Akurat
Pemprov Sumsel

Laba Bersih PTBA 2025 Turun 43 Persen ke Rp2,93 Triliun di Tengah Tekanan Harga Batu Bara

Yosi Winosa | 1 April 2026, 14:15 WIB
Laba Bersih PTBA 2025 Turun 43 Persen ke Rp2,93 Triliun di Tengah Tekanan Harga Batu Bara
Pegawai PTBA

AKURAT.CO PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp2,93 triliun sepanjang 2025, turun 43% dari capaian tahun sebelumnya Rp5,10 triliun.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025, perseroan tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid.

"Kami juga mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan, didorong oleh optimalisasi portofolio pasar ekspor dan peningkatan efisiensi biaya. Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif," ujar Arsal dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga: Kurangi Ketergantungan LPG Subsidi, PTBA Siapkan Briket Batu Bara Modern dan Ramah Lingkungan

Harga batu bara global sepanjang 2025 tercatat melemah, dengan penurunan mencapai sekitar 16,26% menurut data Refinitiv. Tren penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan global, khususnya dari China dan India, serta peningkatan pasokan.

Pendapatan Usaha, Harga Jual Rata-rata

PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun pada 2025, yang mana relatif sama secara YoY. Meskipun volume penjualan tercatat meningkat 6% YoY, namun pelemahan harga batu bara, baik Newcastle Index yang turun 22% YoY dan ICI-3 yang turun 16% YoY, berimbas pada pelemahan harga jual rata-rata yang tercatat turun 6% YoY.

Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Desember 2025 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 54%, sedangkan sisanya 46% merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, 5 negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.

Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional

Beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp36,39 triliun, atau naik sebesar 5% secara YoY. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9% YoY maupun angkutan yang juga naik 6% YoY, meskipun dari sisi stripping ratio tercatat lebih rendah di angka 6,07x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,23x.

Selain itu, pencabutan subsidi komponen FAME pada Biodiesel serta kewajiban untuk menggunakan B40 juga berdampak pada peningkatan harga BBM/liter (+13% YoY), yang otomatis berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di samping itu, secara YoY, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp261,88 miliar atau 13% dan beban penjualan naik 3% atau sebesar Rp23,58 miliar. Kenaikan ini selaras dengan peningkatan volume penjualan yang naik 6% YoY.

Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan dan Bagian atas Laba Neto

Entitas asosiasi dan ventura bersama perusahaan membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp219,50 miliar, atau turun 12% YoY seiring dengan turunnya penghasilan bunga baik dari penempatan kas di bank dan deposito berjangka maupun dari penempatan obligasi.

Biaya keuangan tercatat Rp325,93 miliar atau naik 15% YoY seiring dengan peningkatan beban bunga dari pinjaman bank. Sedangkan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 671,56 miliar, atau naik 5% YoY.

Total Aset

Total aset pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp43,92 triliun atau naik 5% dibandingkan akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp41,79 triliun. Hal tersebut disebabkan adanya kenaikan nilai aset tidak lancar sebesar 12% atau ekuivalen dengan Rp3,12 triliun, yang utamanya diperoleh dari penambahan aset tetap.

Total Liabilitas dan Ekuitas

Total liabilitas pada 31 Desember 2025 tercatat naik dari posisi pada akhir Desember 2024 sebesar Rp19,14 triliun, menjadi Rp21,30 triliun,yang utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan pinjaman bank. Sedangkan ekuitas tercatat menurun tipis dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp22,64 triliun menjadi Rp22,62 triliun pada 31 Desember 2025.

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp5,05 triliun menjadi Rp6,26 triliun atau naik 24% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh adanya peningkatan penermimaan dari pelanggan dan pengembalian pajak.

Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp0,94 triliun menjadi Rp3,40 triliun sampai dengan 31 Desember 2025. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya penambahan aset tetap dan tanaman produktif yang meningkat dari periode sebelumnya.

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat turun dari periode sebelumnya Rp4,14 triliun menjadi Rp2,52 triliun. Penurunan ini seiring dengan jumlah pembayaran dividen pada tahun ini serta penurunan pembayaran pinjaman bank. Pada tahun 2025, Perusahaan membagikan dividen sebesar Rp3,83 triliun.

Belanja Modal

Belanja modal sampai dengan 31 Desember 2025 terealisasi sebesar Rp4,55 triliun dengan mayoritas digunakan untuk Pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan

"Realisasi belanja modal yang optimal menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan serta pertumbuhan kinerja operasional perseroan ke depan," tutur Arsal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.