Menkeu Nilai Lonjakan Minyak Hingga USD150 per Barel Tak Akan Lama

AKURAT.CO Pemerintah menilai lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar USD150 per barel berpotensi memicu perlambatan ekonomi global sehingga tidak akan bertahan lama.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan lonjakan harga minyak ekstrem biasanya diikuti pelemahan permintaan energi akibat tekanan terhadap aktivitas ekonomi.
“Tidak apa-apa kalau harga minyak ke level 150 dolar per barel. Kita pasti selamat. Tidak akan lama di level itu, karena semuanya akan resesi. Setelah itu jatuh lagi,” kata Purbaya.
Baca Juga: Bandingkan Defisit dengan Malaysia dan Vietnam, Purbaya: Indonesia Masih Rendah
Menurutnya, sejarah menunjukkan harga minyak pernah melonjak hingga sekitar level tersebut sebelum akhirnya turun tajam.
Fluktuasi harga minyak merupakan fenomena yang berulang dalam ekonomi global.
Ketika harga minyak melonjak terlalu tinggi, biaya energi meningkat bagi industri dan transportasi sehingga menekan aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan energi global, yang pada akhirnya menekan harga minyak kembali turun. Dinamika ini sering terlihat dalam siklus pasar energi global.
Selain itu, produsen minyak juga memiliki kepentingan menjaga keseimbangan harga agar permintaan tetap stabil.
Baca Juga: Purbaya: Fundamental Ekonomi RI Masih Jaga Rupiah
Lonjakan harga minyak global dapat memengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari inflasi, biaya transportasi, hingga harga pangan.
Bagi Indonesia, tekanan harga minyak juga berkaitan dengan beban subsidi energi dalam APBN serta stabilitas harga BBM domestik.
Namun pemerintah menilai dampaknya masih dapat dikelola selama lonjakan harga tidak berlangsung dalam waktu lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










