Akurat
Pemprov Sumsel

Efek Domino Global: Dolar Menguat, Mata Uang Asia Tertekan

Andi Syafriadi | 23 Maret 2026, 13:50 WIB
Efek Domino Global: Dolar Menguat, Mata Uang Asia Tertekan
Ilustrasi Mata Uang Dolar diatas Rupiah

AKURAT.CO Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memicu efek domino ke pasar keuangan global.

Salah satu dampak paling terasa adalah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali diburu investor sebagai aset aman (safe haven).

Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk ancaman terhadap jalur energi strategis dunia.

Mengutip dari laman reuters, kondisi tersebut pun mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar.

Baca Juga: Megawati Terima Kunjungan Dubes Negara Sahabat, Bahas Geopolitik hingga Pemanasan Global

Di saat yang sama, mata uang utama dunia justru melemah. Euro, yen Jepang, hingga poundsterling tertekan, sementara indeks dolar tercatat menguat mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan juga menjalar ke kawasan Asia. Sejumlah mata uang negara berkembang mengalami pelemahan signifikan.

Bahkan, rupee India tercatat menyentuh level terendah sepanjang sejarah akibat lonjakan harga energi dan arus keluar modal asing.

Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur vital seperti Selat Hormuz terganggu.

Kenaikan harga energi ini berdampak langsung pada inflasi dan stabilitas ekonomi banyak negara.

Baca Juga: Prabowo-Megawati Bahas Geopolitik Global, Soroti Peran Indonesia di Panggung Dunia

Kondisi tersebut juga menekan pasar saham global. Bursa di berbagai negara, termasuk Asia dan Amerika Serikat, mengalami penurunan akibat meningkatnya ketidakpastian.

Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan meningkatkan posisi kas.

Selain itu, ekspektasi kebijakan moneter global turut berubah. Rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama, termasuk The Fed, mulai diragukan karena tekanan inflasi yang meningkat akibat harga energi.

Secara historis, kondisi seperti ini memang kerap mendorong penguatan dolar.

Dalam situasi krisis atau ketidakpastian global, dolar masih dianggap sebagai instrumen lindung nilai paling aman oleh investor.

Namun demikian, volatilitas pasar masih akan tinggi selama konflik belum mereda. Risiko inflasi, perlambatan ekonomi, hingga potensi stagflasi menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global.

Bagi negara berkembang, tekanan ini bisa menjadi tantangan serius. Pelemahan mata uang, kenaikan harga energi, dan arus modal keluar berpotensi memperbesar beban ekonomi domestik dalam jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.