APBN Maret 2026: Pajak Tumbuh Kuat, Bea Cukai Tertekan

AKURAT.CO Kinerja penerimaan pajak yang tumbuh kuat pada awal 2026 membantu menjaga stabilitas pendapatan negara meski penerimaan kepabeanan dan cukai mengalami penurunan.
Data Kementerian Keuangan Republik Indonesia menunjukkan penerimaan pajak bersih mencapai Rp245,1 triliun hingga Februari 2026.
Angka ini tumbuh 30,4% secara tahunan dan setara 10,4% dari target APBN 2026.
Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp44,9 triliun atau 13,4% dari target APBN, turun 14,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Transformasi Digital Bapenda Jabar, Aplikasi Semar Siap Kawal Transparansi Pajak Air Permukaan 2026
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan kontraksi terutama dipengaruhi oleh penurunan produksi pada akhir 2025 yang berdampak pada penerimaan cukai.
Penerimaan cukai tercatat Rp34,4 triliun atau turun 13,3% secara tahunan.
Diketahui, cukai hasil tembakau selama ini menjadi kontributor utama dalam penerimaan kepabeanan dan cukai.
Penurunan produksi pada akhir tahun sebelumnya biasanya berdampak pada penerimaan pada awal tahun berikutnya karena mekanisme pembayaran cukai.
Selain itu, penerimaan bea keluar juga tertekan akibat penurunan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Hingga Februari 2026, penerimaan bea keluar tercatat Rp2,8 triliun atau turun 48,4% secara tahunan.
Sebaliknya, penerimaan bea masuk tumbuh 1,7% menjadi Rp7,8 triliun, mencerminkan aktivitas impor yang masih berjalan.
Baca Juga: Perdagangan dan Industri Jadi Motor Pajak Indonesia
Kombinasi pertumbuhan pajak dan penurunan penerimaan kepabeanan dan cukai menunjukkan komposisi pendapatan negara yang masih bergantung pada sektor perpajakan.
Bagi pasar, stabilitas penerimaan negara penting untuk menjaga kredibilitas fiskal dan keberlanjutan pembiayaan APBN.
Oleh karena itu, pemerintah memperkirakan penerimaan cukai berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring kenaikan produksi pada Januari dan Februari 2026.
“Semoga dalam dua bulan ke depan penerimaan cukai bisa menjadi lebih baik,” ujar Suahasil.
Perkembangan harga komoditas global, aktivitas perdagangan, serta kinerja industri domestik akan menjadi faktor penentu penerimaan negara sepanjang tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








