Waspada! Penipuan Digital Naik 80 Persen Saat Pencairan THR, Kok Bisa?

AKURAT.CO Modus penipuan digital di Indonesia terus berkembang dengan teknik yang semakin canggih. Penyedia solusi identitas digital dan pencegahan fraud, VIDA, mengungkap lonjakan penipuan berbasis pencurian kode One-Time Password (OTP) terjadi menjelang dan saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Data internal perusahaan menunjukkan peningkatan aktivitas phishing dan smishing hingga sekitar 80% selama periode tersebut.
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur mengatakan, pola penipuan digital saat ini tidak lagi dilakukan secara sporadis oleh individu, tetapi telah berkembang menjadi jaringan yang lebih terorganisir dan sistematis.
Baca Juga: Sistem Anti Spam Nasional Diklaim Lindungi Puluhan Juta Pengguna dari Penipuan Digital
“Penipuan selalu beradaptasi. Setiap kali sistem pertahanan diperkuat, pelaku menguji ulang, menyesuaikan teknik, dan kembali dengan metode yang lebih kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, kelemahan literasi digital masyarakat, serta momentum tertentu untuk melancarkan aksinya,” ujar Niki dikutip dari kanal YouTube CloseTheDoor, Minggu (8/3/2026).
Berdasarkan pemantauan VIDA sepanjang 2025, dua metode penipuan paling sering digunakan pelaku. Pertama adalah phishing atau smishing, yaitu upaya memancing korban mengklik tautan melalui SMS atau pesan digital dan kemudian memasukkan data sensitif seperti username, password, hingga OTP.
Modus ini kini berkembang menggunakan fake Base Transceiver Station (BTS) yang memungkinkan pesan dikirim secara massal dan tampak seolah berasal dari lembaga resmi seperti bank, operator telekomunikasi, atau perusahaan logistik.
Metode kedua adalah malware yang disebarkan melalui file aplikasi berformat APK. Pelaku biasanya menyamarkan file tersebut sebagai dokumen yang tampak relevan bagi korban, seperti status pengiriman paket, undangan pernikahan digital, atau dokumen promosi Ramadan.
Setelah diunduh, aplikasi berbahaya tersebut dapat memantau aktivitas perangkat korban dari jarak jauh, termasuk mengakses password serta berbagai data sensitif.
Fenomena ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat Indonesia.
Mengutip hasil data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi uang elektronik sepanjang 2025 mencapai lebih dari Rp500 triliun, sementara Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet nasional telah melampaui 79% dari populasi. Peningkatan penggunaan layanan digital tersebut membuat ruang serangan bagi pelaku penipuan juga semakin luas.
Baca Juga: Aturan Baru Registrasi Kartu Seluler Berlaku, Cegah Penipuan Digital
Niki menjelaskan bahwa banyak sistem keamanan digital masih bertumpu pada password dan OTP, padahal metode tersebut semakin rentan disalahgunakan akibat kebocoran data dan teknik rekayasa sosial.
“Password dan OTP tidak lagi dapat menjadi satu-satunya cara verifikasi yang aman. Karena itu, perangkat yang kita miliki serta identitas biometrik perlu dimanfaatkan sebagai lapisan keamanan tambahan,” kata Niki.
Menurutnya, identitas digital pada dasarnya memiliki tiga lapisan utama. Lapisan pertama adalah what you know, yakni informasi yang diketahui pengguna seperti password atau pertanyaan keamanan. Lapisan kedua adalah what you have, yaitu perangkat yang dimiliki pengguna seperti ponsel atau token autentikasi. Sementara lapisan ketiga adalah who you are, yakni karakteristik biometrik seperti wajah, suara, atau sidik jari yang bersifat unik pada setiap individu.
Pendekatan keamanan berbasis beberapa lapisan tersebut kini semakin banyak diterapkan oleh penyedia layanan digital dan sektor keuangan untuk menekan risiko pencurian identitas. VIDA sendiri mengembangkan sistem layered defense yang menggabungkan perlindungan perangkat dan autentikasi biometrik guna meningkatkan keamanan transaksi digital.
Ancaman penipuan digital juga menjadi perhatian regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mencatat berbagai kasus penipuan digital, termasuk phishing dan social engineering, menjadi salah satu sumber utama pengaduan konsumen di sektor jasa keuangan. Pemerintah dan regulator pun mendorong peningkatan literasi digital serta penguatan sistem keamanan pada platform digital.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat dinilai tetap menjadi faktor krusial dalam mencegah penipuan. VIDA melalui kampanye #JanganAsalKlik mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap pesan yang meminta mereka membuka tautan, mengunduh aplikasi, atau membagikan data pribadi.
“Kesadaran pengguna tetap menjadi garis pertahanan pertama. Jangan mudah mengklik tautan, mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi, atau membagikan OTP kepada siapa pun,” ujar Niki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











