

Paylater Laris Manis, Laba Akulaku Finance Melonjak 66 Persen hingga Rp108 Miliar

Idham Nur Indrajaya | 5 Maret 2026, 22:15 WIB
Paylater Laris Manis, Laba Akulaku Finance Melonjak 66 Persen hingga Rp108 Miliar
Media Gathering & Iftar 2026 bersama Akulaku Finance Indonesia di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026. dok. Idham Nur Indrajaya/Akurat

AKURAT.CO Paylater kini bukan sekadar fitur tambahan saat belanja online. Bagi banyak generasi muda, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) bahkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital.

Cukup beberapa klik di aplikasi, pengguna bisa membeli kebutuhan sehari-hari tanpa harus langsung membayar penuh. Tagihannya baru diselesaikan ketika gaji datang.

Fenomena inilah yang ikut mendorong lonjakan kinerja perusahaan fintech di Indonesia, termasuk paylater Akulaku. Sepanjang 2025, PT Akulaku Finance Indonesia mencatat pertumbuhan bisnis yang signifikan, seiring semakin populernya layanan kredit digital di kalangan Gen Z dan milenial.

Data perusahaan menunjukkan, laba Akulaku Finance melonjak tajam hingga 66% secara tahunan, menandakan bahwa tren paylater tidak hanya mengubah cara masyarakat berbelanja, tetapi juga menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri fintech.


Mengapa Laba Akulaku Finance Naik 66%?

Lonjakan laba Akulaku Finance 2025 terutama didorong oleh beberapa faktor utama:

  • Penyaluran pembiayaan naik 23% menjadi Rp7,44 triliun

  • Produk BNPL mendominasi portofolio hingga 89%

  • Efisiensi operasional dan teknologi digital meningkatkan produktivitas

  • Diversifikasi pendanaan dari 16 mitra perbankan

  • Kualitas aset tetap terjaga, dengan rasio NPF hanya 1,1%

Kombinasi faktor tersebut membuat perusahaan mampu memperbesar volume bisnis sekaligus menjaga profitabilitas secara sehat.


Kinerja Akulaku Finance 2025 Melonjak

Kinerja Akulaku Finance 2025 menunjukkan pertumbuhan kuat di tengah semakin kompetitifnya industri fintech Indonesia.

Sepanjang tahun buku 2025, perusahaan mencatat:

  • Pembiayaan baru: Rp7,44 triliun

  • Pertumbuhan pembiayaan: 23% YoY

  • Laba bersih (NPAT): Rp108 miliar

  • Pertumbuhan laba: 66% YoY

Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia, Perry Barman Slangor, menyebut capaian tersebut menunjukkan fundamental bisnis perusahaan yang semakin kuat.

Menurut dia, perusahaan mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset.

“Kinerja 2025 menunjukkan bahwa kami mampu bertumbuh kuat dengan profitabilitas yang semakin sehat dan kualitas aset yang tetap terjaga,” ujarnya dalam acara buka bersama media di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Rasio NPF (non-performing financing) juga tetap rendah di 1,1%, menunjukkan risiko kredit masih terkendali meskipun bisnis berkembang pesat.


Paylater Jadi Mesin Pertumbuhan Fintech

Fenomena tren paylater Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan bisnis fintech.

Di Akulaku Finance, produk BNPL Akulaku menyumbang sekitar 89% dari total portofolio pembiayaan.

Hal ini mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat digital, terutama di kalangan:

  • Gen Z

  • milenial

  • pengguna aktif e-commerce

Bagi banyak konsumen, cicilan paylater e-commerce memberikan fleksibilitas dalam mengatur keuangan tanpa harus mengajukan pinjaman konvensional.

Selain itu, pembiayaan digital seperti BNPL juga lebih mudah diakses oleh masyarakat yang sebelumnya sulit mendapatkan kredit dari bank.

Inilah yang membuat pertumbuhan BNPL terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.


Kenapa Tenor Paylater 1 Bulan Paling Populer?

Salah satu fenomena menarik dalam penggunaan paylater Gen Z adalah dominasi tenor pendek, terutama tenor paylater 1 bulan.

Menurut Perry, mayoritas pengguna memilih tenor ini karena berfungsi sebagai pembiayaan jangka pendek atau bridging financing.

“Sebagian besar nasabah menggunakan fasilitas ini untuk kebutuhan rutin seperti pembayaran listrik atau belanja kebutuhan harian,” jelasnya.

Dengan tenor satu bulan, pengguna dapat:

  • mengatur arus kas lebih fleksibel

  • menghindari cicilan panjang

  • menyesuaikan pembayaran dengan tanggal gaji

Karena itu, tenor pendek menjadi pilihan paling populer dalam ekosistem kredit digital.


Teknologi AI Jadi Senjata Utama Fintech

Sebagai perusahaan pembiayaan digital, hampir seluruh operasional Akulaku Finance berjalan berbasis teknologi.

Mulai dari:

  • akuisisi nasabah

  • analisis kredit

  • pencairan dana

  • hingga penagihan

Semua dilakukan secara elektronik.

Perusahaan juga memanfaatkan AI dan advanced analytics untuk memperkuat sistem manajemen risiko.

Beberapa implementasi teknologi tersebut meliputi:

  • credit scoring berbasis data

  • deteksi fraud secara instan

  • verifikasi identitas digital

  • prediksi pendapatan pengguna

Teknologi ini memungkinkan perusahaan meningkatkan skala bisnis tanpa harus memperbesar biaya operasional secara signifikan.


Strategi Ekspansi Akulaku Finance 2026

Melihat pertumbuhan fintech Indonesia yang masih besar, perusahaan menargetkan ekspansi lebih agresif pada 2026.

Target utama yang dipasang adalah:

  • Pembiayaan baru: Rp8,2 triliun

  • Pertumbuhan tahunan: sekitar 12%

  • NPF net: maksimal 1,2%

Beberapa strategi utama yang disiapkan meliputi:

1. Ekspansi ke kota tier 2 dan 3

Saat ini sekitar 68% bisnis masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Karena itu, perusahaan melihat potensi besar di wilayah luar Jawa.

2. Penguatan merchant offline

Jaringan merchant telah mencapai lebih dari 10.000 merchant di seluruh Indonesia.

Ekspansi offline diharapkan memperluas penggunaan paylater Akulaku.

3. Kolaborasi dengan perbankan

Pendanaan perusahaan kini didukung 16 mitra bank, yang membantu menekan biaya dana (cost of fund).


Paylater Semakin Jadi Gaya Hidup Digital

Jika melihat tren beberapa tahun terakhir, paylater perlahan berubah dari sekadar metode pembayaran menjadi bagian dari gaya hidup digital.

Bagi generasi muda, layanan ini menawarkan tiga hal yang sangat penting:

  • kecepatan transaksi

  • kemudahan akses kredit

  • fleksibilitas pembayaran

Namun di sisi lain, penggunaan paylater juga menuntut literasi keuangan yang baik. Tanpa pengelolaan yang disiplin, kemudahan kredit bisa berubah menjadi beban finansial.

Karena itu, keseimbangan antara akses kredit digital dan manajemen risiko menjadi kunci bagi industri fintech.


Contoh Nyata: Bagaimana Gen Z Menggunakan Paylater

Bayangkan seorang pekerja muda yang baru mulai bekerja di kota besar.

Ia menggunakan paylater untuk membeli kebutuhan bulanan di e-commerce—mulai dari bahan makanan hingga kebutuhan rumah tangga.

Alih-alih membayar langsung, ia memilih tenor satu bulan, lalu melunasinya ketika gaji masuk.

Bagi banyak konsumen digital, skema seperti ini membantu:

  • menjaga arus kas bulanan

  • tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari

  • tanpa harus menggunakan kartu kredit

Inilah alasan mengapa tren paylater Indonesia terus berkembang pesat.


Dampak Paylater bagi Ekonomi Digital

Pertumbuhan BNPL Indonesia tidak hanya berdampak pada bisnis fintech.

Lebih luas lagi, layanan ini turut mempercepat perkembangan ekonomi digital dengan cara:

  • meningkatkan transaksi e-commerce

  • memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat

  • mendorong inklusi keuangan

Banyak pengguna paylater berasal dari segmen less bankable, yaitu masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan.

Melalui pembiayaan digital, mereka kini memiliki alternatif kredit yang lebih mudah dan cepat.


Masa Depan Paylater: Tren yang Masih Panjang

Lonjakan laba Akulaku Finance menunjukkan satu hal penting: paylater telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital modern.

Selama perilaku belanja masyarakat semakin digital dan transaksi online terus meningkat, permintaan terhadap layanan BNPL kemungkinan akan terus tumbuh.

Pertanyaannya bukan lagi apakah paylater akan berkembang, tetapi seberapa besar pengaruhnya terhadap cara masyarakat mengelola uang di masa depan.

Menarik untuk melihat bagaimana teknologi finansial ini akan terus membentuk kebiasaan konsumsi generasi digital dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Total Utang Paylater di Indonesia Tembus Rp27,1 Triliun, Masih Aman?

Baca Juga: Indodana PayLater Gandeng KAI, Beli Tiket Kereta Kini Bisa Dicicil

FAQ

1. Mengapa laba Akulaku Finance bisa naik hingga 66%?

Laba Akulaku Finance meningkat hingga 66% pada 2025 karena pertumbuhan pembiayaan digital yang signifikan, terutama dari produk paylater Akulaku. Penyaluran pembiayaan mencapai Rp7,44 triliun atau tumbuh 23% dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, dominasi layanan BNPL Akulaku, efisiensi operasional berbasis teknologi, serta diversifikasi pendanaan dari mitra perbankan ikut memperkuat profitabilitas perusahaan.

2. Apa itu paylater atau BNPL yang digunakan Akulaku?

Paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL) adalah layanan pembiayaan digital yang memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya di kemudian hari dengan cicilan. Dalam ekosistem fintech Indonesia, paylater seperti yang ditawarkan Akulaku sering digunakan untuk transaksi e-commerce, pembayaran tagihan, hingga kebutuhan sehari-hari dengan proses yang cepat dan berbasis aplikasi.

3. Mengapa paylater populer di kalangan Gen Z dan milenial?

Popularitas penggunaan paylater Gen Z dan milenial dipicu oleh gaya hidup digital yang serba cepat. Layanan ini memberikan kemudahan akses kredit digital tanpa proses rumit seperti kartu kredit bank. Selain itu, integrasi dengan platform e-commerce membuat cicilan paylater menjadi solusi praktis untuk mengatur arus kas, terutama bagi pengguna muda yang aktif berbelanja online.

4. Kenapa tenor paylater 1 bulan paling banyak dipilih?

Mayoritas pengguna paylater Akulaku memilih tenor paylater 1 bulan karena berfungsi sebagai pembiayaan jangka pendek. Skema ini membantu pengguna menutup kebutuhan mendesak, seperti belanja kebutuhan rumah tangga atau pembayaran tagihan, lalu melunasinya ketika gaji masuk. Pola ini membuat paylater menjadi alat manajemen arus kas yang fleksibel bagi banyak konsumen digital.

5. Seberapa besar kontribusi paylater terhadap bisnis Akulaku Finance?

Produk BNPL Akulaku menjadi tulang punggung bisnis perusahaan dengan kontribusi sekitar 89% dari total portofolio pembiayaan. Tingginya penggunaan layanan ini menunjukkan bahwa tren paylater Indonesia terus berkembang dan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan industri fintech serta pembiayaan digital.

6. Bagaimana teknologi membantu Akulaku mengelola risiko kredit?

Sebagai perusahaan fintech Indonesia, Akulaku memanfaatkan teknologi seperti AI dan advanced analytics untuk meningkatkan akurasi credit scoring dan deteksi fraud. Sistem ini menganalisis perilaku transaksi pengguna secara real-time sehingga perusahaan dapat memperluas akses pembiayaan digital sambil tetap menjaga kualitas portofolio kredit.

7. Apa prospek pertumbuhan bisnis paylater di Indonesia?

Prospek pertumbuhan BNPL di Indonesia masih sangat besar seiring meningkatnya transaksi e-commerce dan adopsi layanan keuangan digital. Paylater semakin menjadi alternatif kredit digital bagi masyarakat yang belum terlayani perbankan. Karena itu, banyak perusahaan fintech, termasuk Akulaku Finance, terus memperluas jaringan merchant dan memperkuat teknologi untuk menangkap peluang pasar ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.