S&P 500 Turun 1,7 Persen di Tengah Konflik Iran dan Yield Naik

AKURAT.CO Pasar saham Amerika Serikat kembali tertekan setelah kombinasi ketegangan geopolitik Iran dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah memicu aksi jual investor global.
Indeks S&P 500 turun 1,7% pada Kamis waktu setempat, menjadi penurunan harian terdalam sejak Januari sekaligus menutup di level terendah sejak September. Delapan dari 11 sektor utama tercatat di zona merah.
Indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi bahkan merosot lebih dalam sebesar 2,4%. Saham raksasa seperti Nvidia Corp. dan Meta Platforms Inc. turun ke level terendah dalam hampir tujuh bulan.
Baca Juga: Modal Asing Rp1,57 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan
Di saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,41% setelah lelang obligasi menunjukkan permintaan yang relatif lemah.
Dikutip dari laman reuters, Presiden Donald Trump sempat menekan pasar setelah mengancam langkah militer lanjutan terhadap Iran, sebelum kemudian memperpanjang tenggat negosiasi hingga 6 April dan menyebut pembicaraan berjalan “sangat baik”.
Secara historis, kombinasi ketegangan geopolitik dan kenaikan yield menjadi pemicu utama volatilitas pasar global. Konflik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz, memiliki dampak luas terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.
Harga minyak Brent tercatat naik hingga USD106 per barel, sementara Indeks Volatilitas Cboe (VIX) melonjak ke kisaran 27 menandakan peningkatan signifikan dalam persepsi risiko pasar.
Selain itu, sinyal kenaikan suku bunga dari Bank Sentral Eropa turut memperkuat tekanan global terhadap aset berisiko.
Baca Juga: OJK: Investor Asing Masih Net Buy Rp3,3 Triliun di Pasar Saham RI
Kenaikan yield obligasi dan lonjakan harga minyak meningkatkan biaya modal serta menekan valuasi saham, khususnya sektor teknologi yang sensitif terhadap suku bunga.
Kelompok saham “Magnificent Seven” dilaporkan turun sekitar 3% dan mencapai level terendah sejak akhir Agustus, mencerminkan pergeseran investor dari aset pertumbuhan ke instrumen yang lebih defensif.
Ketidakpastian terkait potensi penutupan Selat Hormuz juga meningkatkan risiko terhadap rantai pasok global, termasuk sektor energi dan teknologi.
Pasar dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran, arah harga minyak, serta pergerakan yield obligasi. Investor cenderung menahan posisi sambil menunggu kejelasan kebijakan dan stabilitas geopolitik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







