Mudik 2026 Diprediksi Capai 143,9 Juta Orang, Perlindungan Finansial Jadi Sorotan

AKURAT.CO Pemerintah memprediksi mobilitas masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 akan kembali melonjak.
Kementerian Perhubungan memperkirakan sebanyak 143,91 juta orang akan melakukan perjalanan mudik ke berbagai daerah di Indonesia, menjadikannya salah satu pergerakan manusia terbesar setiap tahun.
Lonjakan mobilitas tersebut mendorong berbagai sektor, termasuk industri keuangan dan asuransi, untuk menyiapkan berbagai layanan perlindungan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jarak jauh selama periode Lebaran.
Chief of Agency PT FWD Insurance Indonesia, Ang Tiam Kit, mengatakan Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum penting bagi keluarga Indonesia untuk berkumpul, namun juga disertai risiko mobilitas yang lebih tinggi.
Baca Juga: Klaim Asuransi Kesehatan Naik 9,1% pada 2025, Industri Siapkan Transformasi Menuju 2026
“Ramadan dan Idulfitri adalah momen yang sangat berarti bagi keluarga Indonesia. Di tengah meningkatnya mobilitas dan berbagai persiapan menyambut hari raya, perlindungan jiwa menjadi bagian penting dalam perencanaan keluarga,” ujar Ang dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (15/3/2026).
Dirinya menambahkan, perusahaan menghadirkan produk Asuransi Jiwa Syariah FWD Rencana Sejahtera sebagai solusi perlindungan jiwa berbasis prinsip syariah yang dirancang untuk membantu keluarga tetap merasa aman selama periode aktivitas yang meningkat.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik 2026 yang mencapai 143,91 juta orang setara dengan lebih dari 50% populasi Indonesia yang saat ini diperkirakan sekitar 281 juta jiwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Fenomena mudik besar-besaran ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, mobilitas Lebaran selalu menjadi perhatian pemerintah karena berkaitan langsung dengan keselamatan perjalanan, kepadatan transportasi, serta kesiapan infrastruktur.
Sebagai perbandingan, survei Kemenhub pada Lebaran 2024 mencatat sekitar 193 juta orang melakukan perjalanan mudik. Sementara pada Lebaran 2023, jumlah pemudik mencapai sekitar 123 juta orang setelah pandemi COVID-19 mereda.
Dengan mobilitas yang besar tersebut, risiko perjalanan seperti kecelakaan lalu lintas juga menjadi perhatian. Data Korps Lalu Lintas Polri menunjukkan bahwa selama Operasi Ketupat 2024 tercatat lebih dari 2.000 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia selama periode arus mudik dan balik.
Di tengah tingginya mobilitas masyarakat, persoalan keamanan finansial juga menjadi perhatian. Survei FWD Group terhadap kelas menengah Asia menunjukkan bahwa lebih dari 70% responden merasa cemas terhadap kondisi kesejahteraan finansial mereka, yang pada akhirnya membuat sebagian masyarakat menunda perencanaan keuangan jangka panjang.
Ang mengatakan kondisi tersebut mendorong perusahaan menghadirkan produk perlindungan yang fleksibel.
Baca Juga: Klaim Asuransi Jiwa Capai Rp146,73 Triliun pada 2025, Dibayarkan ke 9,59 Juta Orang
“Melalui FWD Rencana Sejahtera, kami ingin membantu masyarakat merayakan kebersamaan dengan lebih nyaman dan percaya diri melalui solusi perlindungan berbasis prinsip syariah yang adil, transparan, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Produk ini menawarkan dua pilihan skema perlindungan, yakni dengan manfaat akhir masa asuransi maupun tanpa manfaat tersebut. Skema ini memungkinkan peserta memilih perlindungan sesuai strategi keuangan keluarga.
FWD Insurance menyebut produk ini dirancang untuk memberikan perlindungan yang relevan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri.
Beberapa manfaat yang ditawarkan antara lain perlindungan hingga 300% santunan asuransi, dengan rincian:
100% santunan apabila peserta meninggal dunia selama masa perlindungan.
200% santunan apabila meninggal dunia akibat kecelakaan.
200% santunan apabila meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji atau umrah.
300% santunan apabila meninggal dunia akibat kecelakaan selama bulan Ramadan.
Selain itu, tersedia fleksibilitas masa perlindungan selama 15, 20, atau 25 tahun, dengan pilihan pembayaran kontribusi selama 3, 5, atau 10 tahun.
Perusahaan menyatakan seluruh pengelolaan produk dilakukan melalui unit usaha syariah yang mengikuti prinsip pengelolaan dana secara transparan dan sesuai ketentuan syariah.
Lonjakan pergerakan masyarakat selama Ramadan dan Lebaran tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga pada berbagai sektor lain seperti pariwisata, konsumsi rumah tangga, hingga industri jasa keuangan.
Menurut data Bank Indonesia, periode Ramadan dan Idulfitri secara historis juga mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga, yang merupakan kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dengan porsi sekitar lebih dari 50%.
Dalam konteks tersebut, perlindungan finansial dinilai menjadi bagian penting dari perencanaan keluarga, terutama ketika aktivitas perjalanan dan pengeluaran meningkat.
Ang menegaskan bahwa perusahaan ingin mendorong masyarakat untuk melihat asuransi bukan sekadar produk keuangan, melainkan bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga.
“Kami ingin terus mendukung keluarga Indonesia menghadirkan ketenangan nyata, agar keluarga bisa fokus pada hal yang paling penting, yaitu kebersamaan. Hal ini juga menjadi bagian dari visi kami untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi sebagai mitra perlindungan dalam merayakan kehidupan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











