Akurat
Pemprov Sumsel

Harga Emas Bisa Tembus USD10.000 Meski Sempat Terkoreksi 21 Persen

Esha Tri Wahyuni | 24 Maret 2026, 17:12 WIB
Harga Emas Bisa Tembus USD10.000 Meski Sempat Terkoreksi 21 Persen
Emas global

AKURAT.CO Harga emas hari ini kembali menjadi sorotan setelah mengalami koreksi tajam dan masuk ke fase bearish. Pada Selasa (24/3/2026), harga emas dunia tercatat turun hingga 2% sebelum stabil di kisaran USD4.335,97 per ons.

Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan hingga sekitar 21% dari puncaknya di akhir Januari 2026.

Namun, di tengah tekanan kuat dari penguatan dolar AS dan meredanya tensi geopolitik global, para analis justru melihat kondisi ini sebagai fase koreksi sehat.

Baca Juga: Cara Mengatasi Telinga Kemasukan Air dengan Aman dan Efektif

Harga Emas Masuk Bearish: Koreksi Dalam dari Level Tertinggi

Harga emas global mengalami tekanan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan terbaru, logam mulia ini sempat turun 2% sebelum rebound tipis ke USD4.335,97 per ons.

Jika ditarik dari puncaknya di akhir Januari 2026 yang mencapai USD5.594,82, harga emas kini sudah terkoreksi sekitar 21%. Koreksi ini menempatkan emas secara teknikal ke dalam zona bearish market.

Penurunan tajam ini bukan tanpa sebab. Penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan harga emas. Dalam kondisi dolar yang lebih kuat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan cenderung melemah.

Dolar AS Menguat dan Geopolitik Mereda

Tekanan terhadap harga emas semakin besar setelah adanya sinyal meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, memutuskan untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Kebijakan ini langsung memicu sentimen positif di pasar global dan mengurangi permintaan terhadap aset aman seperti emas.

Di sisi lain, indeks dolar AS menguat sekitar 3% sejak awal konflik pada Februari 2026. Penguatan ini mendorong investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah sebelumnya emas mengalami reli panjang.

Emas Bisa Tembus USD10.000

Meski tren jangka pendek melemah, pandangan jangka panjang terhadap emas masih sangat bullish. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menegaskan optimismenya bahwa harga emas masih berpotensi melonjak signifikan.

“Kami tetap memegang target USD10.000 per ons pada akhir dekade ini,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).

Dirinya memang menurunkan target jangka pendek dari USD6.000 menjadi USD5.000 untuk akhir tahun ini. Namun, angka tersebut masih sekitar 15% lebih tinggi dibandingkan posisi harga saat ini.

Artinya, koreksi yang terjadi saat ini belum mengubah arah tren besar emas dalam jangka panjang.

Koreksi Membawa Peluang? Ini Kata Analis Global

Pandangan serupa datang dari Strategis Investasi Global X ETFs, Justin Lin, yang menilai penurunan harga emas justru membuka peluang akumulasi bagi investor.

“Aksi jual ini lebih dipengaruhi oleh faktor jangka pendek seperti sensitivitas terhadap suku bunga dan penyeimbangan portofolio,” jelasnya.

Dirinya menambahkan bahwa fungsi emas sebagai safe haven asset tidak berubah, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Bank Sentral Jadi Penopang Kuat Harga Emas

Salah satu faktor fundamental yang menjaga harga emas tetap solid adalah permintaan dari bank sentral, khususnya negara berkembang.

Tren diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS ke emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menjadi bagian dari strategi global yang dikenal sebagai dedolarisasi.

Bank sentral membeli emas untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar sekaligus menjaga stabilitas nilai aset mereka di tengah volatilitas pasar global.

Optimisme terhadap pemulihan harga emas juga disampaikan oleh Rajat Bhattacharya, Senior Investment Strategist di Standard Chartered. Dirinya memproyeksikan harga emas berpotensi kembali naik ke level USD5.375 per ons dalam tiga bulan ke depan.

Menurutnya, tekanan saat ini bersifat sementara dan akan mereda seiring dengan berakhirnya fase deleveraging serta potensi pelemahan dolar AS.

“Ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali menguat, emas akan mendapatkan dorongan signifikan,” ujarnya.

Faktor Global: Tarik Ulur Dolar, Suku Bunga, dan Risiko Dunia

Pergerakan harga emas di 2026 mencerminkan dinamika kompleks antara kekuatan ekonomi AS dan risiko global. Di satu sisi, suku bunga tinggi cenderung menekan harga emas karena meningkatkan imbal hasil aset lain seperti obligasi.

Namun di sisi lain, utang fiskal yang membengkak di negara maju serta risiko fragmentasi perdagangan global membuat emas tetap relevan sebagai lindung nilai (hedging asset).

Kondisi ini menciptakan volatilitas tinggi, tetapi sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset strategis jangka panjang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.