Akurat
Pemprov Sumsel

Ekonomi Syariah Hanya Tumbuh di Ramadan, Bos OJK: Harus Bergerak Sepanjang Tahun

Esha Tri Wahyuni | 2 April 2026, 19:09 WIB
Ekonomi Syariah Hanya Tumbuh di Ramadan, Bos OJK: Harus Bergerak Sepanjang Tahun
Ketua DK OJK, Friderica Widyasari Dewi

AKURAT.CO Perkembangan ekonomi syariah Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya akselerasi sektor ini secara berkelanjutan.

Tidak hanya saat Ramadan, ekonomi dan keuangan syariah didorong untuk tumbuh sepanjang tahun guna mengoptimalkan potensi besar Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. 

Data terbaru menunjukkan industri keuangan syariah tetap tumbuh solid di tengah tekanan geopolitik global, namun masih menghadapi tantangan rendahnya inklusi. OJK juga terus memperkuat strategi seperti edukasi keuangan syariah, meningkatkan penetrasi UMKM pasar.

Baca Juga: 10 Prospek Kerja Jurusan Ekonomi Syariah, Peluang Karier Menjanjikan di Era Industri Halal

Ekonomi Syariah Tak Bisa Musiman, OJK Ubah Paradigma

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa aktivitas ekonomi syariah tidak boleh hanya terfokus pada momentum Ramadan. Ia menilai masih ada persepsi di masyarakat bahwa kegiatan berbasis syariah hanya relevan dilakukan pada periode tertentu.

“Masih ada anggapan kegiatan baik hanya dilakukan saat Ramadan. Padahal tidak bisa seperti itu, ekonomi dan keuangan syariah harus terus bergerak sepanjang tahun,” ujarnya dalam agenda Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026 di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, perubahan pola pikir ini menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan industri secara berkelanjutan sekaligus memperluas basis pengguna layanan keuangan syariah di Indonesia.

Indonesia memiliki posisi strategis dalam peta ekonomi syariah global. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia berhasil menempati peringkat ketiga dalam Global Islamic Economic Indicator.

Tak hanya itu, sektor keuangan syariah nasional juga berada di posisi enam besar dunia, mencakup industri perbankan syariah, asuransi, sukuk, hingga dana sosial syariah.

Capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya pasar potensial, tetapi juga pemain utama dalam industri halal global yang terus berkembang.

Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.100 Triliun

Dari sisi kinerja, industri keuangan syariah Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Hingga Desember 2025, total aset keuangan syariah tercatat mencapai Rp3.100 triliun atau tumbuh 8,61% secara tahunan (year on year/yoy).

Rinciannya, perbankan syariah menyumbang Rp1.067 triliun, pasar modal syariah sebesar Rp1.800 triliun, serta Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah sebesar Rp188 triliun.

Sementara itu, pembiayaan syariah juga mengalami peningkatan signifikan. Intermediasi pembiayaan tumbuh 9,58% yoy menjadi Rp705 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 10,14%.

Di sisi lain, kapitalisasi pasar syariah melonjak hingga Rp8.900 triliun atau tumbuh 31,4% yoy, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan berbasis syariah.

Inklusi Syariah Masih Rendah

Meski pertumbuhan industri tergolong solid, tantangan besar masih membayangi. Tingkat inklusi keuangan syariah baru mencapai 13%, jauh di bawah tingkat literasi yang sudah menyentuh 43%.

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap produk syariah belum sepenuhnya diikuti dengan penggunaan nyata.

Untuk mengatasi hal tersebut, OJK memperkuat strategi sosialisasi dan edukasi agar masyarakat semakin yakin dan nyaman menggunakan layanan keuangan syariah.

Strategi OJK: UMKM, Digitalisasi, dan Integritas

Sebagai langkah konkret, OJK melakukan reorganisasi dengan membentuk Departemen Khusus UMKM dan Syariah. Langkah ini sejalan dengan fokus pemerintah dalam memperkuat sektor usaha kecil dan koperasi.

Selain itu, terdapat 4 kebijakan utama yang menjadi fokus pengembangan, yaitu optimalisasi kontribusi sektor jasa keuangan terhadap program prioritas nasional (Asta Cita), penguatan integritas untuk menjaga kepercayaan publik, pengembangan SDM dan teknologi informasi serta peningkatan inklusi melalui akses permodalan dan inovasi produk

Strategi ini dirancang untuk menjawab tantangan era digital sekaligus memperluas jangkauan layanan keuangan syariah.

Penguatan sektor keuangan syariah juga diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Beberapa fokus utamanya meliputi penciptaan lapangan kerja melalui pembiayaan UMKM, penguatan kualitas sumber daya manusia termasuk perempuan dan pemuda, serta pembangunan ekonomi berbasis desa guna mengurangi kesenjangan.

Pendekatan ini menempatkan keuangan syariah sebagai instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pesantren Jadi Motor Inklusi Keuangan Syariah

Salah satu inisiatif unggulan yang tengah dikembangkan adalah Ekosistem Keuangan Inklusif berbasis pesantren. OJK bekerja sama dengan Kementerian Agama meluncurkan Buku Saku Edukasi Keuangan Berbasis Agama (ESA).

Program ini diharapkan mampu meningkatkan literasi sekaligus inklusi keuangan syariah langsung dari akar rumput.

“InsyaAllah ini menjadi kontribusi yang memberikan manfaat nyata dan bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Friderica.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.