Akurat
Pemprov Sumsel

IHSG Turun Saat Bursa Global Naik, Ini Penyebab Utamanya

Idham Nur Indrajaya | 1 April 2026, 18:00 WIB
IHSG Turun Saat Bursa Global Naik, Ini Penyebab Utamanya
IHSG turun saat bursa global naik. Simak penyebabnya, dari aksi jual asing hingga kenaikan harga minyak dunia. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Pasar saham global sedang rebound, tapi IHSG turun. Kontras ini bikin banyak investor bertanya: ada apa dengan pasar Indonesia?

Di saat indeks seperti Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 menguat, Indeks Harga Saham Gabungan justru melemah 0,6% ke level 7.048. Tekanan makin terasa setelah investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,2 triliun.


Jawaban Singkat: Kenapa IHSG Turun?

Dikutip dari riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kondisi ini bukan sekadar koreksi biasa, melainkan sinyal awal fase distribusi di tengah meningkatnya risiko ekonomi.

IHSG turun karena kombinasi tekanan domestik yang lebih dominan dibanding sentimen global, di antaranya:

  • Arus keluar dana asing (foreign net sell besar)

  • Kenaikan harga minyak dunia hingga USD118 per barel

  • Munculnya risiko stagflasi di Indonesia

  • Tekanan nilai tukar rupiah

  • Ketidakpastian kebijakan fiskal dan energi

Meski bursa global naik, faktor internal Indonesia saat ini lebih menentukan arah pasar.


Kenapa IHSG Turun Saat Bursa Global Naik?

Secara teori, ketika pasar global menguat, IHSG biasanya ikut terdorong. Tapi kali ini terjadi divergensi.

Masalahnya ada pada tekanan domestik. Ketika ekonomi dalam negeri menghadapi risiko inflasi, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian fiskal, investor cenderung lebih berhati-hati.

Artinya, sentimen global positif tidak cukup kuat untuk mengangkat pasar lokal.


Arus Dana Asing Keluar Jadi Pemicu Utama

Salah satu penyebab paling nyata adalah aksi jual investor asing.

Tercatat:

  • Foreign net sell: Rp1,2 triliun

  • Saham terdampak: perbankan besar seperti BBRI dan BBNI

  • Saham komoditas seperti BRMS dan BUMI juga ikut tertekan

Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyebut:

Bias sell-on-strength masih relevan pada saham perbankan besar dan sektor siklikal.

Secara sederhana, investor memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari pasar—bukan masuk.


Harga Minyak Dunia Naik dan Risiko Stagflasi

Lonjakan harga minyak menjadi faktor besar berikutnya.

Harga minyak mentah Brent menyentuh USD118 per barel, yang berdampak langsung ke:

  • Potensi inflasi

  • Beban subsidi energi

  • Tekanan fiskal

Menurut analis Mirae Asset, Jessica Tasijawa:

Probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi saat ini berada di kisaran 5–10% dan masih relatif rendah.

Meski kecil, risiko ini tetap diperhitungkan pasar—terutama jika konflik global terus mendorong harga energi naik.


Kebijakan BBM Ditahan, Daya Beli Aman tapi Fiskal Tertekan

Pemerintah memilih menahan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Kebijakan ini punya dua sisi:

  • Positif: inflasi lebih terkendali

  • Negatif: tekanan terhadap anggaran negara meningkat

Jessica menjelaskan bahwa kombinasi efisiensi anggaran dan optimalisasi pajak masih bisa menjaga defisit tetap stabil, meski ruang fiskal semakin terbatas.


Prediksi IHSG dan Level Kritis yang Perlu Dipantau

Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG masih rawan tekanan.

Proyeksi dari Mirae Asset:

  • Target bawah: 7.005

  • Support kritikal: 6.892

Selain itu, faktor lain yang ikut mempengaruhi:

  • Yield SBN 10 tahun: sekitar 6,86%

  • Nilai tukar rupiah: mendekati Rp16.995/USD

Kondisi ini menunjukkan ruang penurunan suku bunga semakin terbatas.


Insight: Ketergantungan pada Asing Jadi Titik Lemah

Ada satu pola yang terus berulang: ketika dana asing keluar, IHSG langsung tertekan.

Ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih sangat bergantung pada likuiditas global. Ketika ada gejolak eksternal—seperti konflik energi atau kenaikan harga minyak—dampaknya langsung terasa.

Ironisnya, di saat pasar global optimistis, pasar domestik justru rapuh karena faktor internal belum sepenuhnya kuat.


Contoh Nyata: Investor Retail Ikut Terseret

Bayangkan seorang investor pemula yang memegang saham bank besar seperti BBRI.

Saat IHSG turun:

  • Harga saham ikut melemah

  • Portofolio berubah merah

  • Muncul kepanikan untuk cut loss

Padahal, penurunan ini bukan hanya soal kinerja perusahaan, tapi efek kombinasi global dan domestik.

Tanpa pemahaman konteks, keputusan investasi bisa jadi reaktif.


Kenapa Ini Penting untuk Dipahami?

Pergerakan IHSG bukan sekadar angka.

Ini mencerminkan:

  • Kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia

  • Stabilitas kebijakan pemerintah

  • Risiko global yang mempengaruhi pasar domestik

Bagi investor, memahami penyebabnya jauh lebih penting daripada sekadar melihat naik-turun harga.


Penutup

Pasar tidak selalu bergerak searah logika global. Ketika dunia optimistis, Indonesia justru bisa menghadapi tekanan dari dalam.

IHSG turun di tengah rebound global menjadi pengingat bahwa kekuatan pasar domestik masih perlu diperkuat—baik dari sisi fundamental maupun kebijakan.

Pertanyaannya, jika tekanan global berlanjut dan dana asing terus keluar, seberapa kuat IHSG bisa bertahan?

Pantau terus pergerakan pasar dan sentimen global untuk membaca arah berikutnya.


Baca Juga: Sinyal Deeskalasi Perang AS-Iran Bikin Pasar Saham Asia Kompak Menghijau

Baca Juga: Trump Kecewa Negara Sekutu Tak Dukung Perang Lawan Iran: Silahkan Cari Minyak Sendiri!

FAQ

1. Kenapa IHSG turun saat bursa global naik?

IHSG turun karena tekanan domestik lebih kuat dibanding sentimen global. Faktor seperti aksi jual investor asing, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga minyak dunia membuat pasar saham Indonesia tidak ikut rebound seperti Dow Jones Industrial Average atau S&P 500. Kondisi ini menciptakan divergensi antara pasar global dan domestik.


2. Apa penyebab utama IHSG melemah hari ini?

Penyebab utama IHSG melemah adalah foreign net sell dalam jumlah besar, terutama pada saham perbankan dan komoditas. Selain itu, kekhawatiran terhadap inflasi, risiko stagflasi, serta tekanan dari harga energi global juga ikut membebani sentimen investor di pasar saham Indonesia.


3. Apa dampak foreign net sell terhadap IHSG?

Foreign net sell atau aksi jual investor asing dapat menekan IHSG karena mengurangi likuiditas pasar. Ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, harga saham cenderung turun, terutama pada saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan, sehingga memicu penurunan indeks secara keseluruhan.


4. Bagaimana pengaruh harga minyak dunia terhadap IHSG?

Kenaikan harga minyak dunia, seperti Brent yang mencapai USD118 per barel, dapat meningkatkan tekanan inflasi dan beban subsidi pemerintah. Hal ini membuat investor lebih berhati-hati karena berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi, yang akhirnya berdampak negatif terhadap pergerakan IHSG.


5. Apa itu risiko stagflasi dan pengaruhnya ke pasar saham?

Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Risiko stagflasi di Indonesia membuat investor cenderung defensif karena kondisi ini dapat menekan kinerja perusahaan dan mengurangi daya beli masyarakat, sehingga berdampak pada pelemahan IHSG.


6. Apakah IHSG masih berpotensi turun dalam waktu dekat?

IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut. Proyeksi analis menunjukkan adanya potensi penurunan ke level support di bawah 7.000, terutama jika arus dana asing keluar terus berlanjut dan sentimen global memburuk.


7. Apa yang sebaiknya dilakukan investor saat IHSG turun?

Saat IHSG turun, investor disarankan untuk tidak panik dan tetap fokus pada fundamental saham. Strategi seperti diversifikasi portofolio, memilih saham defensif, serta memanfaatkan momentum koreksi untuk akumulasi bertahap bisa menjadi langkah bijak di tengah volatilitas pasar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.