Akurat
Pemprov Sumsel

Permintaan Kredit Musiman Naik, OJK Prediksi Pembiayaan Tumbuh Saat Ramadan

Esha Tri Wahyuni | 9 Maret 2026, 08:30 WIB
Permintaan Kredit Musiman Naik, OJK Prediksi Pembiayaan Tumbuh Saat Ramadan
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan penyaluran pembiayaan di berbagai sektor industri keuangan non-bank berpotensi meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat serta tambahan modal kerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama periode Ramadan hingga Lebaran.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman mengatakan, periode Ramadan secara historis selalu menjadi momentum peningkatan aktivitas pembiayaan di sektor pergadaian, multifinance, hingga pinjaman daring (pindar).

“Periode Ramadhan hingga menjelang Lebaran menjadi momentum peningkatan penyaluran pembiayaan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat serta tambahan modal kerja UMKM secara musiman,” ujar Agusman dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Mirae Asset Bantah Isu Rp14,5 Triliun, Tegaskan Dana Nasabah Aman di Tengah Penyidikan OJK

OJK mencatat pertumbuhan penyaluran pembiayaan pada industri pergadaian dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren positif pada periode Ramadan.

Pada Maret 2024, pembiayaan pergadaian tumbuh 1,78% secara bulanan (month-to-month/mtm), sementara pada Maret 2025 tercatat meningkat 1,66% mtm.

Menurut Agusman, industri pergadaian masih memiliki ruang pertumbuhan meskipun menghadapi kompetisi yang semakin ketat dari produk pembiayaan digital seperti pinjaman daring dan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater.

“Industri pergadaian masih memiliki daya saing karena menawarkan pembiayaan alternatif berbasis agunan yang relatif mudah diakses oleh masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: OJK Pastikan Sektor Keuangan Tetap Kuat Meski Outlook RI Negatif

Perkembangan industri ini juga terlihat dari meningkatnya jumlah pelaku usaha yang mengajukan izin. OJK mencatat sebanyak 165 pelaku usaha mengajukan izin usaha pergadaian dalam periode 1 Desember 2025 hingga 12 Januari 2026.

Dengan tambahan tersebut, total perusahaan pergadaian berizin di Indonesia hingga Januari 2026 mencapai 223 perusahaan.

“Selain itu, saat ini terdapat dua perusahaan yang sedang berproses meningkatkan lingkup usaha menjadi nasional sesuai ketentuan yang berlaku, dengan tetap mempertimbangkan aspek permodalan, tata kelola, dan kesiapan operasional,” kata Agusman.

Multifinance dan Fintech Lending Ikut Tumbuh

Selain pergadaian, OJK juga melihat potensi peningkatan penyaluran pembiayaan pada industri multifinance menjelang Lebaran.

Berdasarkan data historis, pada Maret 2024 penyaluran pembiayaan multifinance tumbuh 2,05% mtm dengan tingkat pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,45%.

Sementara pada Maret 2025, pertumbuhan pembiayaan tercatat sebesar 0,78% mtm dengan NPF gross sebesar 2,71%.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pembiayaan tetap terjadi meskipun industri harus menjaga kualitas kredit di tengah meningkatnya aktivitas pembiayaan musiman.

Sementara itu, sektor pinjaman daring atau fintech lending juga menunjukkan tren pertumbuhan signifikan selama periode Ramadan.

Pada Maret 2024, nilai penyaluran pembiayaan pindar meningkat hingga 8,9% mtm. Sedangkan pada Maret 2025 pertumbuhan masih tercatat positif sebesar 3,8% mtm.

Agusman menyatakan meskipun penyaluran pembiayaan meningkat, kualitas pendanaan industri fintech lending diperkirakan tetap terjaga.

“Kualitas pendanaan yang tercermin dari tingkat wanprestasi di atas 90 hari atau TWP90 diperkirakan tetap terjaga di bawah 5 persen selama periode Ramadan dan Idul Fitri tahun ini,” ujarnya.

Secara historis, Ramadan dan Idul Fitri merupakan periode puncak konsumsi domestik di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Lonjakan kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran biasanya terjadi pada sektor perdagangan, transportasi, makanan dan minuman, hingga kebutuhan mudik. Kondisi ini turut mendorong pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk meningkatkan modal kerja agar dapat memenuhi permintaan pasar yang meningkat secara musiman.

Dalam situasi tersebut, lembaga pembiayaan seperti multifinance, pergadaian, dan fintech lending menjadi sumber pendanaan alternatif yang relatif cepat diakses oleh masyarakat.

Kenaikan pembiayaan musiman ini juga menjadi indikator penting bagi kesehatan industri keuangan non-bank. Pertumbuhan pembiayaan yang tetap diiringi dengan kualitas kredit yang terjaga menunjukkan stabilitas sektor pembiayaan.

Namun demikian, OJK menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko di tengah peningkatan penyaluran kredit.

“Diperlukan penguatan credit scoring dan verifikasi borrower agar pertumbuhan pembiayaan selama momentum Lebaran tetap sehat dan berkelanjutan,” kata Agusman.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas pembiayaan di tengah meningkatnya permintaan kredit jangka pendek dari masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.