Akurat
Pemprov Sumsel

Harga Minyak Dunia USD100, Apa Dampaknya ke IHSG dan Saham Indonesia?

Idham Nur Indrajaya | 10 Maret 2026, 21:20 WIB
Harga Minyak Dunia USD100, Apa Dampaknya ke IHSG dan Saham Indonesia?
Harga minyak dunia USD100 memicu volatilitas IHSG. Simak dampaknya ke pasar saham Indonesia dan sektor investasi yang berpeluang naik. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Harga energi global kembali mengguncang pasar. Ketika harga minyak dunia USD100 per barel, pasar keuangan langsung bereaksi—mulai dari inflasi global hingga tekanan di pasar saham.

Lonjakan harga minyak ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur pasokan energi dunia. Risiko gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz membuat pasar global lebih waspada.

Dampaknya tidak hanya terasa pada negara pengimpor energi, tetapi juga merambat ke pasar saham Indonesia. Investor mulai menyesuaikan strategi portofolio, sementara beberapa sektor saham justru menemukan peluang di tengah gejolak.


Dampak Harga Minyak Dunia USD100 ke Pasar Saham Indonesia

Ketika harga minyak dunia USD100, beberapa efek langsung terhadap pasar saham Indonesia antara lain:

  • meningkatkan tekanan inflasi global

  • membuat bank sentral lebih berhati-hati menurunkan suku bunga

  • memicu volatilitas pasar saham

  • menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

  • meningkatkan minat investor pada saham berbasis komoditas

Kondisi ini membuat pasar lebih sensitif terhadap sentimen global, terutama arus dana asing di pasar saham yang sering bergerak cepat ketika risiko meningkat.


Harga Minyak Dunia Tembus USD100, Dipicu Konflik Timur Tengah

Lonjakan harga minyak dunia hari ini tidak terjadi tanpa sebab. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global.

Harga minyak Brent bahkan melonjak lebih dari 35% dalam sepekan, hingga menembus USD100 per barel. Risiko gangguan pengiriman tanker minyak di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat pasar energi global semakin tegang.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa lonjakan ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar.

“Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak bisa bertahan di atas USD100 per barel dan meningkatkan tekanan inflasi global,” ujar Rully, dikutip dari hasil riset Mirae Asset Sekuritas yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi mempersempit ruang pelonggaran moneter global dan bahkan memicu risiko stagflasi global.


Dampak ke Pasar Saham Indonesia dan IHSG

Kenaikan harga energi biasanya langsung terasa di pasar keuangan. Ketika biaya energi naik, tekanan inflasi meningkat dan kebijakan moneter menjadi lebih ketat.

Efeknya terlihat pada IHSG hari ini yang mengalami tekanan. Pada perdagangan terbaru:

  • IHSG berada di level 7.585,69

  • turun sekitar 1,62%

  • indeks MSCI Indonesia (EIDO) melemah 2,70%

Selain itu, pasar juga dipengaruhi oleh arus dana asing di pasar saham yang masih fluktuatif. Investor global tercatat melakukan net foreign sell sekitar Rp263 miliar, menambah tekanan terhadap pasar domestik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa emerging market seperti Indonesia cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global, terutama ketika harga energi melonjak tajam.


Saham Komoditas Jadi Penopang Saat Pasar Bergejolak

Meski pasar saham mengalami tekanan, tidak semua sektor terdampak negatif.

Beberapa saham komoditas Indonesia justru masih menarik minat investor, terutama yang berkaitan dengan energi dan sumber daya alam.

Beberapa saham yang masih mencatat minat beli investor asing antara lain:

  • ITMG

  • PTBA

  • BRMS

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Farras Farhan, menilai sektor batu bara masih relatif tangguh.

Menurutnya, meski harga komoditas sedang dalam fase penurunan, sektor ini tetap memiliki arus kas yang kuat dan permintaan global yang stabil.


Kinerja ITMG di Tengah Penurunan Harga Batu Bara

Salah satu contoh ketahanan sektor komoditas terlihat pada kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Perusahaan tersebut mencatat kinerja yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 dengan:

  • Pendapatan: USD512 juta

  • Volume penjualan: 6,8 juta ton

  • Harga jual rata-rata: USD75 per ton

Menurut Farras, efisiensi operasional menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas perusahaan.

“Kinerja ITMG menunjukkan bahwa disiplin biaya dan efisiensi operasional dapat membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara sedang berada dalam fase penurunan,” ujar Farras.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi dampak harga minyak terhadap saham, sektor komoditas masih dapat menjadi penopang pasar.


Sektor Konsumsi Berpotensi Terdorong Jelang Lebaran

Selain komoditas, ada sektor lain yang berpotensi mendapat sentimen positif dalam waktu dekat.

Menjelang Idul Fitri, aktivitas ekonomi domestik biasanya meningkat seiring lonjakan konsumsi masyarakat. Momentum ini dapat mendorong kinerja beberapa sektor seperti:

  • ritel

  • makanan dan minuman

  • transportasi

Beberapa saham konsumer jelang Lebaran yang dinilai menarik antara lain:

  • CMRY

  • MYOR

Peningkatan konsumsi domestik sering kali menjadi faktor yang membantu menjaga stabilitas ekonomi ketika tekanan global meningkat.


Ketika Harga Minyak Tinggi: Risiko dan Peluang bagi Indonesia

Lonjakan harga minyak sebenarnya menciptakan paradoks bagi Indonesia.

Di satu sisi, harga energi yang mahal dapat meningkatkan:

  • tekanan inflasi

  • biaya produksi industri

  • volatilitas pasar saham

Namun di sisi lain, Indonesia sebagai negara kaya komoditas justru bisa mendapatkan manfaat dari meningkatnya permintaan energi dan sumber daya alam.

Inilah sebabnya mengapa dalam kondisi investasi saham saat harga minyak naik, investor sering mengalihkan fokus ke sektor komoditas.


Simulasi Dampak Jika Harga Minyak Bertahan di Atas USD100

Jika harga minyak bertahan lama di atas USD100, kemungkinan skenario yang terjadi adalah:

  1. Biaya energi global meningkat

  2. Inflasi dunia naik

  3. Bank sentral menunda penurunan suku bunga

  4. Investor global menarik dana dari emerging markets

Akibatnya:

  • IHSG lebih volatile

  • arus dana asing semakin fluktuatif

  • investor beralih ke saham komoditas dan energi

Skenario ini sering terjadi ketika pasar global menghadapi ketidakpastian geopolitik yang tinggi.


Mengapa Isu Ini Penting bagi Investor?

Bagi investor, memahami efek harga minyak ke ekonomi global bukan sekadar mengikuti berita energi.

Pergerakan harga minyak sering menjadi indikator penting untuk membaca arah pasar ke depan, termasuk:

  • stabilitas inflasi

  • kebijakan suku bunga global

  • arah aliran modal internasional

  • peluang sektor saham tertentu

Dengan memahami dinamika ini, investor bisa lebih bijak menentukan strategi portofolio, terutama saat pasar sedang bergejolak.


Ketika Energi Mahal, Pasar Keuangan Ikut Bereaksi

Harga minyak sering menjadi cerminan ketegangan geopolitik dunia. Ketika energi menjadi mahal, dampaknya menjalar ke inflasi, kebijakan moneter, hingga pasar saham global.

Bagi pasar Indonesia, kondisi ini berarti volatilitas yang lebih tinggi, tetapi juga membuka peluang di sektor tertentu seperti komoditas dan konsumsi domestik.

Pergerakan harga minyak dunia USD100 dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah IHSG dan strategi investasi di pasar saham Indonesia.


Baca Juga: Pemerintah Pantau Harga Minyak Selama 1 Bulan Sebelum Putuskan Harga BBM

Baca Juga: Trump Ancam Iran: Ganggu Jalur Minyak di Selat Hormuz, AS Akan Balas 20 Kali Lebih Keras

FAQ

1. Mengapa harga minyak dunia bisa tembus USD100?

Harga minyak dunia bisa menembus USD100 per barel karena kombinasi faktor geopolitik dan pasokan energi global. Konflik di Timur Tengah, risiko gangguan jalur tanker seperti di Selat Hormuz, serta kekhawatiran terhadap pasokan minyak membuat pasar energi menjadi lebih ketat. Ketika risiko pasokan meningkat sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak global biasanya melonjak dengan cepat.

2. Apa dampak harga minyak dunia USD100 terhadap IHSG?

Ketika harga minyak dunia USD100, pasar saham biasanya menjadi lebih volatil. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan inflasi global dan membuat bank sentral menunda penurunan suku bunga. Akibatnya, IHSG hari ini berpotensi mengalami tekanan karena investor global cenderung lebih berhati-hati dan sebagian dana asing keluar dari pasar emerging market seperti Indonesia.

3. Sektor saham apa yang diuntungkan saat harga minyak naik?

Lonjakan harga energi sering memberikan sentimen positif bagi saham komoditas Indonesia, terutama sektor batu bara, energi, dan pertambangan. Perusahaan yang memiliki eksposur terhadap komoditas energi biasanya diuntungkan karena harga jual produk ikut meningkat. Oleh karena itu, saham seperti perusahaan batu bara atau tambang sering menjadi pilihan investor ketika harga minyak global naik.

4. Mengapa kenaikan harga minyak bisa memicu inflasi global?

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya energi dan transportasi di seluruh dunia. Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, perusahaan cenderung menaikkan harga barang dan jasa. Efek berantai ini membuat inflasi meningkat, sehingga bank sentral harus menjaga suku bunga tetap tinggi untuk menahan tekanan harga.

5. Bagaimana pengaruh harga minyak terhadap arus dana asing di pasar saham?

Ketika risiko geopolitik dan harga energi meningkat, investor global biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi negara maju atau emas. Kondisi ini dapat memicu arus keluar dana asing di pasar saham Indonesia, yang pada akhirnya memberi tekanan pada IHSG dan meningkatkan volatilitas pasar.

6. Apakah saham konsumer tetap menarik saat harga minyak tinggi?

Meski harga minyak naik dapat menekan ekonomi, sektor konsumsi domestik tetap memiliki peluang, terutama menjelang periode seperti Lebaran ketika daya beli masyarakat meningkat. Saham di sektor ritel, makanan dan minuman sering mendapatkan dorongan permintaan musiman, sehingga masih menarik bagi investor yang mencari peluang di tengah volatilitas pasar.

7. Bagaimana strategi investasi saham saat harga minyak dunia naik?

Ketika harga minyak dunia melonjak, investor biasanya menerapkan strategi diversifikasi dengan memperhatikan sektor yang relatif tahan terhadap gejolak global. Saham berbasis komoditas sering menjadi pilihan karena memiliki arus kas kuat, sementara sektor konsumsi domestik juga bisa menjadi alternatif saat permintaan masyarakat meningkat. Pendekatan selektif dan manajemen risiko menjadi kunci agar portofolio tetap stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.