Akurat
Pemprov Sumsel

7 Tips Buat Gen Z dan Milenial Hadapi Lonjakan Belanja Lebaran 2026

Esha Tri Wahyuni | 18 Maret 2026, 21:35 WIB
7 Tips Buat Gen Z dan Milenial Hadapi Lonjakan Belanja Lebaran 2026
Ilustrasi belanja Lebaran 2026

AKURAT.CO Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri atau Lebaran, kebutuhan masyarakat cenderung meningkat signifikan. Mulai dari pembelian kebutuhan pokok, pakaian baru, hingga biaya mudik.

Kondisi ini turut menjadi tantangan bagi kelompok usia produktif seperti generasi Z dan milenial dalam menjaga stabilitas keuangan.

Mengutip data Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga biasanya mengalami lonjakan pada periode Ramadan hingga Lebaran, dengan peningkatan transaksi ritel dan digital.

Sementara itu, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di 65,43%. Yang berarti belum seluruh masyarakat memiliki pemahaman optimal dalam mengelola keuangan, terutama di momen konsumtif.

Baca Juga: Mudik Lebaran 2026, Kementerian PU Pastikan Jalur Lembah Anai Siap Beroperasi 24 Jam

Kondisi ini mendorong pentingnya strategi pengelolaan keuangan yang tepat, khususnya bagi Gen Z dan milenial yang dikenal memiliki gaya hidup dinamis dan dekat dengan ekosistem digital.

1. Menyusun Anggaran Prioritas

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun anggaran secara terperinci. Pengeluaran dibagi berdasarkan prioritas utama seperti kebutuhan pokok, zakat, dan transportasi mudik.

Konsep budgeting seperti metode 50/30/20 masih relevan digunakan, yakni 50% untuk kebutuhan, 30% keinginan, dan 20% tabungan atau investasi. Dengan pendekatan ini, alokasi dana menjadi lebih terkontrol.

2. Memanfaatkan Promo dan Diskon Digital

Perkembangan platform digital memberikan peluang efisiensi melalui promo dan diskon. Data dari Shopee dan Tokopedia menunjukkan lonjakan transaksi selama Ramadan, terutama pada kategori fesyen dan kebutuhan rumah tangga.

Penggunaan fitur cashback, gratis ongkir, serta perbandingan harga menjadi strategi yang umum dilakukan untuk menekan pengeluaran.

3. Menghindari Pembelian Impulsif

Perilaku konsumtif cenderung meningkat saat Ramadan akibat berbagai promosi dan dorongan sosial. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan prinsip delayed spending, yakni menunda pembelian selama 24–48 jam untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

4. Mengalokasikan Dana Darurat

Di tengah tingginya pengeluaran, alokasi dana darurat tetap menjadi prioritas. Idealnya, dana darurat setara dengan 3–6 bulan pengeluaran rutin. Hal ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak selama periode Lebaran, seperti biaya kesehatan atau perjalanan tambahan.

5. Mengoptimalkan THR Secara Bijak

Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan. Berdasarkan anjuran Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, THR sebaiknya tidak dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi.

Sebagian dana dapat dialokasikan untuk Tabungan atau investasi, Pelunasan utang, dan Dana sosial seperti zakat dan sedekah.

6. Memanfaatkan Instrumen Keuangan Digital

Generasi muda cenderung adaptif terhadap teknologi finansial. Pemanfaatan aplikasi keuangan, e-wallet, hingga fitur auto-debit membantu dalam memantau arus kas secara real-time.

Selain itu, instrumen investasi seperti reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif penyimpanan dana jangka pendek yang relatif likuid.

7. Menekan Biaya Mudik

Mudik menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar saat Lebaran. Strategi yang dapat dilakukan antara lain yakni Membeli tiket jauh hari, Memanfaatkan program mudik gratis dari pemerintah atau BUMN dan Berbagi biaya perjalanan (carpooling).

Program mudik gratis sendiri rutin diselenggarakan oleh berbagai instansi, termasuk Kementerian Perhubungan, guna mengurangi beban biaya masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.