Ayah Bunda, Sisihkan THR Untuk Dana Pendidikan Anak
AKURAT.CO Menjelang Idulfitri, jutaan pekerja di Indonesia akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR) yang biasanya dibayarkan paling lambat H-7 Lebaran sesuai ketentuan Kementerian Ketenagakerjaan.
Momentum tambahan pemasukan ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat rencana keuangan jangka panjang keluarga, termasuk menyiapkan dana pendidikan anak yang biayanya terus meningkat setiap tahun.
Certified Financial Planner, Annisa Steviani mengingatkan, bahwa kenaikan biaya pendidikan di Indonesia cenderung melampaui pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Baca Juga: Sejarah Efisiensi Anggaran di Masa Khalifah Umar Bin Khattab: Tidak Memangkas Dana Pendidikan
“Banyak orang tua baru mulai memikirkan dana pendidikan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Padahal, perencanaan idealnya dimulai sejak anak masih dalam kandungan atau sejak lahir. Semakin cepat dimulai, semakin ringan langkahnya,” ujar Annisa secara daring, Selasa (10/3/2026).
Dirinya menjelaskan, rata-rata kenaikan biaya kuliah mencapai sekitar 6,03% per tahun, sementara kenaikan gaji tahunan rata-rata hanya sekitar 3%. Ketimpangan ini berpotensi menimbulkan tekanan finansial bagi keluarga jika perencanaan pendidikan tidak disiapkan sejak dini.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa komponen pendidikan menjadi salah satu penyumbang inflasi tahunan, terutama pada awal tahun ajaran baru.
Selain itu, laporan sejumlah lembaga pendidikan memperlihatkan biaya masuk perguruan tinggi swasta di kota besar dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung program studi dan reputasi kampus.
Annisa mengatakan, tambahan pemasukan seperti THR dan bonus tahunan dapat menjadi peluang untuk mulai atau memperkuat alokasi dana pendidikan anak.
“Momentum THR dan bonus tahunan bisa dimanfaatkan untuk membuka atau menambah alokasi dana pendidikan anak, mengevaluasi proyeksi biaya sekolah, serta menyesuaikan strategi menabung dengan kondisi keuangan keluarga,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi tersebut, ia juga membagikan beberapa langkah praktis dalam merencanakan dana pendidikan.
Pertama, orang tua perlu melakukan survei sekolah untuk mengetahui kisaran biaya pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Kedua, menyiapkan rencana alternatif apabila anak tidak diterima di sekolah pilihan utama, dengan simulasi biaya yang berbeda.
Langkah berikutnya adalah membuat perencanaan terstruktur yang memuat estimasi biaya pendidikan per jenjang serta proyeksi kenaikannya. Menurut Annisa, faktor jarak kelahiran anak juga perlu dipertimbangkan agar kebutuhan pendidikan tidak bertumpuk pada periode yang sama.
Selain soal tabungan atau investasi, perencanaan pendidikan juga perlu mempertimbangkan risiko yang dapat mengganggu stabilitas keuangan keluarga.
“Perencanaan pendidikan bukan hanya soal menabung. Orang tua juga perlu memikirkan risiko yang bisa mengganggu rencana, seperti sakit atau risiko meninggal dunia. Jika pencari nafkah utama mengalami risiko, maka dana pendidikan anak bisa ikut terdampak,” katanya.
Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, Wahyuni Murtiani mengatakan, perencanaan pendidikan anak perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi investasi tetapi juga perlindungan finansial. Momentum menjelang Idulfitri sering kali menjadi waktu refleksi dan penataan ulang keuangan keluarga.
"THR dan bonus tahunan dapat menjadi langkah awal yang strategis untuk memperkuat dana pendidikan anak, sekaligus melengkapinya dengan perlindungan asuransi agar rencana jangka panjang tetap terjaga,” ujar Wahyuni.
Menurutnya, risiko kesehatan maupun kehilangan pencari nafkah utama dapat memengaruhi kesinambungan pendidikan anak. Oleh karena itu, perlindungan finansial menjadi bagian penting dalam perencanaan jangka panjang keluarga.
Sebagai konteks, pemerintah mewajibkan perusahaan membayar THR kepada pekerja setiap tahun melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Bagi pekerja dengan masa kerja minimal 12 bulan, THR dibayarkan sebesar satu bulan gaji.
Dengan jumlah pekerja formal di Indonesia yang menurut BPS mencapai lebih dari 57 juta orang pada 2024, potensi dana THR yang beredar menjelang Lebaran diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.
Dana tersebut kerap memicu peningkatan konsumsi rumah tangga pada periode Ramadan hingga Idulfitri, yang menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi domestik.
Namun, para perencana keuangan menilai sebagian dari dana tersebut juga dapat dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang, seperti dana darurat, investasi, serta pendidikan anak.
Menjawab kebutuhan tersebut, Allianz Syariah menghadirkan produk asuransi jiwa dwiguna syariah AlliSya Cerdas yang dirancang untuk membantu orang tua menyiapkan dana pendidikan anak secara terencana.
Produk ini menggabungkan perlindungan jiwa dengan manfaat tunai yang diberikan secara berkala sesuai tahapan kebutuhan pendidikan.
Dalam skema produk tersebut, peserta dapat menerima manfaat tunai sebesar 40% pada akhir tahun polis ke-8 dan 80% pada akhir tahun polis ke-11 sebelum masa polis berakhir.
Manfaat tersebut dirancang untuk membantu pembiayaan pendidikan pada jenjang menengah hingga transisi ke jenjang berikutnya.
Produk ini dapat dibeli secara digital melalui platform OptimAll Allianz dengan skema Guaranteed Issuance Offer (GIO) berbasis pernyataan kesehatan. Kontribusi minimum dimulai dari Rp500 ribu per bulan, dengan usia masuk anak 1 bulan hingga 17 tahun dan peserta dewasa 18 hingga 50 tahun.
Dengan perencanaan yang disiplin, para perencana keuangan menilai orang tua dapat memastikan pendidikan anak tetap berjalan tanpa harus mengganggu stabilitas keuangan keluarga di masa depan. Momentum THR dan bonus tahunan dinilai dapat menjadi langkah awal untuk memulai rencana tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











